Sifat Jannah dan Para Penghuninya (1)
| Sifat Jannah dan Para Penghuninya (1) |
| Category: | Other |
(1) Nabi Adalah Orang Pertama Yang Masuk Jannah
Allah berfirman :
"Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan." (QS. Az Zukhruf : 68-70).
Dari Anas bin Malik ra. Diriwayatkan bahwa dia berkata : „Rasulullah saw bersabda : „Aku mendatangi pintu Jannah pada hari kiamat nanti. Aku meminta pintunya agar dibuka. Penjaga pintu bertanya : „Siapa kamu?“ Aku menjawab : „Muhammad“. Penjaga itu berkata : „Karenamulah aku diperintahkan untuk tidak membukakan pintu untuk seorangpun sebelum kamu.“
(Shahih Muslim 188; Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi – Kaira 1373 H – 1955 M).
(2) Kriteria Rombongan Pertama Yang Masuk Jannah dan Jumlah Mereka
Dari Abu Hurairah ra. Diriwayatkan bahwa dia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk Jannah berwujud seperti bulan purnama. Yang datang sesudah mereka bagaikan bintang paling terang di langit (yakni bintang berukuran besar dan amat terang sekali). Mereka tidak pernah buang air kecil dalam Jannah dan tidak pernah buang air besar, bahkan juga tidak pernah mengeluarkan ingus dan tidak meludah. Sisir mereka terbuat dari emas dan bau keringat mereka seperti kasturi. Tungku mereka seperti kayu iluwwah (sejenis kayu wangi berasal dari India), dan isteri-isteri mereka adalah hurun ien. Akhlak mereka seperti akhlak satu orang yang sama, postur tubuh mereka seperti ayah mereka, yaitu Adam, yakni enam puluh hasta di langit. ”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari Bi Syarah Al-Bukhari VII : 175, Kairo 1378 H – 1959 M dan Shahih Muslim 2179).
Dari Abu Hazim, diriwayatkan bahwa dia berkata : Dari Sahal bin Saad ra. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : ”Di antara umatku ada tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu- Abu Hazim tidak ingat, mana di antara kedua jumlah itu yang benar – yang masuk Jannah dengan saling berpegangan tangan satu dengan yang lain. Yang pertama baru masuk setelah yang akhir juga ikut masuk. Wajah mereka bagaikan bulan purnama. ”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari XIV : 206 dan Shahih Muslim 198).
Dari Ibnu Abbas ra. Diriwayatkan bahwa dia berkata : ”Rasulullah saw bersabda : ”Aku diperlihatkan umat-umat seluruhnya. Kulihat ada nabi yang bersama segelintir pengikut. Ada nabi yang membawa satu atau dua orang pengikut. Kulihat juga nabi yang tidak ada pengikutnya satupun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku kelompok yang besar. Kukira itu adalah umatku. Ada suara memberitahukan. ”Itulah Musa bersama umatnya. Tetapi lihatlah ke arah ufuk yang lain.” Ternyata kulihat ada kelompok besar lainnya. Suara itu berkata lagi : ”Itulah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu yang masuk Jannah tanpa hisab dan tanpa siksa.” Kemudian beliau bangkit dan masuk ke rumahnya. Orang-orang berkumpul membicarakan tentang orang-orang yang masuk Jannah tanpa hisab dan siksa itu. Sebagian di antara mereka berkata : ”Kemungkinan mereka para Sahabat Rasulullah saw.” Sebagian lain berkata : ”Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang lahir dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Mereka menyebutkan banyak hal. Tiba-tiba keluarlah Rasulullah dan bertanya : ”Apa yang sedang mereka perbincangkan?” Mereka segera memberitahukan beliau. Beliau lalu bersabda :”Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah (**) dan tidak meminta ruqyah, tidak meramal dengan burung dan hanya kepada Rabb-nya, mereka bertawakkal.” Maka bangkitlah Ukasyah bin Mihshan dan berkata : ”Mohonlah kepada Allah, agar aku termasuk di antaranya.” Rasulullah bersabda : ”Engkau termasuk di antaranya. ” Maka seorang lelaki lain berdiri dan berkata : ”Mohonlah pula kepada Allah agar aku termasuk di antaranya.” Beliau bersabda : ”Engkau telah didahului oleh Ukasyah.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
** (Dalam riwayat lain dikatakan : Dan tidak melakukan pengobatan dengan kayy atau besi panas. Yakni tidak menggunakan besi panas itu pada tubuh untuk berobat.)
(Imam An-Nawawi menyatakan : ”Para ulama berbeda pendapat tentang arti hadits ini. Imam Abu Abdillah Al-Marizi menyatakan: ”Sebagian ulama menggunakan hadits ini untuk menyatakan makruhnya berobat. Namun pendapat mayoritas ulama tidak demikian. Mereka beralasan dengan banyak hadits di mana Nabi menyebutkan berbagai manfaat obat-obatan dan makanan, seperti habbah sauda (jintan hitam), bersikap pertengahan, bersabar dan lain-lain. Nabi saw juga berobat. Demikian juga Aisyah mengabarkan bahwa beliau banyak berobat. Demikian juga dengan berbagai cara ruqyah yang tersebut dalam hadits, yakni bahwa sebagian Shahabat mengambil ruqyah sebagai cara pengobatan dengan mengambil upah. Bila terbukti demikian, maka hadits itu ditafsirkan bahwa larangan itu berlaku bagi mereka yang berkeyakinan bahwa obat-obatan itu berkhasiat dengan sendirinya, tidak mengembalikan hasilnya kepada Allah. ” Abu Sulaiman Al-Khattabi dan ulama lain menyatakan bahwa maksudnya adalah bagi siapa yang meninggalkannya dengan bertawakkal kepada Allah, ridha dengan takdir dan cobaan-Nya.” Al-Khatabi berkata : ”Itulah derajat keimanan tertinggi.” Al-Qhadi Iyyadh menyatakan : ”Itulah zhahir dan konsekuensi hadits tersebut.” Demikianlah secara ringkas.
(Lihat Syarah Muslim III : 90) . Lihat Fathul Bari XIV : 198 dan Shahih Muslim 199. Shahih Muslim Bi Syarah An-Nawawi – Kaira- Cet. Al-Maktabah Al-Mishriyyah dan Maktabahnya).
Bersambung ke Sifat Jannah dan Para Penghuninya (2)
***
Dikutip dari :
Judul Asli : “Ahwaalul Qiyaamah”, Abdul Malik Ali Al-Kulaib, Maktabah Al-Ma`arif, Ar-Riyaadh.
Edisi Indonesia, “Huru-Hara di Hari Kiamat”, diterjemahkan oleh Abu Fuzhail, Penerbit At-Tibyan - Solo, Oktober 2001.