Thursday, November 10, 2005 

Sifat Jannah dan Para Penghuninya (5) Tammat

Sifat Jannah dan Para Penghuninya (5) Tammat
for everyone
Category: Other
(14) Kenikmatan Para Penghuninya Adalah Abadi

Allah berfirman :
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”. (QS. An Nisaa' 4 : 57).

Dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman kepada Ahli Jannah : “Wahai para penghuni Jannah.” Mereka menjawab : “Baik, ya Rabbana, kami menyambut panggilan-Mu, segala kebaikan ada di tangan-Mu.” Allah bertanya : “Apakah kalian sudah senang?” Mereka menjawab : “Bagaimana kami tidak senang Engkau telah memberikan kepada kami apa-apa yang tidak pernah Engkau berikan kepada siapapun juga dari kalangan makhluk-Mu?” Allah bertanya lagi : “Maukah kalian Ku-berikan yang lebih utama dari semua ini?” Mereka balik bertanya : “Apa itu yang lebih utama dari semua ini, wahai Rabbana?” Allah berfirman : “Aku anugerahkan kepada kalian keridhaan-Ku, sehingga Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari XVI : 212 dan Shahih Muslim 2176).

Dari Abu Said Al-Khudri dan Abu Hurairah – Radhiyallahu ‘Anhuma - diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda : “Pada hari kiamat nanti akan datang panggilan : “Sesungguhnya kalian akan terus sehat dan tidak pernah sakit. Kalian akan tetap hidup dan tidak pernah mati selamanya. Kalian akan tetap muda dan tidak pernah tua lagi selamanya. Kalian akan tetap senang dan tidak akan pernah sengsara lagi selamanya.” Itulah arti firman Allah : ”ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (QS. Al A'raaf 7 : 49).
(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya : 2182).

Dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda : Barangsiapa yang masuk Jannah, ia akan senang dan tidak akan sengsara. Pakaiannya tidak akan rusak dan kemudaannya tidak akan pudar.”
(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya : 2181).

Dari Zaid bin Arqam ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya seorang lelaki penghuni Jannah diberi kekuatan seratus orang lelaki dalam makan, minum, berhubungan seks dan dalam syahwatnya.“ Ada seorang lelaki Yahudi berkata : “Kalau ia makan dan minum, pasti ia buang hajat.” Rasulullah menanggapi : “Dari kulitnya akan keluar keringat, dan tiba-tiba perutnya telah kosong. “
(Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam As-Sunan II- 334 dan dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Al-Misykaat III : 90).


(15) Kemuliaan Jannah Yang Paling Besar

Allah berfirman :
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al Qiyaamah 75 : 22-23).

Dari Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : „Rasulullah saw bersabda : „Apabila Ahli Jannah telah masuk Jannah, Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman : “Apakah menginginkan tambahan?” Mereka menjawab : “Bukankah Engkau telah menjadikan wajah kami sudah menjadi putih cerah?” Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke Jannah dan menyelamatkan kami dari Naar?” Rasulullah bersabda : “Maka Dia menyingkapkan hijab. Tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka sukai daripada melihat wajah Rabb-nya Azza wa Jalla. ”
(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya. Dalam riwayat lain ditambahkan : “Kemudian beliau membaca ayat berikut : “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya”. (QS. Yunus 10 : 26).
Ket : Yang dimaksud dengan tambahannya ialah kenikmatan melihat Allah.

***
Dikutip dari :
Judul Asli : “Ahwaalul Qiyaamah”, Abdul Malik Ali Al-Kulaib, Maktabah Al-Ma`arif, Ar-Riyaadh.
Edisi Indonesia, “Huru-Hara di Hari Kiamat”, diterjemahkan oleh Abu Fuzhail, Penerbit At-Tibyan - Solo, Oktober 2001.

 

Sifat Jannah dan Para Penghuninya (4)

ReviewReviewReviewReviewSifat Jannah dan Para Penghuninya (4)

Category:Other
(11) Bentuk Istana-Istananya

Allah berfirman :
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS. At Taubah : 72).

Dari Jabir bin Abdullah ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : „Rasulullah bersabda : „Aku pernah masuk Jannah. Tiba-tiba kulihat istana terbuat dari emas. Aku bertanya : “Untuk siapa istana ini?” Yang hadir di situ menjawab : “Untuk seseorang dari Quraisy.” Aku segan memasukinya, hanya karena aku khawatir engkau akan cemburu, wahai Ibnul Khattab.” Umar berkata : “Apakah pantas aku cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari XVI : 75 dan Shahih Muslim 1862).

(12) Bentuk Sungai-Sungainya


Allah berfirman :
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah..” (QS. Al Kahfi : 30-31)

Allah berfirman :
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?“ (QS. Muhammad : 15).

Dari Anas bin Malik ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Aku pernah masuk Jannah. Tiba-tiba kulihat sungai yang di pinggirnya terdapat kemah-kemah dari mutiara. Aku memukulkan tanganku ke airnya yang mengalir. Ternyata ia adalah kasturi yang harum. Aku bertanya : “Apa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab : “Itulah Al-Kautsar yang diberikan Allah kepadamu.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad III : 103 dan dishahihkan oleh Al-Albani (Shahihul Jamie’ III : 141. Aslinya ada dalam Shahih Al-Bukhari. Lihat Fathul Bari X : 362).


(13) Bentuk Hurun `Ien (Bidadari-Bidadari Surga)

Allah berfirman :
“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik (QS. Ash Shaaffaat 37 : 48-49).

Ket :
Maksudnya tidak liar pandangannya adalah yang suci dan tidak liar matanya memandang kepada selain suaminya.
Maksudnya seperti telur burung unta adalah seperti telur yang putih bersih, tidak ada orang yang memecahkan kulitnya. Wallahu’alam.

Allah berfirman :
“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.” (QS. Ar Rahmaan 55 : 72).

Ket :
Maksudnya dipingit adalah terkurung dalam kemah-kemah mutiara, hanya menginginkan suami mereka saja, tidak tertarik kepada yang lainnya.

Dari Anas bin Malik ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : Rasulullah saw bersabda : „Sepetang atau sepagi di jalan Allah itu lebih baik daripada dunia dan isinya. Bahkan ujung busur atau tempat cemeti salah seorang di antaramu di Jannah nanti lebih baik daripada dunia dan seisinya. Kalau salah seorang wanita Jannah itu melongok ke dunia ini, pasti ia dapat menyinari semuanya, dan semerbak wanginya akan memenuhi semuanya, dan semerbak wanginya akan memenuhi bumi ini. Sungguh, kerudung di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya. Lihat Fathul Bari VI : 355).

Ket : Sepetang maksudnya keluar di waktu sore hingga waktu maghrib. Adapun di pagi hari, yakni mulai dari awal siang hingga pertengahan siang.

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw, beliau bersabda :
„Seorang mukmin di Jannah nanti diberi kekuatan segini dan segini dalam berhubungan badan (seksual). Ada yang bertanya : „Wahai Rasulullah, apakah ia mampu melakukannya?“ Beliau menjawab : „Ia diberi kekuatan seratus kali lipat.“
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam As-Sunan dan dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Misyakul Mashabih III : 90).

Dari Abdullah bin Umar ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : „Rasulullah saw bersabda : „Sesungguhnya isteri-isteri para penghuni Jannah akan menyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara terbaik yang pernah didengar seseorang. Di antara nyanyian itu adalah : “Kami adalah wanita-wanita terbaik lagi cantik jelita, isteri-isteri dari kaum suami yang mulia, memandang dengan pandangan yang menyenangkan.” Di antara nyanyian lain : “Kami adalah wanita-wanita abadi, tidak akan mati selamanya. Kami adalah para wanita yang membawa rasa aman, tidak akan merasa khawatir selamanya. Kami adalah para wanita yang tentram, tidak akan kesusahan selamanya.”
(Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Awsath dan dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Shahihul Jamie’ II : 48).

Dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah ditanya : “Wahai Rasulullah! Apakah kita akan berhubungan dengan isteri-isteri di Jannah nanti?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya seorang lelaki di Jannah nanti akan berhubungan badan dengan seratus perawan sehari.”
(Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Shifatul Jannah. Adh-Dhiyya’ Al-Maqdisi menyatakan: “Para perawinya menurut saya memenuhi persyaratan Al-Bukhari dan Muslim dan Al-Albani menyetujuinya.” Al-Ahadits Ash-Shahihah 367).

Bersambung ke Sifat Jannah dan Para Penghuninya (5)

 

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (3)

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (3)

Category:Other
(5) Bentuk-Bentuk Siksa Kubur

Dari Samurah bin Jundub ra. diriwayatkan bahwa ia berkata : “Rasulullah saw sering bertanya kepada para Sahabatnya : “Adakah seorang di antara kalian yang bermimpi?” Biasanya sahabat juga ada yang menceritakan mimpinya. Suatu pagi, beliau berkata kepada kami : “Sesungguhnya tadi malam aku didatangi dua orang. Keduanya membangunkan diriku dan berkata : “Ayo berangkat!” Akupun berangkat bersama mereka berdua. Tiba-tiba kami menemui orang yang sedang berbaring. Tiba-tiba pula ada orang lain yang berdiri di mukanya dengan membawa batu besar (ket : yakni sejenis besi yang ujungnya bengkok). Batu itu dihantamkan ke kepala orang tersebut, lalu menggelindinglah batu itu hingga terjatuh. Lalu ia mengambil kembali batu itu, namun tidaklah dia mendatanginya, sehingga kepalanya utuh seperti semula. Barulah ia mengulangi lagi perbuatannya seperti yang pertama.

Rasulullah melanjutkan : Aku bertanya kepada mereka berdua : “Subhanallah, apa arti semua ini?” Mereka berdua menjawab : “Ayo, kita berangkat saja.” Kamipun berangkat, dan menemui seorang lelaki yang sedang berbaring. Tiba-tiba ada lelaki lain yang membawa jangkar besi. Ternyata ia mendekati salah satu pipinya dan membelah sudut mulut hingga ke belakang kepalanya, demikian juga dengan hidungnya hingga ke belakang kepalanya.”

Perawi menyatakan : “Bisa jadi Abu Rajaa menyebutkan : “Lalu ia membelahnya menjadi dua.” Kemudian ia menghadap ke bagian pipi sebelahnya dan memperlakukannya seperti pipi sebelumnya. Belum selesai ia melakukan perbuatannya itu, pipi yang pertama sudah pulih seperti sediakala. Kemudian ia mengulangi perbuatannya itu. Aku kembali bertanya : “Subhanallah! Apa arti semua ini?” Mereka berdua kembali menanggapi : “Ayo, kita berangkat lagi.”

Berangkatlah kami, hingga menjumpai tungku.” Perawi menyatakan : “Kemungkinan Rasulullah saw mengatakan : “Di dalamnya terdapat ribut-ribut dan suara keras. Kami melongok, ternyata terdapat kaum lelaki dan wanita telanjang. Tiba-tiba datanglah luapan api dari arah bawah mereka. Ketika api mendekati mereka, mereka berteriak keras (ket : yakni berteriak ketakutan). “

Nabi melanjutkan : “Aku bertanya : “Siapakah mereka itu?” Mereka berdua menjawab : “Sudah, berangkat saja.” Berangkatlah kami hingga menjumpai sungai.” Perawi berkata : “Aku mengira, beliau bersabda : “Warnanya merah seperti darah. Ternyata dalam sungai itu terdapat seorang lelaki lain di tepi sungai, dengan membawa batu dalam jumlah banyak. Ketika lelaki pertama sedang berenang, segera didatangi oleh lelaki yang membawa batu-batuan tadi, ia membuka mulutnya dan menjejalinya dengan satu batu.” Rasulullah melanjutkan : “Aku bertanya : “Apa arti semua ini?” Keduanya kembali berkata :”Sudah, ayo kita berangkat. “ Maka berangkatlah kami hingga bertemu dengan seorang lelaki yang buruk rupa, sebagaimana lelaki terjelek yang engkau lihat. Di sisi lelaki itu terdapat api yang dia sedang menyalakannya dan dia berjalan di sekitarnya (ket : yakni seolah-olah membuka mulutnya). Rasululllah melanjutkan : “Aku kembali bertanya : “Apa arti semua ini?” Keduanya kembali berkata : “Sudah, ayo kita berangkat.” Maka berangkatlah kami hingga bertemu dengan kebun yang berisi pohon-pohon tinggi, segala macam bunga musim semi ada di situ. Tiba-tiba di depan kebun itu muncul lelaki tinggi, hampir tidak terlihat kepalanya karena tingginya menjulang ke langit. Ternyata pula di sekeliling lelaki itu ada anak-anak kecil yang belum pernah kulihat sebelumnya.” “Aku bertanya : “Apa arti semua ini?” Keduanya kembali berkata : “Sudah, ayo kita berangakt.”

Maka berangkatlah kami hingga kami menemui sebuah kebun besar, belum pernah kulihat kebun sebesar dan seindah itu.” Mereka berdua berkata : “Naiklah.” Akupun naik ke kebun tersebut, hingga kami sampai ke sebuah kota yang dibangun dari batu bata emas dan perak. Kami mendatangi pintu kota itu dan meminta dibukakan. Dibukakanlah pintu itu untuk kami, dan kamipun masuk lalu berjumpa dengan beberapa orang lelaki. Separuh tubuhnya sebagai yang paling rupawan yang pernah kami lihat.”

Rasulullah saw melanjutkan : “Kedua malaikat itu berkata kepada para lelaki tersebut : “Pergilah kalian dan mandilah dalam sungai itu.” Rasulullah saw melanjutkan : “Ternyata di hadapan mereka itu ada sungai berair putih jernih. Mereka pergi menceburkan diri ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada kami, dan bagian buruk pada tubuh mereka sudah lenyap, sehingga mereka tampak sebagai kaum lelaki yang paling rupawan.” Nabi melanjutkan : “Kedua malaikat itu berkata : “Inilah Jannah ‘Adn, dan itulah tempat tinggalmu.” Aku mengangkat pandangan mataku, tiba-tiba kulihat istana bagaikan awan putih. Kedua malaikan itu berkata lagi : “Inilah tempat tinggalmu.” Aku membalas : “Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian berdua. Biarkan aku memasukinya. Keduanya berkata lagi :”Kalau sekarang, tidak, tetapi engkau akan memasukinya.”

Nabi bersabda :”Dari semalam, aku sudah melihat yang aneh-aneh, apa sebenarnya yang kulihat itu?” Mereka berdua menjawab : “Kami akan memberitahukanmu. Adapun lelaki pertama yang kita temui sedang dipecahkan kepalanya dengan batu, adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an lalu menolaknya. Ia juga orang yang meninggalkan shalat wajib. Sedangkan lelaki yang engkau temui sedang dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepalanya, demikan juga hidung dan kedua matanya, adalah lelaki yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta, dan kedustaannya itu mencapai ufuk. Sementara kaum lelaki dan perempuan telanjang yang berada dalam bangunan menyerupai tungku, mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan. Adapun lelaki yang ditemui sedang mandi di sungai lalu dijejali batu, adalah pemakan riba. Sedangkan lelaki yang buruk rupa yang menyalakan api di sekitarnya, adalah malaikat penjaga jahannam. Sementara lelaki yang tinggi di kebun adalah Nabi Ibrahim as. Dan anak-anak kecil di sekitarnya adalah setiap anak yang meninggal dalam fitrahnya. “

Sebagian Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan anak-anak orang musyrikin?” Beliau menjawab : “Demikian juga dengan anak-anak kaum musyrikin.” Adapun kaum lelaki yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek, adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka. “


(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya. Dalam riwayat lain disebutkan sebagian siksa kubur dengan jelas, juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar XVI : 99. Nabi saw bersabda : “(Kedua malaikat itu berkata) : “Sedangkan orang yang ujung mulutnya dibelah, adalah pendusta yang menyampaikan kedustaan lalu disebarkan hingga mencapai berbagai penjuru tempat. Demikianlah mereka diperlakukan sebagaimana yang engkau lihat, hingga hari kiamat. Sedangkan lelaki yang dipecahkan kepalanya, adalah orang yang diajarkan oleh Allah tentang Al-Qur’an, di malam hari ia tidak membacanya dan di siang hari ia tidak mengamalkannya. Demikianlah ia diperlakukan hingga hari kiamat...” (Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar II : 495).

Dari Anas bin Malik ra. diriwayatkan bahwa ia berkata : „Rasulullah saw bersabda : „Ketika Allah memperjalankan diriku untuk mi’raj, aku melihat satu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka.” Aku bertanya : “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Jibril menjawab :
“Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad III : 224 dan disahihkan oleh Al-Albani, Shahihul Jami`ish Shaghier V : 51).

Bersambung ke Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (4)

 

Sifat Jannah dan Para Penghuninya (2)

Sifat Jannah dan Para Penghuninya (2)
for everyone
Category: Other
(3) Tentang Derajat Kemuliaan Bagi Penghuni Jannah Terendah dan Tertinggi

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah secara marfu` dari Rasulullah saw. Diriwayatkan bahwa beliau bersabda : “Musa pernah bertanya kepada Rabbnya : “Apakah derajat terendah penghuni Jannah?” Allah berfirman : “Ia adalah bagi seseorang yang dimasukkan Jannah, setelah penghuni Jannah lainnya masuk terlebih dahulu. Dikatakan kepadanya : “Masuklah ke Jannah.” Ia bertanya : “Ya Rabbi! Bagaimana caranya? Semua orang telah sampai ke tempat tinggal mereka dan mengambil kemuliaan yang mereka peroleh.” Allah bertanya :”Maukah engkau memiliki yang dimiliki oleh raja di raja di dunia?” Orang itu menjawab : “Aku mau ya Rabbi.” Allah berfirman : “Engkau akan mendapatkannya, ditambah yang sama dengannya, yang sama lagi dengannya, dan yang sama lagi dengannya.” Pada kali yang kelima orang itu berkata : “Aku sudah senang menerimanya, ya Rabbi.” Allah berfirman : “Engkau mendapatkannya ditambah dengan sepuluh kali lagi yang senilai dengannya, dan segala yang menyenangkan dirimu dan indah dalam pandanganmu.” Orang itu berkata : “Ya Rabbi! Aku sudah senang menerimanya.” Musa bertanya lagi : “Lalu apa derajat tertinggi penghuni Jannah?” Allah berfirman : “Bagi mereka yang memang Aku kehendaki. Aku menanamkan kemuliaan untuk mereka dengan tangan-Ku dan Ku-rahasiakan sendiri, kemuliaan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” Nabi bersabda : “Buktinya ada dalam Kitabullah : “Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan mata..” (As-Sajdah : 17).
(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya).

(4) Tentang Pintu-Pintu Jannah

Pintu Jannah berjumlah delapan. Jarak antara satu pintu dengan pintu yang lain sebagaimana jarak antara Mekah dengan Hajar, atau antara Mekah dengan Bushra. Masing-masing orang shalih akan dipanggil sesuai dengan ibadah sunnah yang dia lakukan. Orang yang suka bersedekah, akan dipanggil melalui melalui pintu sedekah. Orang yang suka melakukan shaum, akan dipanggil melalui pintu Rayyan. Demikian juga ada kaum yang dipanggil melalui semua pintu-pintu tersebut. Kemungkinan mereka adalah As-Sabiqun.

Allah berfirman :
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya." (QS. Az Zumar 39 : 73).

Allah juga berfirman :
“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik”. (QS. Shaad 38 : 49).

Dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa menginfakkan satu (pasang) di jalan Allah, akan dipanggil dari beberapa pintu Jannah : “Wahai hamba Allah, ini adalah kebajikan. Barangsiapa yang menunaikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang suka berjihad akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa suka melakukan shaum, akan dipanggil melalui pintu Ar-Rayyan. Dan barangsiapa yang suka bersedekah, akan dipanggil melalui pintu sedekah.” Abu Bakar ra. bertanya : “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, orang yang dipanggil melalui pintu-pintu itu tentu tidak mendapatkan mudharat. Adakah orang yang dipanggil melalui semua pintu-pintu tersebut?” Beliau menjawab : “Ya. Aku berharap engkau termasuk di antaranya.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari V : 13 Shahih Muslim 712).

(5) Tingkatan-Tingkatan Jannah

Tingkatan-tingkatan Jannah banyak sekali. Jarak antara tingkat yang satu dengan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Di antaranya ada seratus tingkatan yang diberikan kepada kaum mujahidin, dan tingkatan-tingkatan lain diberikan kepada kaum mukminin dan alim ulama.

Allah berfirman :
”Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)...” (QS. Thaahaa 20 : 75).

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mujaadilah 58 : 11).

Allah Azza wa Jalla berfirman :
”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nisaa' 4 : 95-96).

Dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa dia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, melakukan shaum Ramadhan, maka Allah berkah untuk memasukkannya ke dalam Jannah, baik ia berjihad fi sabilillah ataupun berdiam di kampung halamannya di mana ia dilahirkan.” Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah! Bolehkah kami sampaikan kabar gembira ini kepada kaum muslimin?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya di Jannah itu ada seratus tingkatan yang dipersiapkan oleh Allah untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara satu tingkat dengan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Bila kalian meminta kepada Allah, mintalah Jannah Al-Firdaus . Karena ia adalah Jannah yang terbaik dan yang tertinggi.” Beliau melanjutkan : ”Di atasnya terdapat Arsy Ar-Rahman. Dari situlah mengalir sungai-sungai Jannah.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya. Lihat Fathul Bari VI : 351).

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash diriwayatkan bahwa ia berkata :“Rasulullah saw bersabda : „Kepada orang suka membaca Al Qur’an, nanti akan dikatakan : „Bacalah, naiklah dan ucapkan dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil ketika di dunia. Kedudukanmu adalah pada ayat terakhir yang engkau baca.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad II : 192 dan dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Shahihul Jamie` VI : 349).

(6) Kamar-Kamarnya Tinggi

Allah berfirman :
”Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya”. (QS. Az Zumar 39 : 20).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. diriwiyatkan bahwa dia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya para penghuni Jannah saling melihat para penghuni kamar di atas mereka, sebagaimana mereka melihat bintang-bintang cemerlang di langit yang bergelantungan untuk tenggelam di ufuk arah timur atau barat, karena adanya perbedaan keutamaan di antara mereka.” Para Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah! Bukankah kedudukan para Nabi tidak akan dicapai orang lain?” Beliau menjawab : “Benar. Namun dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.”
(Lihat Fathul Bari VII : 137 dan Shahih Muslim 2177).

(7) Makanan Para Penghuni Jannah

"Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. . Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan.” (QS. Az Zukhruf 43 : 68-73)

“Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian." (QS. Al Waaqi'ah 56 : 10-40).

Dari Jabir bin Abdulllah ra. diriwayatkan bahwa dia berkata :”Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya para penghuni Jannah itu makan dan minum, tetapi tidak meludah, tidak buang air kecil atau besar dan tidak membuang ingus.” Para Sahabat bertanya : “Bagaimana jadinya makanan yang mereka telan?” Beliau menjawab : “Akan menjadi sendawa dan bau wangi seperti kasturi. Mereka diilhami untuk bertasbih dan bertahmid, sebagaimana mereka bernafas."
(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 2180).

Bersambung ke Sifat Jannah dan Para Penghuninya (3)

 

Sifat Jannah dan Para Penghuninya (1)

Sifat Jannah dan Para Penghuninya (1)

Category:Other
Inilah negeri orang-orang yang dianugerahi kenikmatan dari kalangan para nabi, shiddiq, para syahid dan orang-orang shalih, negeri yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, negeri yang istana-istananya berbatu-bata emas, berbatu-bata perak, berplester kasturi wangi, berlahan subur mutiara dan yaqut . Tanahnya berasal dari za’faran , dan kemah-kemahnya berasal dari mutiara berlubang. Wallahi, ia adalah negeri yang berkilau kemilau dan berbau semerbak, dengan sungai yang terus mengalir dan buah-buahan bersusun-susun hijau, serta isteri-isteri nan cantik jelita. Di sana ada pohon sidr yang tidak berduri, buah pisang yang bersusun-susun, pohon rindang membentang dan air yang tertuangkan. Di sana, wahai hamba Allah, mereka makan dan bersenang-senang, tidak pernah mengeluarkan ingus dan tidak pernah buang air, hanya mengeluarkan bau kasturi. Di sana mereka tertawa dan tidak pernah menangis. Di sana mereka menetap dan tidak pernah pindah. Di sana mereka hidup dan tidak pernah mati. Di sana wajah-wajah tertawa dan cerah. Di sana terdapat keindahan yang nyata dan hurun ien (bidadari surga). Di sana terdapat kesenangan abadi. Di sana segala sesuatu indah. Di sanalah hijab akan tersingkap, dan merekapun melihat wajah Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi. Di sanalah wahai hamba Allah, terdapat sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

(1) Nabi Adalah Orang Pertama Yang Masuk Jannah

Allah berfirman :
"Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan." (QS. Az Zukhruf : 68-70).

Dari Anas bin Malik ra. Diriwayatkan bahwa dia berkata : „Rasulullah saw bersabda : „Aku mendatangi pintu Jannah pada hari kiamat nanti. Aku meminta pintunya agar dibuka. Penjaga pintu bertanya : „Siapa kamu?“ Aku menjawab : „Muhammad“. Penjaga itu berkata : „Karenamulah aku diperintahkan untuk tidak membukakan pintu untuk seorangpun sebelum kamu.“
(Shahih Muslim 188; Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi – Kaira 1373 H – 1955 M).

(2) Kriteria Rombongan Pertama Yang Masuk Jannah dan Jumlah Mereka

Dari Abu Hurairah ra. Diriwayatkan bahwa dia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk Jannah berwujud seperti bulan purnama. Yang datang sesudah mereka bagaikan bintang paling terang di langit (yakni bintang berukuran besar dan amat terang sekali). Mereka tidak pernah buang air kecil dalam Jannah dan tidak pernah buang air besar, bahkan juga tidak pernah mengeluarkan ingus dan tidak meludah. Sisir mereka terbuat dari emas dan bau keringat mereka seperti kasturi. Tungku mereka seperti kayu iluwwah (sejenis kayu wangi berasal dari India), dan isteri-isteri mereka adalah hurun ien. Akhlak mereka seperti akhlak satu orang yang sama, postur tubuh mereka seperti ayah mereka, yaitu Adam, yakni enam puluh hasta di langit. ”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari Bi Syarah Al-Bukhari VII : 175, Kairo 1378 H – 1959 M dan Shahih Muslim 2179).

Dari Abu Hazim, diriwayatkan bahwa dia berkata : Dari Sahal bin Saad ra. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : ”Di antara umatku ada tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu- Abu Hazim tidak ingat, mana di antara kedua jumlah itu yang benar – yang masuk Jannah dengan saling berpegangan tangan satu dengan yang lain. Yang pertama baru masuk setelah yang akhir juga ikut masuk. Wajah mereka bagaikan bulan purnama. ”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari XIV : 206 dan Shahih Muslim 198).

Dari Ibnu Abbas ra. Diriwayatkan bahwa dia berkata : ”Rasulullah saw bersabda : ”Aku diperlihatkan umat-umat seluruhnya. Kulihat ada nabi yang bersama segelintir pengikut. Ada nabi yang membawa satu atau dua orang pengikut. Kulihat juga nabi yang tidak ada pengikutnya satupun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku kelompok yang besar. Kukira itu adalah umatku. Ada suara memberitahukan. ”Itulah Musa bersama umatnya. Tetapi lihatlah ke arah ufuk yang lain.” Ternyata kulihat ada kelompok besar lainnya. Suara itu berkata lagi : ”Itulah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu yang masuk Jannah tanpa hisab dan tanpa siksa.” Kemudian beliau bangkit dan masuk ke rumahnya. Orang-orang berkumpul membicarakan tentang orang-orang yang masuk Jannah tanpa hisab dan siksa itu. Sebagian di antara mereka berkata : ”Kemungkinan mereka para Sahabat Rasulullah saw.” Sebagian lain berkata : ”Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang lahir dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Mereka menyebutkan banyak hal. Tiba-tiba keluarlah Rasulullah dan bertanya : ”Apa yang sedang mereka perbincangkan?” Mereka segera memberitahukan beliau. Beliau lalu bersabda :”Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah (**) dan tidak meminta ruqyah, tidak meramal dengan burung dan hanya kepada Rabb-nya, mereka bertawakkal.” Maka bangkitlah Ukasyah bin Mihshan dan berkata : ”Mohonlah kepada Allah, agar aku termasuk di antaranya.” Rasulullah bersabda : ”Engkau termasuk di antaranya. ” Maka seorang lelaki lain berdiri dan berkata : ”Mohonlah pula kepada Allah agar aku termasuk di antaranya.” Beliau bersabda : ”Engkau telah didahului oleh Ukasyah.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).


** (Dalam riwayat lain dikatakan : Dan tidak melakukan pengobatan dengan kayy atau besi panas. Yakni tidak menggunakan besi panas itu pada tubuh untuk berobat.)

(Imam An-Nawawi menyatakan : ”Para ulama berbeda pendapat tentang arti hadits ini. Imam Abu Abdillah Al-Marizi menyatakan: ”Sebagian ulama menggunakan hadits ini untuk menyatakan makruhnya berobat. Namun pendapat mayoritas ulama tidak demikian. Mereka beralasan dengan banyak hadits di mana Nabi menyebutkan berbagai manfaat obat-obatan dan makanan, seperti habbah sauda (jintan hitam), bersikap pertengahan, bersabar dan lain-lain. Nabi saw juga berobat. Demikian juga Aisyah mengabarkan bahwa beliau banyak berobat. Demikian juga dengan berbagai cara ruqyah yang tersebut dalam hadits, yakni bahwa sebagian Shahabat mengambil ruqyah sebagai cara pengobatan dengan mengambil upah. Bila terbukti demikian, maka hadits itu ditafsirkan bahwa larangan itu berlaku bagi mereka yang berkeyakinan bahwa obat-obatan itu berkhasiat dengan sendirinya, tidak mengembalikan hasilnya kepada Allah. ” Abu Sulaiman Al-Khattabi dan ulama lain menyatakan bahwa maksudnya adalah bagi siapa yang meninggalkannya dengan bertawakkal kepada Allah, ridha dengan takdir dan cobaan-Nya.” Al-Khatabi berkata : ”Itulah derajat keimanan tertinggi.” Al-Qhadi Iyyadh menyatakan : ”Itulah zhahir dan konsekuensi hadits tersebut.” Demikianlah secara ringkas.

(Lihat Syarah Muslim III : 90) . Lihat Fathul Bari XIV : 198 dan Shahih Muslim 199. Shahih Muslim Bi Syarah An-Nawawi – Kaira- Cet. Al-Maktabah Al-Mishriyyah dan Maktabahnya).

Bersambung ke Sifat Jannah dan Para Penghuninya (2)

***
Dikutip dari :
Judul Asli : “Ahwaalul Qiyaamah”, Abdul Malik Ali Al-Kulaib, Maktabah Al-Ma`arif, Ar-Riyaadh.
Edisi Indonesia, “Huru-Hara di Hari Kiamat”, diterjemahkan oleh Abu Fuzhail, Penerbit At-Tibyan - Solo, Oktober 2001.

 

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (4) Tammat

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (4) Tammat

Category:Other
(6) Penjelasan Tempat Tinggal Ruh Antara Kematiannya Hingga Hari Kiamat dan Perbedaan Tingkatannya


Ibnul Qayyim menyatakan : “Ruh-ruh itu berbeda-beda sekali tempat tinggalnya di alam barzakh.”

Di antaranya adalah ruh-ruh yang berada di Illiyin , di Al-Mala Al-A`la , yakni ruhnya para Nabi `Alaihimas salaam . Tingkatan mereka juga berbeda-beda, sebagaimana yang disaksikan oleh Nabi saw pada malam Al-Isra’.

Ada lagi ruh-ruh yang berada dalam tembolok burung hijau yang beterbangan di Jannah sekehendak hati mereka, yakni ruh sebagian orang-orang yang mati syahid, tidak seluruhnya. Karena di antara yang mati syahid ada yang ruhnya terbelenggu dan tertahan untuk masuk Jannah, karena soal hutang atau yang lainnya, sebagaimana tercantum dalam riwayat Ahmad dalam Musnad-nya dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi saw, dan berkata : ”Wahai Rasulullah! Apa yang akan kudapatkan bila aku terbunuh di jalan Allah?” Nabi menjawab : “Jannah.” Ketika orang itu pergi, beliau meneruskan “Kecuali bila ada yang berhutang. Baru saja Jibril membisikkannya kepadaku.”
Ada juga ruh yang tertahan di pintu Jannah, sebagaimana dalam hadits lain : “Aku melihat sahabatmu tertahan di pintu Jannah.”

Ada juga ruh yang terkurung di kuburnya, seperti dalam hadits tentang pemilik selendang yang dia curi dari harta rampasan kaum muslimin, lalu ia mati syahid. Orang-orang berkata : “Sungguh senangnya ia masuk Jannah.” Nabi justru bersabda :
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya selendang yang dicurinya dari rampasan perang itu akan menyala sebagai api dalam kuburnya.”

Ada lagi ruh yang tempat tinggalnya di pintu Jannah, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas. “Orang-orang yang syahid berada dalam sungai berkilau di pintu Jannah dalam sebuah kemah hijau. Mereka diberi makan dari Jannah setiap pagi dan petang.” Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad. Namun berbeda lagi dengan Ja’far bin Abu Thalib yang kedua tangannya terputus Allah ganti dengan dua sayap yang dapat digunakan untuk terbang di Jannah sekehendak hati.

Ada juga ruh yang terkurung dalam tanah, sehingga tidak bisa naik ke Al-Mala Al-A`la, karena ruh itu memang ruh rendahan, ruh tanah. Jiwa “tanah” tidak akan dapat bersentuhan dengan jiwa langit, sebagaimana di dunia, kedua ruh itupun tidak dapat bertemu. Jiwa yang di dunia tidak pernah mendapatkan ma’rifat terhadap Rabb-nya, tidak pernah senang berdzikir kepada-Nya, tentram dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, namun justru akrab dengan bumi yang rendah (hidup keduniaan), setelah terlepas dari jasadnya ia akan kembali ke bumi juga. Sebagaimana jiwa yang tinggi, yang selama di dunia selalu beribadah kepada Allah, selalu cinta kepada-Nya, selalu berdzikir kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, tentram dan khusyu menghadap-Nya, maka pada saat berpisah dengan badan, ia akan bersatu dengan ruh-ruh tinggi yang sesuai dengannya. Orang akan dikumpulkan bersama idolanya di alam barzakh dan di hari akhir nanti. Ruh mukmin dikumpulkan dengan ruh yang baik, yakni ruh-ruh yang baik dan sejenis. Setelah berpisah dengan badan, ruh-ruh akan berkumpul bersama teman-teman sejenisnya, rekan-rekan dan sahabat-sahabat yang sama amalannya dengan mereka, di akhirat sana.

Ada juga ruh yang berada di tungku para pezina, lelaki dan perempuan. Ada juga ruh-ruh dalam sungai darah berenang di sana dan dijejali bebatuan. Jadi ruh-ruh yang berbahagia maupun yang celaka tidaklah berada dalam satu tempat. Bahkan ada ruh yang amat tinggi sekali di Illiyyin , namun ada juga yang rendah serendah-rendahnya hingga tidak dapat keluar dari perut bumi.”

Kemudian Ibnul Qoyyim berkata : “Kalau anda menelaah sunnah-sunnah dan atsar dalam persoalan ini dengan sungguh-sungguh, pasti anda akan mengetahui hujjah dalam persoalan tersebut. Anda tidak akan berprasangka bahwa di antara hadits dan atsar-atsar shahih dalam persoalan itu terdapat kontradiksi. Kesemuanya adalah benar, saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Namun yang menjadi persoalan adalah cara memahaminya, juga mengenal lebih jauh apa itu ruh dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya, bahwa ruh/jiwa itu memiliki berbagai hukum yang tidak terkait dengan badan. Meskipun ia berada di Jannah di atas langit, namun ia tetap berhubungan dengan alam kubur dan dengan badan di dalam kubur. Ruh dapat bergerak sangat cepat, berpindah, naik dan turun.

Ruh terbagi menjadi ruh yang bebas, yang terkurung, yang tinggi dan yang rendah. Setelah berpisah dengan badan, ia dapat merasakan sehat, sakit, kenikmatan dan kelezatan serta rasa pedih, lebih dari yang dapat dirasakan ketika masih bertaut dengan badan. Ada rasa terkurung, tersiksa, sakit, menyesal, ada juga perasaan enak, senang, nikmat dan bebas serta perasaan-perasaan lain. Betapa miripnya kondisi ruh dalam badannya itu dengan kondisi janin dalam perut ibunya, dan kondisi ruh itu setelah berpisah dari tubuh dengan kondisi anak setelah keluar dari perut ibunya ke alam dunia ini. Ruh memiliki empat fase, masing-masing fase lebih besar dari fase sebelumnya.

Fase pertama adalah masa dalam perut ibu. Itulah kondisi di mana ruh terkurung, merasa sempit, kelam dalam kegelapan yang tiga.

Fase kedua , di dunia, di mana ia dibesarkan mengenal dunia dan melakukan perbuatan baik dan jelek, serta berbagai penyebab kebahagiaan dan nasib celaka.

Fase ketiga , di alam barzakh, yakni di alam yang lebih luas dan lebih besar dari alam dunia ini. Bahkan perbandingan alam barzakh dengan alam dunia, seperti alam dunia dengan alam perut ibu.

Yang keempat , di alam yang kekal, yakni Jannah atau Naar. Tidak ada alam lain sesudahnya. Allah memindahkan ruh ke alam ini secara bertahap, hingga mencapai tempat tinggal yang hanya layak baginya dan tidak pantas untuk selainnya, yakni alam yang untuk ke alam itulah ia diciptakan, alam yang telah dipersiapkan baginya dengan beramal di dunia sehingga mendapatkannya.

Pada setiap alam, ruh memiliki persoalan dan hukum yang berbeda dari di alam lain. Maha Suci Allah yang telah menciptakan, menumbuhkan, membesarkan, menghidupkan, membahagiakan dan mencelakakan, yang membuat perbedaan tingkat di antara para ruh dalam kebahagiaan dan kecelakaan, sebagaimana Allah menciptakan tingkatan yang berbeda-beda dalam ilmu, amal, kekuatan dan akhlak. Barangsiapa yang mengenalnya dengan selayaknya, pasti ia bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, yang memiliki kekuasaan, yang memiliki segala pujian, yang ditangan-Nya segala kebaikan, kepada-Nyalah dikembalikan segala urusan, milik-Nya-lah segala kekuatan dan kemampuan, segala keperkasaan, segala hikmah, segala kesempurnaan yang absolut pada segala sisi, dan diapun akan mengenal batas dirinya, dan kebenaran para nabi serta para rasul, bahwa yang mereka bawa adalah kebenaran yang diakui oleh logika dan diakui pula oleh fitrah, selain itu adalah batil. Wa billahit Taufiq (Lihat kitab Ar-Ruh oleh Abu Abdillah Syamsuddien Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah – Beirut 1395 H – 1975 M, halaman 115-117).

***

Dikutip dari :
Judul Asli : “Ahwaalul Qiyaamah”, Abdul Malik Ali Al-Kulaib, Maktabah Al-Ma`arif, Ar-Riyaadh.
Edisi Indonesia, “Huru-Hara di Hari Kiamat”, diterjemahkan oleh Abu Fuzhail, Penerbit At-Tibyan - Solo, Oktober 2001.

 

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (3)

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (3)

Category:Other
(5) Bentuk-Bentuk Siksa Kubur

Dari Samurah bin Jundub ra. diriwayatkan bahwa ia berkata : “Rasulullah saw sering bertanya kepada para Sahabatnya : “Adakah seorang di antara kalian yang bermimpi?” Biasanya sahabat juga ada yang menceritakan mimpinya. Suatu pagi, beliau berkata kepada kami : “Sesungguhnya tadi malam aku didatangi dua orang. Keduanya membangunkan diriku dan berkata : “Ayo berangkat!” Akupun berangkat bersama mereka berdua. Tiba-tiba kami menemui orang yang sedang berbaring. Tiba-tiba pula ada orang lain yang berdiri di mukanya dengan membawa batu besar (ket : yakni sejenis besi yang ujungnya bengkok). Batu itu dihantamkan ke kepala orang tersebut, lalu menggelindinglah batu itu hingga terjatuh. Lalu ia mengambil kembali batu itu, namun tidaklah dia mendatanginya, sehingga kepalanya utuh seperti semula. Barulah ia mengulangi lagi perbuatannya seperti yang pertama.

Rasulullah melanjutkan : Aku bertanya kepada mereka berdua : “Subhanallah, apa arti semua ini?” Mereka berdua menjawab : “Ayo, kita berangkat saja.” Kamipun berangkat, dan menemui seorang lelaki yang sedang berbaring. Tiba-tiba ada lelaki lain yang membawa jangkar besi. Ternyata ia mendekati salah satu pipinya dan membelah sudut mulut hingga ke belakang kepalanya, demikian juga dengan hidungnya hingga ke belakang kepalanya.”

Perawi menyatakan : “Bisa jadi Abu Rajaa menyebutkan : “Lalu ia membelahnya menjadi dua.” Kemudian ia menghadap ke bagian pipi sebelahnya dan memperlakukannya seperti pipi sebelumnya. Belum selesai ia melakukan perbuatannya itu, pipi yang pertama sudah pulih seperti sediakala. Kemudian ia mengulangi perbuatannya itu. Aku kembali bertanya : “Subhanallah! Apa arti semua ini?” Mereka berdua kembali menanggapi : “Ayo, kita berangkat lagi.”

Berangkatlah kami, hingga menjumpai tungku.” Perawi menyatakan : “Kemungkinan Rasulullah saw mengatakan : “Di dalamnya terdapat ribut-ribut dan suara keras. Kami melongok, ternyata terdapat kaum lelaki dan wanita telanjang. Tiba-tiba datanglah luapan api dari arah bawah mereka. Ketika api mendekati mereka, mereka berteriak keras (ket : yakni berteriak ketakutan). “

Nabi melanjutkan : “Aku bertanya : “Siapakah mereka itu?” Mereka berdua menjawab : “Sudah, berangkat saja.” Berangkatlah kami hingga menjumpai sungai.” Perawi berkata : “Aku mengira, beliau bersabda : “Warnanya merah seperti darah. Ternyata dalam sungai itu terdapat seorang lelaki lain di tepi sungai, dengan membawa batu dalam jumlah banyak. Ketika lelaki pertama sedang berenang, segera didatangi oleh lelaki yang membawa batu-batuan tadi, ia membuka mulutnya dan menjejalinya dengan satu batu.” Rasulullah melanjutkan : “Aku bertanya : “Apa arti semua ini?” Keduanya kembali berkata :”Sudah, ayo kita berangkat. “ Maka berangkatlah kami hingga bertemu dengan seorang lelaki yang buruk rupa, sebagaimana lelaki terjelek yang engkau lihat. Di sisi lelaki itu terdapat api yang dia sedang menyalakannya dan dia berjalan di sekitarnya (ket : yakni seolah-olah membuka mulutnya). Rasululllah melanjutkan : “Aku kembali bertanya : “Apa arti semua ini?” Keduanya kembali berkata : “Sudah, ayo kita berangkat.” Maka berangkatlah kami hingga bertemu dengan kebun yang berisi pohon-pohon tinggi, segala macam bunga musim semi ada di situ. Tiba-tiba di depan kebun itu muncul lelaki tinggi, hampir tidak terlihat kepalanya karena tingginya menjulang ke langit. Ternyata pula di sekeliling lelaki itu ada anak-anak kecil yang belum pernah kulihat sebelumnya.” “Aku bertanya : “Apa arti semua ini?” Keduanya kembali berkata : “Sudah, ayo kita berangakt.”

Maka berangkatlah kami hingga kami menemui sebuah kebun besar, belum pernah kulihat kebun sebesar dan seindah itu.” Mereka berdua berkata : “Naiklah.” Akupun naik ke kebun tersebut, hingga kami sampai ke sebuah kota yang dibangun dari batu bata emas dan perak. Kami mendatangi pintu kota itu dan meminta dibukakan. Dibukakanlah pintu itu untuk kami, dan kamipun masuk lalu berjumpa dengan beberapa orang lelaki. Separuh tubuhnya sebagai yang paling rupawan yang pernah kami lihat.”

Rasulullah saw melanjutkan : “Kedua malaikat itu berkata kepada para lelaki tersebut : “Pergilah kalian dan mandilah dalam sungai itu.” Rasulullah saw melanjutkan : “Ternyata di hadapan mereka itu ada sungai berair putih jernih. Mereka pergi menceburkan diri ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada kami, dan bagian buruk pada tubuh mereka sudah lenyap, sehingga mereka tampak sebagai kaum lelaki yang paling rupawan.” Nabi melanjutkan : “Kedua malaikat itu berkata : “Inilah Jannah ‘Adn, dan itulah tempat tinggalmu.” Aku mengangkat pandangan mataku, tiba-tiba kulihat istana bagaikan awan putih. Kedua malaikan itu berkata lagi : “Inilah tempat tinggalmu.” Aku membalas : “Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian berdua. Biarkan aku memasukinya. Keduanya berkata lagi :”Kalau sekarang, tidak, tetapi engkau akan memasukinya.”

Nabi bersabda :”Dari semalam, aku sudah melihat yang aneh-aneh, apa sebenarnya yang kulihat itu?” Mereka berdua menjawab : “Kami akan memberitahukanmu. Adapun lelaki pertama yang kita temui sedang dipecahkan kepalanya dengan batu, adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an lalu menolaknya. Ia juga orang yang meninggalkan shalat wajib. Sedangkan lelaki yang engkau temui sedang dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepalanya, demikan juga hidung dan kedua matanya, adalah lelaki yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta, dan kedustaannya itu mencapai ufuk. Sementara kaum lelaki dan perempuan telanjang yang berada dalam bangunan menyerupai tungku, mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan. Adapun lelaki yang ditemui sedang mandi di sungai lalu dijejali batu, adalah pemakan riba. Sedangkan lelaki yang buruk rupa yang menyalakan api di sekitarnya, adalah malaikat penjaga jahannam. Sementara lelaki yang tinggi di kebun adalah Nabi Ibrahim as. Dan anak-anak kecil di sekitarnya adalah setiap anak yang meninggal dalam fitrahnya. “

Sebagian Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan anak-anak orang musyrikin?” Beliau menjawab : “Demikian juga dengan anak-anak kaum musyrikin.” Adapun kaum lelaki yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek, adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka. “


(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya. Dalam riwayat lain disebutkan sebagian siksa kubur dengan jelas, juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar XVI : 99. Nabi saw bersabda : “(Kedua malaikat itu berkata) : “Sedangkan orang yang ujung mulutnya dibelah, adalah pendusta yang menyampaikan kedustaan lalu disebarkan hingga mencapai berbagai penjuru tempat. Demikianlah mereka diperlakukan sebagaimana yang engkau lihat, hingga hari kiamat. Sedangkan lelaki yang dipecahkan kepalanya, adalah orang yang diajarkan oleh Allah tentang Al-Qur’an, di malam hari ia tidak membacanya dan di siang hari ia tidak mengamalkannya. Demikianlah ia diperlakukan hingga hari kiamat...” (Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar II : 495).

Dari Anas bin Malik ra. diriwayatkan bahwa ia berkata : „Rasulullah saw bersabda : „Ketika Allah memperjalankan diriku untuk mi’raj, aku melihat satu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka.” Aku bertanya : “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Jibril menjawab :
“Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad III : 224 dan disahihkan oleh Al-Albani, Shahihul Jami`ish Shaghier V : 51).

Bersambung ke Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (4)

***
Dikutip dari :
Judul Asli : “Ahwaalul Qiyaamah”, Abdul Malik Ali Al-Kulaib, Maktabah Al-Ma`arif, Ar-Riyaadh.
Edisi Indonesia, “Huru-Hara di Hari Kiamat”, diterjemahkan oleh Abu Fuzhail, Penerbit At-Tibyan - Solo, Oktober 2001.

 

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (2)

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (2)
for everyone
Category: Other
(2) Pertanyaan Dua Malaikat

Dari Anas bin Malik ra. diriwayatkan bahwa ia berkata : "Nabi saw bersabda :

“Sesungguhnya apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, lalu rekan-rekan yang menguburkannya telah berlalu, ia masih sempat mendengar suara terompah mereka. Lalu datanglah dua malaikat dan mendudukkannya seraya bertanya : “Apa yang engkau ketahui tentang lelaki ini?” Apabila ia seorang mukmin, ia akan menjawab : “Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Maka dikatakan kepadanya : “Lihatlah calon tempat tinggalmu di Naar, sudah diganti oleh Allah dengan tempat di Jannah.” Nabi saw bersabda : “Orang itu akan melihat kedua tempat itu semua.”

Qatadah menyatakan : “Diceritakan kepada kami, bahwa kuburan mukmin itu diperluas selebar tujuh puluh hasta, lalu kuburannya itupun dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan hijau hingga hari Kebangkitan. Kembali kepada hadits Anas, disebutkan : “Adapun orang munafik dan kafir, akan ditanyakan kepada masing-masing di antara mereka :”Apa yang kamu ketahui tentang lelaki ini?” Ia akan berkata : “Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan yang biasa dikatakan orang banyak.” Ditanyakan kepadanya : “Kamu betul-betul tidak mengenalnya?” Kamu tidak membaca Kitabullah?” Lalu orang itu dipukuli dengan palu dari besi hingga berteriak-teriak dan terdengar oleh yang di sekelilingnya kecuali tsaqalain (jin dan manusia).
(Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar III : 480 dan juga Muslim 2200).

(3) Al-Munkar dan An-Nakir Benar-Benar Ada

Dari Abu Hurairah ra. Bahwa ia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Apabila mayit sudah dikubur, atau beliau bersabda : apabila salah seorang di antaramu sudah dikubur, ia akan didatangi oleh dua malaikat hitam dan biru (ket : yakni kedua mata mereka, karena bentuk semacam itu menakutkan bila di dalam kubur). Yang satu bernama Al-Munkar dan yang satu lagi bernama An-Nakir. Keduanya bertanya : “Apa yang engkau tahu tentang lelaki ini?” Orang itu akan menjawab : “Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. “ Keduanya berkata : “Kami sudah tahu bahwa engkau akan mengatakan demikian.” Kemudian kuburannya diperluas hingga tujuh puluh hasta, dengan panjang tujuh puluh kaki, kemudian diberi penerangan. Setelah itu dikatakan kepadanya : “Tidurlah engkau seperti layaknya seorang pengantin yang hanya dibangunkan oleh isteri yang paling dicintainya, hingga Allah membangkitkanmu dari pembaringanmu.”

Namun kalau ia orang munafik ia akan menjawab : “Saya mendengar orang banyak mengucapkan sesuatu, dan akupun menirunya. Aku tidak kenal lelaki ini.” Kedua malaikat itu berkata : “Kami sudah tahu bahwa engkau akan menjawab demikian.” Lalu dikatakan kepada bumi : “Jepitlah orang ini.” Maka bumipun menjepitnya hingga tulang-tulang rusuknya terlipat. Ia terus disiksa hingga Allah membangkitkannya dari pembaringannya itu.
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkata : “Hadits ini hasan gharib. Al-Albani menyatakan : “Sanadnya hasan, memenuhi syarat Imam Muslim”)


(4) Kuburan Akan Menghimpit dan Menjepit

Dari Aisyah Radhiyallahu `Anha diriwayatkan bahwa ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya kuburan dapat menghimpit. Kalau ada yang selamat dari himpitan itu, dialah Saad bin Muadz.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Bersambung ke Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (3)

***
Dikutip dari :
Judul Asli : “Ahwaalul Qiyaamah”, Abdul Malik Ali Al-Kulaib, Maktabah Al-Ma`arif, Ar-Riyaadh.
Edisi Indonesia, “Huru-Hara di Hari Kiamat”, diterjemahkan oleh Abu Fuzhail, Penerbit At-Tibyan - Solo, Oktober 2001.

 

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (1)

Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (1)

Category:Other
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu zhuhur hingga magrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar. Seorang mukmin, akan diluaskan kuburannya selebar tujuh puluh hasta, dan kuburannya itu dipenuhi dengan tanaman hijau hingga datang hari Kebangkitan. Adapun orang kafir, ia akan dipukuli dengan palu-palu besi, kuburannyapun akan dibuat sempit sehingga tulang-tulang rusuknya remuk redam.

(1) Saat-saat Sakratul Maut dan Naiknya Ruh Serta Siksa dan Kenikmatan Kubur

Allah berfirman :
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)**, agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.***" (QS. Al Mu'minuun 23 : 99-100)

Keterangan:
** Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.
*** Maksudnya: mereka sekarang telah menghadapi suatu kehidupan baru, yaitu kehidupan dalam kubur, yang membatasi antara dunia dan akhirat.

Allah juga berfirman :
“...dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang**, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras." (QS. Al Mu'min 40 : 45-46).

Keterangan :
** Maksudnya : dinampakkan kepada mereka neraka pagi dan petang sebelum hari berbangkit.

***

1. Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib ra. bahwa ia berkata : “Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. mengiringi jenazah seorang lelaki Al-Anshar. Sampailah kami di kuburannya. Ketika sedang digalikan liang lahadnya, Rasulullah saw duduk, dan kamipun duduk mengelilingi beliau, seolah-olah ada burung hinggap di atas kepala kami, sementara di tangan beliau terdapat kayu yang beliau ketuk-ketukkan di atas tanah. Lalu beliau mengangkat kepala sambil bersabda : “Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.” Demikianlah beliau sabdakan dua atau tiga kali.

Kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang mukmin yang meninggal dunia dan menghadap alam akhirat, akan ditemui oleh beberapa malaikat dari langit dengan wajah putih bagaikan mentari. Mereka membawa kain kafan dari Jannah dan hanuth yang juga dari Jannah, hingga duduk di hadapannya selebar mata memandang. (Ket : hanuth adalah sejenis wewangian khusus untuk mayit yang dicampurkan ke bahan lainnya sehingga menimbulkan wangi yang semerbak). Lalu datanglah malaikat maut dan duduk di sisinya seraya berkata : “Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan Rabbmu dan keridhaan-Nya.”

Selanjutnya, keluarlah ruh itu seperti air yang mengalir dari wadahnya. Sang malaikat menyambutnya. Para Malaikat itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu sedikitpun. Mereka segera mengambilnya dari tangan malaikat maut dan meletakkannya dalam kain kafan yang sudah dibubuhi wewangian, sehingga keluarlah ruh itu dengan bau harum semerbak seperti kasturi terbaik yang ada di muka bumi.”

Selanjutnya : naiklah para malaikat itu membawa ruh tersebut. Setiap kali melewati sekelompok malaikat, mereka ditanya : “Siapakah ruh yang baik ini?”. Mereka menjawab : “Fulan bin Fulan,” disebutkan nama terbaik yang digunakannya di dunia. Sehingga sampailah mereka di langit dunia. Mereka meminta ijin, lalu dibukakan pintu untuk mereka. Di setiap langit, mereka dielu-elukan oleh para penghantar mereka ke langit berikut, hingga mereka sampai di langit ke tujuh.

Allah berfirman : “Tulislah catatan amal hambaku ini dalam Illiyyin dan dikembalikan ia ke bumi ke dalam jasadnya.” (Ket : Illiyyin berasal dari kata Uluww (tinggi), yakni terletak di langit ke tujuh di mana terdapat ruh orang-orang beriman).

Lalu datanglah dua malaikat yang duduk di sisinya sambil bertanya : “Siapakah Rabb-mu?” Orang itu menjawab : ”Rabb-ku adalah Allah.” Kedua malaikat itu bertanya lagi : “Apa agamamu?” Orang itu menjawab. “Agamaku Islam.” Kedua malaikat itu bertanya lagi : ”Siapa lelaki yang diutus kepadamu ini?” Orang itu menjawab lagi : “Dia adalah Rasulullah.” Kedua malaikat itu bertanya lagi : “Dari mana engkau mengetahuinya?” Lelaki itu menjawab : “Saya membaca Kitabullah, mengimani dan membenarkannya.” Lalu datanglah suara berkumandang : “Sungguh benar apa yang dikatakan oleh hamba-Ku. Bentangkanlah tilam dari Jannah dan bukakanlah pintu menuju Jannah itu.”

Selanjutnya : datanglah tilam itu dengan bau yang harum, lalu diluaskan kuburannya hingga selebar mata memandang. Lalu datanglah lelaki dengan wajah rupawan dan pakaian yang indah juga berbau wangi. Orang itu bertanya : “Siapakah engkau? Wajahmu wajah yang mendatangkan kebaikan?.” Lelaki itu menjawab : “Saya adalah amal shalihmu.” Orang itu berkata : “Ya Rabbi, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku kembali kepada keluargaku dan hartaku (di Jannah).”

Sesungguhnya hamba yang kafir, ketika ia hendak meninggal dunia dan menghadap alam akhirat, ia akan didatangi oleh para malaikat berwajah hitam dengan membawa masuh (pakaian dari bulu). Lalu duduklah para malaikat itu di sisinya selebar mata memandang.

Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di sisinya sambil berkata : ”Wahai jiwa yang jahat! Keluarlah engkau dengan kemarahan dari Allah dan kemukaan-Nya. Maka berpisahlah ruh itu dari jasadnya dan malaikat maut mencabut ruhnya seperti saffud dicabut dari bulu wol yang basah. (Keterangan saffud adalah sunduk besi yang memiliki cabang-cabang bergerigi). Lalu malaikat maut memegangi ruhnya. Setelah dia memeganginya, maka para malaikat (adzab) itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka langsung mengambilnya dan meletakkannya dalam masuh tersebut, lalu keluarlah ruh itu dengan berbau bangkai yang terbusuk di muka bumi. Para malaikat itu naik membawa ruh itu. Setiap kali mereka melewati sekelompok malaikat, mereka ditanya : “Siapakah ruh yang busuk ini?” Mereka menjawab: “Ia adalah Fulan bin Fulan,” disebutkan nama terjelek yang disandangnya selama di dunia.”

Kemudian sampailah mereka ke langit dunia. Mereka meminta dibukakan pintu, namun tidak dibukakan untuk mereka. Kemudian Rasulullah saw membaca firman Allah : “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit** dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum***. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS. Al A'raaf 7 : 40).

Keterangan :
**Artinya: doa dan amal mereka tidak diterima oleh Allah.
*** Artinya: mereka tidak mungkin masuk surga sebagaimana tidak mungkin masuknya unta ke lubang jarum.

Allah Azza wa Jalla berfirman : “Tulislah catatan amalnya dalam Sijjin di bumi yang terendah.” (Ket : Sijjin yakni semacam penjara yang sempit). Kemudian ruh itu dicampakkan. Kemudian Rasulullah saw membaca : “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh...”
(QS. Al Hajj 22 : 31).

Ruh itupun dikembalikan ke jasadnya, lalu ia didatangi oleh dua malaikat yang langsung bertanya : “Siapakah Rabb-mu?” Orang itu menjawab : “Haah, haah, saya tidak tahu.” Kedua malaikat itu bertanya lagi : “Apa agamamu?” Orang itu menjawab : “Haah, haah, saya tidak tahu.” Kedua malaikat itu bertanya lagi : “Siapa lelaki yang diutus kepadamu ini?” Orang itu menjawab lagi : “Haah, haah, saya tidak tahu.” Lalu terdengar suara penyeru dari langit : “Ia dusta.”

Bentangkanlah tilam dari Naar dan bukakanlah pintu menuju kepadanya. Datanglah tilam itu dengan bau busuk dan panasnya yang dahsyat, lalu kuburannya itu dipersempit hingga tulang-tulang rusuknya remuk. Datanglah kepadanya seorang lelaki buruk rupa dengan pakaian jelek dan berbau busuk. Lelaki itu berkata : ”Terimalah kabar yang jelek bagimu pada hari ini, hari yang telah dijanjikan kepadamu.” Orang itu bertanya : ”Siapakah engkau? Wajahmu amat buruk yang mendatangkan keburukan?” Lelaki itu berkata : “Aku adalah perbuatan jahatmu.” Orang itu berkata : “Ya Rabbi! Janganlah Engkau tegakkan hari kiamat.”

(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad IV : 287, Abu Dawud dalam As-Sunan II : 540, serta Al-Hakim dalam Al-Mustadrak I : 37). Al-Hakim berkata : “Hadits ini shahih, memenuhi persyaratan Al-Bukhari dan Muslim, Adz-Dzahabi dan Al-Albani juga menguatkan (Lihat Ahkamul Janaiz).

Keterangan :
Tidak ada dalam riwayat hadits shahih, bahwa nama malaikat maut adalah Izrail. Kemungkinan itu berasal dari Israiliyat.

Wallahu’alam bishshowab.

Bersambung ke Siksa dan Kenikmatan di Alam Barzakh (2)


***
Dikutip dari :
Judul Asli : “Ahwaalul Qiyaamah”, Abdul Malik Ali Al-Kulaib, Maktabah Al-Ma`arif, Ar-Riyaadh.
Edisi Indonesia, “Huru-Hara di Hari Kiamat”, diterjemahkan oleh Abu Fuzhail, Penerbit At-Tibyan - Solo, Oktober 2001.

Wednesday, November 09, 2005 

PLUR

PLUR: P(eace), L(ove), U(nity), R(espect)

The "four pillars" of the "house" or "rave" community are PEACE, LOVE, UNITY, and RESPECT. I'd always heard peace/love/unity around here (here being the East Coast) but it wasn't until I came in contact with Brian from San Francisco that I heard the fourth one, RESPECT.

And then suddenly it all came clear to me. You can't have peace, love, and unity without respect. And even more importantly, each individual is responsible for finding and maintaining and giving peace, love, unity, and respect. It isn't just handed to you. It doesn't just magically appear because you've arrived at a rave or taken some acid or ecstacy. You have to find it and generate it for yourself, and then GIVE IT AWAY to anyone and everyone to sort of "jump start" them into generating it. The "giving away" of it is what makes up, in my mind, the "vibe."

PEACE

Peace is what you use to chill out when the sound system blows and the music stops for ten minutes. It's what you use when some idiot keeps bumping in to you while dancing. It's sort of like serenity and being calm. Shit happens, and you deal with it.

LOVE

Love is an unconditional appreciation of something or someone. It combines with peace to allow you to think things like "Frankie Bones isn't a bad guy, in spite of his flapping mouth." The peace gives you the chill factor so you can get to the unconditional love.

UNITY

Once you have peace and love, unity follows in that you can appreciate other people and other things, and this appreciation allows you to work together with them, or spend time together with them, and otherwise support them, even if you don't always agree with them. A sense of something "bigger" than just yourself and your own pleasure is part of unity -- in the case of us on the list the "bigger" thing is an interest in the odd social phenomena known as "raving." Unity helps me to do things like throw good parties for the ne-raves list, even though there *are* people who are on the list and who might come to these parties who I'd rather not have anything to do with . . . it is in the spirit of greater unity that I chill with these feelings (peace again) and welcome everyone into my home so they can be together and have fun.

RESPECT

This, to me, is the key that is often missing in our scene. People get too much into flamage (and I admit, I've been guilty of this). People are more worried about being DISrespected by others, rather than concentrating on generating and giving respect. This is the most difficult one for me to explain, because I've had the least amount of time to think about it . . . . Respect includes things like NOT graffiting on walls at raves, picking up your trash, and giving whatever you can as a donation when the hat is passed at a free event. It also includes seperating yourself from that what you don't like, while allowing it to continue uninterrupted because people other than yourself are getting enjoyment from it (for example, take my feelings toward the majority of breakbeat: I really don't like it, so when it is played I go chill with some friends and wait until the set is over . . . I used to whine and complain, but then it sunk in to me that OTHER people were getting something from it, and by trying to supress their enjoyment I was showing extreme disrespect for them.)

Tuesday, November 01, 2005 

Rahasia Mengelola Keuangan Keluarga

Seringkali kita terkaget-kaget begitu melihat uang ludes di akhir bulan. Padahal masih ada tagihan yang belum lunas. Kita sering bertanya: “Kemana saja uang habis dibelanjakan?”. Lemas rasanya mengingat uang itu hasil kerja keras sebulan. Anehnya, walaupun gaji naik tetap saja uang habis tanpa bisa menabung, apalagi investasi. Padahal semua itu tidak perlu terjadi kalau saja kita tahu rahasia mengelola keuangan. Kuncinya adalah bukan pada “berapa banyak uang yang dihasilkan”, tapi pada ”bagaimana kita membuat pengeluaran lebih kecil dari pemasukan sehingga bisa menabung dan investasi untuk masa depan”. Tentunya semua ini harus dibicarakan berdua dengan suami supaya lebih obyektif.

Sebenarnya mengapa sih uang itu perlu kita kelola?
Alasannya bisa macam-macam, ada yang karena ingin membeli barang atau jasa tertentu, kondisi perekonomian yang tidak selalu stabil, biaya hidup yang tinggi saat ini dan terus naik dari tahun ke tahun, fisik kita yang tidak selalu sehat, dan banyaknya pilihan produk keuangan.

Apa saja sih yang perlu dilakukan sebagai langkah awal?
Buat daftar kebutuhan untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Prinsipnya ”utamakan kebutuhan, bukan keinginan”. Makan misalnya merupakan ”kebutuhan”. Tapi makan enak di restoran yang mahal merupakan ”keinginan”. Bukan berarti kita tidak boleh makan enak tapi perlu kita pertimbangkan apakah akan mengorbankan ”kebutuhan” lain yang lebih penting, misalnya membeli buku pelajaran anak. Lagipula walaupun sekarang kita merasa telah mampu memenuhi semua keinginan, tetap saja kita harus memikirkan kebutuhan di masa yang akan datang, misalnya menyiapkan dana pensiun, dana pendidikan bagi anak-anak, asuransi kesehatan.

Kapan membuat anggaran?
Sebelum ada pemasukan. Maksudnya supaya ada gambaran apakah uang kita cukup dan masih ada sisanya untuk bulan depan. Kalau kurang ya anggaran harus kita ubah. Kalau penghasilan kita tidak tetap, coba hitung rata-rata anggaran bulan-bulan lalu dan perubahannya.

Bagaimana caranya membuat anggaran?
Buat pos perkiraan pemasukan dan pengeluaran berdasarkan daftar kebutuhan di atas. Pos pemasukan berupa gaji, bonus, dan laba bersih wirausaha. Pos pengeluaran dibagi tiga yaitu pos cicilan hutang/kredit, pos tabungan dan pos keperluan rumah tangga.

Pos apa yang paling diprioritaskan dalam anggaran belanja?
Pos cicilan hutang/kredit. Kenapa? Karena kalau sampai terlambat membayar ada risiko kena denda. Juga kalau sampai macet, hutang bisa membengkak karena bunga berjalan akan dihitung terus. Berapa besarnya? Usahakan totalnya tidak melebihi 30% dari pemasukan. Kenapa? Maksudnya ya supaya sisanya masih cukup untuk kebutuhan hidup lainnya.

Setelah cicilan hutang beres, pos anggaran apa berikutnya?
Pos tabungan. Menabung tidak perlu menunggu sampai akhir bulan karena biasanya tidak akan ada sisanya. Tabungan ini ada yang untuk keperluan darurat dan mendadak (jangka pendek) misalnya jika tiba-tiba kita di-PHK atau sakit dan harus dirawat di RS, ada juga yang bersifat jangka panjang misalnya dana pensiun, biaya pendidikan lanjut anak, biaya menikahkan anak, dan investasi masa depan (pengembangan rumah, menambah mobil, harta warisan, dsb). Bentuk tabungan ini bisa berupa dana cadangan, premi asuransi dan investasi jangka panjang.

Bagaimana dengan pengeluaran rumah tangga sehari-hari?
Nah ini prioritas terakhir karena bersifat fleksibel. Artinya dapat dikurangi atau ditambah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan serta pendapatan yang tersedia. Umumnya pengeluaran ini meliputi makanan, pakaian dan aksesori, transportasi, pendidikan anak, keperluan rumah (listrik, air, sewa rumah), komunikasi (hp, telpon, internet), hiburan dan rekreasi. Waspadai jenis pengeluaran yang biasanya besar dan berpotensi menimbulkan defisit anggaran misalnya telepon, listrik dan air, biaya sosial (hadiah, sumbangan, iuran), pakaian dan aksesori, barang elektronik. Juga waspadai jenis pengeluaran yang kelihatannya ”tersembunyi” tapi hampir selalu muncul tiap bulannya yaitu biaya pemeliharaan. Misalnya perbaikan rumah, mobil, dan alat rumah tangga yang rusak, biaya ke dokter dan obat (jika belum ada asuransi).

Apa saja yang perlu terus dipantau dalam membuat anggaran rumah tangga?
Perkembangan harga-harga kebutuhan pokok. Jika harga-harga naik, tinggal pilih apakah anggaran dinaikkan (dengan konsekuensi anggaran lain diturunkan atau menambah penghasilan) atau menurunkan standar atau jumlah kebutuhan yang akan dikonsumsi.

Kembali soal tabungan, tadi belum jelas, dana cadangan itu apa sih?
Dana ini umumnya digunakan untuk pengeluaran darurat dan mendadak. Jadi sifatnya wajib. Disimpannya harus di tempat yang aman (tidak akan hilang dan berkurang) dan likuid (bisa diambil kapanpun tanpa ada denda), misalnya di cash box lemari kita, tabungan dan giro di bank, deposito jangka pendek. Dana ini dapat dikumpulkan sedikit demi sedikit dengan menyisihkan minimal 10% dari pemasukan hingga mencapai jumlah yang setara dengan pengeluaran untuk 3-6 bulan. Kalau pemasukan relatif tidak tetap, maka jumlahnya lebih besar yaitu setara dengan pengeluaran untuk 12 bulan. Artinya, jika tiba-tiba kita di-PHK atau terkena bencana alam sehingga pemasukan nol atau minim sekali, maka kita masih “bisa hidup mandiri” (tidak menambah hutang) beberapa bulan ke depan sambil mencari pekerjaan baru. Tapi jumlah dana cadangan harus kita batasi, jangan terlalu besar karena tidak produktif.

Bagaimana dengan premi asuransi?
Berbeda dengan dana cadangan, asuransi ini digunakan untuk menanggulangi risiko finansial keluarga tapi dikelola oleh pihak lain (bank atau perusahaan asuransi). Saat ini terdapat banyak produk yang ditawarkan, misalnya dana pensiun, kesehatan, kecelakaan, pendidikan anak, rumah, mobil, haji dan umroh. Mengingat dana ini dikelola oleh pihak lain, kita perlu berhati-hati dalam memilihnya agar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pemasukan.

Bagaimana dengan investasi jangka panjang?
Ini prioritas terakhir, umumnya digunakan untuk tujuan spesifik dan dikelola sendiri, misalnya biaya menikahkan anak, pengembangan rumah, menambah mobil, harta warisan, dsb. Jenis simpanan ini dapat juga dimanfaatkan sekaligus untuk tambahan pemasukan (produktif); jadi menabung sambil menambah penghasilan. Prinsip dasar dari investasi adalah semakin tinggi keuntungan maka risikonya semakin tinggi pula. Jadi berhati-hatilah terhadap tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat. Keuntungan investasi hanya bisa dicapai dengan pengetahuan dan ketekunan dan itu membutuhkan waktu. Yang perlu disiapkan adalah seberapa besar kita bersedia menanggung risiko, apakah produk investasi tersebut mudah dijual kembali, dan hasilnya sesuai dengan kenaikan barang dan jasa.

Lho, mengapa tabungan banyak jenisnya? Mengapa tidak satu jenis saja?
Nah itu tergantung besarnya dana tabungan. Kalau sangat terbatas ya cukup dana cadangan saja untuk keperluan darurat dan mendadak. Kalau ada sedikit kelebihan, misalnya dapat menabung setara dengan pengeluaran sekitar 6 bulan atau lebih, maka sebagian dapat dialihkan untuk mengikuti program asuransi. Kalau masih banyak kelebihannya, atau memang ada maksud untuk mencari penghasilan tambahan, maka sebagian tabungan dapat dialihkan juga untuk investasi jangka panjang. Yang terpenting adalah dana cadangan jangan sampai tidak ada, karena risiko dapat terjadi sewaktu-waktu dan ini perlu tabungan yang likuid.


Lalu, apa saja keuntungan dan keterbatasan kalau tabungan dikelola sendiri atau pihak lain?
Kalau dikelola sendiri, lebih bebas menggunakannya (kapanpun dan untuk keperluan apapun), tapi tidak begitu produktif. Kalau dikelola pihak lain dana itu lebih terkontrol dan produktif, tapi kita harus mau mematuhi peraturan pihak lain dan kadang sulit dicairkan.

Terakhir, bagaimana agar rencana di atas berhasil dilaksanakan?
Tentu kita harus punya cara untuk mengontrol dan berdisiplin menjalankannya. Salah satunya adalah dengan “sistem amplop”. Setiap pos pengeluaran dimasukkan dalam satu amplop. Jika uang dalam suatu amplop habis, kita tidak boleh mengambil dari amplop lain. Kenapa? Karena berarti mengurangi anggaran yang lain.
Cara lain adalah dengan fasilitas ”autodebet bank” (fasilitas transfer otomatis dari bank). Melalui fasilitas ini setiap bulan pada tanggal gajian langsung dapat ditransfer sejumlah dana dari rekening gaji ke rekening khusus tabungan, rekening kartu kredit, rekening pembayaran listrik, air, telepon, dsb. Jadi kita tidak perlu repot-repot datang ke bank atau ATM untuk melakukan transfer namun secara tidak sadar kredit dapat dibayar dan tabungan terus bertambah.
Selamat mencoba dan semoga berhasil!

(dari berbagai sumber)

Vita Sarasi

 

Sesungguhnya Cinta Itu (Tidak) Kontroversial

Ingatkah saat Anda dulu jatuh cinta? Atau mungkin saat ini Anda tengah mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabat saya. Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di atas tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, berbalas pesan dengan pujaan hatinya. Di lain waktu dia uring-uringan, namun begitu mendengar nada panggil polyphonic dari alat komunikasi kecil andalannya itu, wajahnya seketika merona. Lagu-lagu romantis menjadi akrab di telinganya. Penampilannya pun kini rapi, sesuatu yang dulu luput dari perhatiannya. Bahkan menurutnya nuansa mimpi pun sekarang lebih berbunga-bunga. Baginya semuanya jadi tampak indah, warna-warni, dan wangi semerbak.

Lebih mencengangkan lagi, di apartemennya bertebaran buku-buku karya Kahlil Gibran, pujangga Libanon yang banyak menghasilkan masterpiece bertema cinta. Tak cuma menghayati, kini dia pun menjadi penyair yang mampu menggubah puisi cinta. Sesekali dilantunkannya bait-bait syair. "Cinta adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta mengarus lembut, mesra, sangat dalam dan sekaligus intelek. Cinta ibarat mata air abadi yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa dahaga."

Saya tercenung melihat cintanya yang begitu mendalam. Namun, tak urung menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai manusia, wajar jika saya ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai seseorang seperti dia. Tapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah lebih dari mencintai makhluk dan segala ciptaan-Nya?

Lantas apakah kita tidak boleh mencintai seseorang seperti sahabat saya itu? Bagaimana menyikapi cinta pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati? Apakah cinta itu adalah karunia sehingga boleh dinikmati dan disyukuri ataukah berupa godaan sehingga harus dibelenggu? Bagaimana sebenarnya Islam menuntun umatnya dalam mengapresiasi cinta? Tak mudah rasanya menemukan jawaban dari kontroversi cinta ini.

Alhamdulillah, suatu hari ada pencerahan dari tausyiah dalam sebuah majelis taklim bulanan. Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta manusia seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta kepada-Nya jauh melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada sesama makhluk dicurahkan semata-mata karena mencintai-Nya. Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 165, "Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”

Jadi Allah SWT telah menyampaikan pesan gamblang mengenai perbedaan dan garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada Allah. Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada selain Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.

Islam menyajikan pelajaran yang berharga tentang manajemen cinta; tentang bagaimana manusia seharusnya menyusun skala prioritas cintanya. Urutan tertinggi perasaan cinta adalah kepada Allah SWT, kemudian kepada Rasul-Nya (QS 33: 71). Cinta pada sesama makhluk diurutkan sesuai dengan firman-Nya (QS 4: 36), yaitu kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat (yang mahram), anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sedangkan harta, tempat tinggal, dan kekuasaan juga mendapat porsi untuk dicintai pada tataran yang lebih rendah (QS 9: 24). Subhanallah!

***

Perasaan cinta adalah abstrak. Namun perasaan cinta bisa diwujudkan sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara tanda-tanda cinta seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat sunnah, membaca Al Qur’an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama dan mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud. Betapa indahnya jalinan cinta itu!

Tidak hanya itu. Apa yang difirmankan oleh Sang Khaliq senantiasa didengar, dibenarkan, tidak dibantah, dan ditaatinya. Kali ini saya baru mengerti mengapa iman itu diartikan sebagai mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh ayat-Nya dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa sehingga seseorang yang mencintai-Nya merasa sanggup berkorban dengan jiwa, raga, dan harta benda demi membela agama-Nya.

Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga sekujur roh dan tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya pada setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu timbul kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala membayangkan azab Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi, qalbunya selalu bergetar manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya, hatinya tenang bila selalu mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang sempurna...

Puji syukur ya Allah, saya menjadi lebih paham sekarang! Cinta memang anugerah yang terindah dari Maha Pencipta. Tapi banyak manusia keliru menafsirkan dan menggunakannya. Islam tidak menghendaki cinta dikekang, namun Islam juga tidak ingin cinta diumbar mengikuti hawa nafsu seperti kasus sahabat saya tadi.

Jika saja dia mencintai Allah SWT melebihi rasa sayang pada kekasihnya. Bila saja pujaan hatinya itu adalah sosok mukmin yang diridhai oleh-Nya. Dan andai saja gelora cintanya itu diungkapkan dengan mengikuti syariat-Nya yaitu bersegera membentuk keluarga sakinah, mawaddah, penuh rahmah dan amanah... Ah, betapa bahagianya dia di dunia dan akhirat...

Alangkah indahnya Islam! Di dalamnya ada syariat yang mengatur bagaimana seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga menghasilkan cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Cinta seperti ini diilustrasikan dalam sebuah syair karya Ibnu Hasym, seorang ulama sekaligus pujangga dan ahli hukum dari Andalusia Spanyol dalam bukunya Kalung Burung Merpati (Thauqul Hamamah), "Cinta itu bagaikan pohon, akarnya menghujam ke tanah dan pucuknya banyak buah." Wallahua’lam bish-showab.


Tulisan ini juga dimuat di
http://eramuslim.com/ar/oa/55/18723,1,v.html