Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (4) Tammat
| Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (4) Tammat |
| Category: | Other |
Ibnul Qayyim menyatakan : “Ruh-ruh itu berbeda-beda sekali tempat tinggalnya di alam barzakh.”
Di antaranya adalah ruh-ruh yang berada di Illiyin , di Al-Mala Al-A`la , yakni ruhnya para Nabi `Alaihimas salaam . Tingkatan mereka juga berbeda-beda, sebagaimana yang disaksikan oleh Nabi saw pada malam Al-Isra’.
Ada lagi ruh-ruh yang berada dalam tembolok burung hijau yang beterbangan di Jannah sekehendak hati mereka, yakni ruh sebagian orang-orang yang mati syahid, tidak seluruhnya. Karena di antara yang mati syahid ada yang ruhnya terbelenggu dan tertahan untuk masuk Jannah, karena soal hutang atau yang lainnya, sebagaimana tercantum dalam riwayat Ahmad dalam Musnad-nya dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi saw, dan berkata : ”Wahai Rasulullah! Apa yang akan kudapatkan bila aku terbunuh di jalan Allah?” Nabi menjawab : “Jannah.” Ketika orang itu pergi, beliau meneruskan “Kecuali bila ada yang berhutang. Baru saja Jibril membisikkannya kepadaku.”
Ada juga ruh yang tertahan di pintu Jannah, sebagaimana dalam hadits lain : “Aku melihat sahabatmu tertahan di pintu Jannah.”
Ada juga ruh yang terkurung di kuburnya, seperti dalam hadits tentang pemilik selendang yang dia curi dari harta rampasan kaum muslimin, lalu ia mati syahid. Orang-orang berkata : “Sungguh senangnya ia masuk Jannah.” Nabi justru bersabda :
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya selendang yang dicurinya dari rampasan perang itu akan menyala sebagai api dalam kuburnya.”
Ada lagi ruh yang tempat tinggalnya di pintu Jannah, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas. “Orang-orang yang syahid berada dalam sungai berkilau di pintu Jannah dalam sebuah kemah hijau. Mereka diberi makan dari Jannah setiap pagi dan petang.” Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad. Namun berbeda lagi dengan Ja’far bin Abu Thalib yang kedua tangannya terputus Allah ganti dengan dua sayap yang dapat digunakan untuk terbang di Jannah sekehendak hati.
Ada juga ruh yang terkurung dalam tanah, sehingga tidak bisa naik ke Al-Mala Al-A`la, karena ruh itu memang ruh rendahan, ruh tanah. Jiwa “tanah” tidak akan dapat bersentuhan dengan jiwa langit, sebagaimana di dunia, kedua ruh itupun tidak dapat bertemu. Jiwa yang di dunia tidak pernah mendapatkan ma’rifat terhadap Rabb-nya, tidak pernah senang berdzikir kepada-Nya, tentram dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, namun justru akrab dengan bumi yang rendah (hidup keduniaan), setelah terlepas dari jasadnya ia akan kembali ke bumi juga. Sebagaimana jiwa yang tinggi, yang selama di dunia selalu beribadah kepada Allah, selalu cinta kepada-Nya, selalu berdzikir kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, tentram dan khusyu menghadap-Nya, maka pada saat berpisah dengan badan, ia akan bersatu dengan ruh-ruh tinggi yang sesuai dengannya. Orang akan dikumpulkan bersama idolanya di alam barzakh dan di hari akhir nanti. Ruh mukmin dikumpulkan dengan ruh yang baik, yakni ruh-ruh yang baik dan sejenis. Setelah berpisah dengan badan, ruh-ruh akan berkumpul bersama teman-teman sejenisnya, rekan-rekan dan sahabat-sahabat yang sama amalannya dengan mereka, di akhirat sana.
Ada juga ruh yang berada di tungku para pezina, lelaki dan perempuan. Ada juga ruh-ruh dalam sungai darah berenang di sana dan dijejali bebatuan. Jadi ruh-ruh yang berbahagia maupun yang celaka tidaklah berada dalam satu tempat. Bahkan ada ruh yang amat tinggi sekali di Illiyyin , namun ada juga yang rendah serendah-rendahnya hingga tidak dapat keluar dari perut bumi.”
Kemudian Ibnul Qoyyim berkata : “Kalau anda menelaah sunnah-sunnah dan atsar dalam persoalan ini dengan sungguh-sungguh, pasti anda akan mengetahui hujjah dalam persoalan tersebut. Anda tidak akan berprasangka bahwa di antara hadits dan atsar-atsar shahih dalam persoalan itu terdapat kontradiksi. Kesemuanya adalah benar, saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Namun yang menjadi persoalan adalah cara memahaminya, juga mengenal lebih jauh apa itu ruh dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya, bahwa ruh/jiwa itu memiliki berbagai hukum yang tidak terkait dengan badan. Meskipun ia berada di Jannah di atas langit, namun ia tetap berhubungan dengan alam kubur dan dengan badan di dalam kubur. Ruh dapat bergerak sangat cepat, berpindah, naik dan turun.
Ruh terbagi menjadi ruh yang bebas, yang terkurung, yang tinggi dan yang rendah. Setelah berpisah dengan badan, ia dapat merasakan sehat, sakit, kenikmatan dan kelezatan serta rasa pedih, lebih dari yang dapat dirasakan ketika masih bertaut dengan badan. Ada rasa terkurung, tersiksa, sakit, menyesal, ada juga perasaan enak, senang, nikmat dan bebas serta perasaan-perasaan lain. Betapa miripnya kondisi ruh dalam badannya itu dengan kondisi janin dalam perut ibunya, dan kondisi ruh itu setelah berpisah dari tubuh dengan kondisi anak setelah keluar dari perut ibunya ke alam dunia ini. Ruh memiliki empat fase, masing-masing fase lebih besar dari fase sebelumnya.
Fase pertama adalah masa dalam perut ibu. Itulah kondisi di mana ruh terkurung, merasa sempit, kelam dalam kegelapan yang tiga.
Fase kedua , di dunia, di mana ia dibesarkan mengenal dunia dan melakukan perbuatan baik dan jelek, serta berbagai penyebab kebahagiaan dan nasib celaka.
Fase ketiga , di alam barzakh, yakni di alam yang lebih luas dan lebih besar dari alam dunia ini. Bahkan perbandingan alam barzakh dengan alam dunia, seperti alam dunia dengan alam perut ibu.
Yang keempat , di alam yang kekal, yakni Jannah atau Naar. Tidak ada alam lain sesudahnya. Allah memindahkan ruh ke alam ini secara bertahap, hingga mencapai tempat tinggal yang hanya layak baginya dan tidak pantas untuk selainnya, yakni alam yang untuk ke alam itulah ia diciptakan, alam yang telah dipersiapkan baginya dengan beramal di dunia sehingga mendapatkannya.
Pada setiap alam, ruh memiliki persoalan dan hukum yang berbeda dari di alam lain. Maha Suci Allah yang telah menciptakan, menumbuhkan, membesarkan, menghidupkan, membahagiakan dan mencelakakan, yang membuat perbedaan tingkat di antara para ruh dalam kebahagiaan dan kecelakaan, sebagaimana Allah menciptakan tingkatan yang berbeda-beda dalam ilmu, amal, kekuatan dan akhlak. Barangsiapa yang mengenalnya dengan selayaknya, pasti ia bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, yang memiliki kekuasaan, yang memiliki segala pujian, yang ditangan-Nya segala kebaikan, kepada-Nyalah dikembalikan segala urusan, milik-Nya-lah segala kekuatan dan kemampuan, segala keperkasaan, segala hikmah, segala kesempurnaan yang absolut pada segala sisi, dan diapun akan mengenal batas dirinya, dan kebenaran para nabi serta para rasul, bahwa yang mereka bawa adalah kebenaran yang diakui oleh logika dan diakui pula oleh fitrah, selain itu adalah batil. Wa billahit Taufiq (Lihat kitab Ar-Ruh oleh Abu Abdillah Syamsuddien Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah – Beirut 1395 H – 1975 M, halaman 115-117).
***
Dikutip dari :
Judul Asli : “Ahwaalul Qiyaamah”, Abdul Malik Ali Al-Kulaib, Maktabah Al-Ma`arif, Ar-Riyaadh.
Edisi Indonesia, “Huru-Hara di Hari Kiamat”, diterjemahkan oleh Abu Fuzhail, Penerbit At-Tibyan - Solo, Oktober 2001.