« Home | Menuju Umat Bersatu » | Sifat Jannah dan Para Penghuninya (5) Tammat » | Sifat Jannah dan Para Penghuninya (4) » | Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (3) » | Sifat Jannah dan Para Penghuninya (2) » | Sifat Jannah dan Para Penghuninya (1) » | Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (4) Tammat » | Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (3) » | Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (2) » | Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (1) » 

Thursday, December 08, 2005

Menuju Umat Bersatu

Jumat, 25 Nopember 2005

Menuju Umat Bersatu

Segala sesuatu itu ibda' binafsih, dimulai dari diri kita. Kalau kita hanya sibuk menuntut, maka itulah yang membuat kita tidak bisa berbuat banyak.

Nikmat bisa merasakan hidup bersama dengan sesama manusia itu indah. Karena ternyata banyak orang yang hidup dengan manusia bukannya indah tapi malah nestapa. Tentu bukan salah orang lain semata, tapi yang paling penting kita mulai berpikir mengapa kok bergaul dengan orang lain tidak seindah semestinya.

Guru kami, KH Khoer Affandi, pimpinan Pesantren Manonjaya, pernah bersyair, "Anu potong jang-jang jangkrik. Anu semplak suku jangkrik, anu ngajerit suku jangkrik, anu paeh jangkrik, anu surak nu ngadukennana. (Yang patah umat Islam, yang remuk umat Islam, yang sakit umat Islam, yang bersorak yang mengadukannya)".

Sama halnya dengan bangsa kita, sebagai negara yang umat Islamnya terbanyak di dunia, alamnya kaya, luas, maka kalau kita maju pasti ada orang yang tidak suka bagi yang hatinya kotor. Sebetulnya kita sengsara bukan karena hebatnya orang lain. Mereka memperlakukan kita, karena kita sendiri lemah. Maka dari pada sibuk memikirkan orang lain yang zhalim, lebih baik kita pikirkan bagaimana menjadi komponen yang bersatu. Beberapa kiat berikut mudah-mudahan dapat menjadi bahan renungan dalam mempersatukan umat.

Pertama, latihan berbeda pendapat. Kita lihat sebuah masjid yang begitu indah, kokoh dan megah. Penyebab pertama adalah karena bahan yang digunakan berbeda-beda. Ada semen, ada batu, bata, pasir, air, dan ada beton. Sayangnya, umat Islam belum terbiasa dengan beda-beda. Kita kalau berbeda pendapat itu dianggap musuh. Sahabatku, kita butuh pendapat yang berbeda supaya wawasan kita bertambah, serta bisa mengukur pendapat kita benar atau tidaknya. Kita pun butuh pendapat yang berbeda supaya kita makin kokoh dan makin kuat.

Wajar ketika anak berbeda pendapat dengan orang tua. Yang harus kita perhatikan adalah etikanya. Tidak mungkin orang tua sama dengan anak karena ukurannya beda. Sehingga orangtua harus siap berbeda pendapat dengan anak. Yang penting tujuannya sama. Kita jangan sampai terjebak. Berbeda pendapat bukan tanda permusuhan. Beda pendapat adalah wahana saling melengkapi.

Kedua, jangan suka menonjolkan diri. Wa'tashimu bihablillahi jami'a wala tafarraqu, untuk diakui jasa itu tidak usaha selalu kelihatan. Terkadang, kita ingin terlihat paling menonjol, paling hebat, dan paling penting. Kalau kita saling menonjolkan diri maka tidak akan bisa bersatu. Kita harus siap menerima kenyataan bahwa Islam itu begitu hebat dan begitu dahsyat. Diciptakan oleh Allah dari Nabi Adam sampai kiamat nanti, disempurnakan oleh risalah Rasulullah SAW. Itu mencakup peradaban dari zaman dulu, modern, hingga postmodern. Mana mungkin muat dalam kepala kita yang baru belajar Islam kemarin sore?

Maka, belajarlah untuk tidak harus menonjolkan diri. Kalau mau berjuang jadilah seperti besi beton dia tidak kelihatan tapi dia menguatkan, hasilnya semua orang mengakui. Orang ikhlas itu pandai menyembunyikan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan keburukannya. Imam Ali mengatakan, "Orang yang ikhlas maka sekecil apa pun kebaikannya, Allah yang membesar-besarkannya. Tapi orang yang riya dan pamer maka dia akan dihinakan oleh Allah dengan pamernya".

Ketiga, jangan meremehkan orang lain. Kita tidak bisa berbuat apa pun tanpa orang lain. Persatuan kita hanya akan teguh kalau budaya menghina itu sudah hilang pada diri kita. Daripada capek karena menghina orang lain lebih baik banyak berbuat memperbaiki orang lain, itu lebih menyelesaikan masalah. Karena kalau banyak omong maka omongan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Mulai sekarang berhentilah meremehkan orang lain. Karena pendek bikinan Allah, sipit bikinan Allah, makin tidak capek kita menghina makin gampang kita bersilaturahmi.

Keempat, mulai menuntut diri sendiri. Yang namanya ukhuwah tidak bisa didapat dengan menuntut orang lain. Persatuan itu syaratnya menuntut diri. Segala sesuatu itu ibda' binafsih, dimulai dari diri kita. Kalau kita hanya sibuk menuntut, maka itulah yang membuat kita tidak bisa berbuat banyak. Tuntutlah diri. Orang yang terlalu sibuk menuntut orang lain berbuat sesuatu, maka dialah yang binasa karena tuntutannya sendiri. Dalam situasi seperti sekarang, kita harus berbuat, berbuat dan berbuat karena itu yang akan kita dapatkan. Wallahu a'lam.

( KH Abdullah Gymnastiar )

E-mail this post



Remember me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...

Add a comment