Menyiasati Usia Pendek
"Umur umatku berkisar antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu." (HR. At-Tirmidzi3550, Ibnu Hibban 7/246 dan Ibnu Majah 4236, shahih).
Menetapkan usia adalah hak prerogatif Allah. Adalah hak Allah menetapkan usia seseorang pendek atau panjang. Nabi Adam as, bapak segenap umat manusia berusia 1000 tahun. Nabi Nuh as berusia 950 tahun. Dan rata-rata kaum para nabi terdahulu itu juga memiliki usia yang panjang.
Berbeda dengan umat terdahulu, umat Nabi Muhammad SAW usianya singkat dan terbatas. Rata-rata di bawah usia 70 tahun. Panjang pendek usia tak bisa ditawar, meski sepersekian detik. Al-Qur'an menegaskan (yang artinya):
"Maka bila telah datang ajal, mereka tidak dapat menundanya barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya." (Al-A'raf: 34).
Dan yang pasti, tak mungkin ada lagi manusia yang mencapai usia 1000 tahun, seperti yang dimiliki umat terdahulu. Jika dikalkulasi, kurang lebih masa produktif umur manusia sekarang adalah 20 tahun. Bila umur seseorang 60 tahun, maka untuk tidur saja ia perlukan 20 tahun jika tiap harinya ia tidur delapan jam. Lalu, 15 tahun adalah masa kanak-kanak, puber dan penyesuaian. Untuk makan, buang hajat, transportasi, istirahat dan hal-hal privacy lainnya menghabiskan 2-3 jam perharinya. Jika ditotal memakan usia sekitar 5 tahun. Sepertiga sisa usianya (20 tahun) inilah yang harus ia pertaruhkan untuk bisa produktif. Produktif untuk kepentingan dunia dan akhiratnya. Yang kelak pada hari Kiamat, sama-sama dipertanggungjawabkan dengan mereka yang berusia 1000 tahun.
Mungkin di antaranya karena dikejar usia, manusia modern berusaha produktif, efisien dan efektif. Saking produktifnya, ada orang yang merasa kurang dengan rotasi waktu 24 jam. Dengan kemajuan teknologi, secara aktivitas duniawi manusia sekarang bisa jadi telah melampaui batas efisiensi usia hingga 1000 tahun. Segala sesuatu dibuat serba instan, praktis, cepat dan otomatis; makanan, minuman, barang-barang elektronik hingga produk ilmu pengetahuan. Hal yang jauh berbeda dengan saat nenek moyang kita dahulu. Di mana untuk keperluan domestik, seperti sandang, pangan, papan dan transportasi mereka harus berjuang keras menaklukkan ganasnya alam dan perlu waktu hingga bertahun-tahun. Kita bersyukur dengan anugerah kemenangan duniawi ini. Pertanyaannya adalah, bagaimana agar kemenangan kita sebagai manusia modern tidak saja sebatas dalam urusan dunia tapi juga dalam kehidupan akhirat?
Al-Qur'an sering menganalogkan kehidupan akhirat dengan perdagangan atau bisnis. (QS.2:16; 61:10-11). Artinya, diperlukan kecermatan untuk menangkap peluang-peluang yang mendatangkan pahala sebagai deposito akhirat. Oleh Al-Qur'an, sering pula kita disentil dengan ungkapan-ungkapan agar kita lebih produktif, efisien dan efektif dalam urusan akhirat. Misal, firman Allah SWT, yang artinya:
"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat pula balasannya." (QS. 99; 7-8)
Jika dicermati, karakter kualitas pahala yang melimpah ruah bagi umat Muhammad SAW adalah sangat relevan dengan karakter manusia modern. Yaitu serba ekonomis, instan, praktis dan penuh produktifitas. Meski dengan usia sangat pendek, umat Muhammad SAW -dengan rahmat Allah- sangat potensial memproduksi pahala berkali lipat dibanding umat terdahulu yang berusia hingga ribuan tahun. Umat ini banyak diberi keistimewaan pahala yang tidak diberikan kepada umat terdahulu.
Sebagaimana diinformasikan Nabi SAW, banyak proyek kebaikan yang mendatangkan pahala berlipat-lipat. Di antaranya adalah memperbanyak shalat di Masjidil Haram (MH) dan Masjid Nabawi (MN).
Dari Jabir ra. Rasulullah SAW bersabda: "Shalat di masjidku ini lebih baik seribu kali daripada shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih baik (daripada shalat di tempat lain) sebanyak seratus ribu kali." (HR: Ahmad, Shahih)
Di MH pahalanya dilipatkan 100.000 kali. Di MN dilipatkan 1000 kali. Kalkulasi perbandingannya begini. Orang yang setiap hari shalat rawatib 12 rakaat di selain MH satu tahun ia baru mendapatkan 4320 rakaat. Sedang dua rakaat di MH sama dengan 200.000 rakaat. Artinya, untuk mendapatkan pahala shalat 200.000 rakaat di selain MH -padahal di MH cukup dua rakaat- diperlukan waktu selama 40 tahun tiga bulan, dengan shalat rawatib tiap harinya 12 rakaat.
Bila seorang haji aktif shalat jamaah di MH selama 15 hari berikut shalat rawatib maka nilainya sama dengan shalat 43.500.000 rakaat di luar MH, belum lagi hitungan shalat jamaahnya. Artinya, sama dengan ia shalat di luar MH ( sebanyak 17 rakaat shalat wajib dan 12 rakaat rawatib) selama 4166 tahun lebih enam bulan. Soal jamaah shalat di masjid, Nabi SAW menyebutkan pahalanya lebih utama 27 derajat dari shalat sendirian. (HR. Bukhari Muslim). Artinya, bila ada dua orang yang satu biasa shalat sendirian dan lainnya selalu berjamaah sepanjang hidupnya maka seakan-akan umur yang selalu berjamaah lebih panjang 27 kali dari kawannya. Bila ia biasa berjamaah sejak usia 15 tahun dan usianya 60 tahun, itu artinya ia seperti berusia 1215 tahun, sedang temannya tetap berusia 60 tahun.
Dalam hal shalat, muslimah memiliki keutamaan yang sangat spesial. Sebab shalatnya di rumah lebih baik daripada shalat jamaah di masjid, sekalipun Masjid Nabawi. (HR. Ahmad, shahih).
Dari Istri Abu Sa'id al-Khudri, ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: Ya Rasulallah, saya lebih suka shalat bersamamu. Rasul SAW menjawab: " Saya tahu bahwa kamu shalat bersamaku, dan shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalat di hujrahmu, shalatmu di hujrahmu lebih baik dari shalat di daar mu, shalat di daarmu lebih baik daripada shalat di masjid kaummu, shalat di masjid kaummu lebih baik daripada shalat di masjidku…..(HR: Ahmad 27135).
Artinya, dengan menjaga shalat lima waktu saja, seorang muslimah seakan memiliki usia 27 kali lebih panjang dalam hal kebaikan. Proyek shalat lain yang sarat pahala adalah shalat sunnah di rumah. Shalat sunnah di rumah berpahala 25 kali lipat dibanding shalat di masjid atau jika dilihat orang lain. (HR. Abu Ya'la, shahih).
Hari Jum'at juga merupakan musim panen pahala yang melimpah ruah. Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa membasuh dan mandi pada hari Jum'at, lalu bergegas berangkat, berjalan dan tidak berkendaraan, dekat dengan imam, mendengarkan dan tidak berbicara (saat khutbah), maka dia mendapat pahala amal selama setahun dengan setiap langkah kaki yang diayunkannya dari rumah hingga ke masjid, yaitu pahala puasa dan shalat malamnya." (HR. Abu Daud, shahih). Jika sekali saja adab Jum'at yang mudah di atas kita laksanakan dan jarak rumah kita dengan masjid 1000 langkah kaki, maka Allah akan menetapkan bagi kita pahala puasa dan shalat malam selama 1000 tahun.
Dan bila hal itu kita lakukan sepanjang tahun berapa kali lipat pahala ditangguk? Subhanallah
Sumber : Ainul Haris, Lc., Buletin Jum'at Ar-Risalah Tahun III No. 30
Menetapkan usia adalah hak prerogatif Allah. Adalah hak Allah menetapkan usia seseorang pendek atau panjang. Nabi Adam as, bapak segenap umat manusia berusia 1000 tahun. Nabi Nuh as berusia 950 tahun. Dan rata-rata kaum para nabi terdahulu itu juga memiliki usia yang panjang.
Berbeda dengan umat terdahulu, umat Nabi Muhammad SAW usianya singkat dan terbatas. Rata-rata di bawah usia 70 tahun. Panjang pendek usia tak bisa ditawar, meski sepersekian detik. Al-Qur'an menegaskan (yang artinya):
"Maka bila telah datang ajal, mereka tidak dapat menundanya barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya." (Al-A'raf: 34).
Dan yang pasti, tak mungkin ada lagi manusia yang mencapai usia 1000 tahun, seperti yang dimiliki umat terdahulu. Jika dikalkulasi, kurang lebih masa produktif umur manusia sekarang adalah 20 tahun. Bila umur seseorang 60 tahun, maka untuk tidur saja ia perlukan 20 tahun jika tiap harinya ia tidur delapan jam. Lalu, 15 tahun adalah masa kanak-kanak, puber dan penyesuaian. Untuk makan, buang hajat, transportasi, istirahat dan hal-hal privacy lainnya menghabiskan 2-3 jam perharinya. Jika ditotal memakan usia sekitar 5 tahun. Sepertiga sisa usianya (20 tahun) inilah yang harus ia pertaruhkan untuk bisa produktif. Produktif untuk kepentingan dunia dan akhiratnya. Yang kelak pada hari Kiamat, sama-sama dipertanggungjawabkan dengan mereka yang berusia 1000 tahun.
Mungkin di antaranya karena dikejar usia, manusia modern berusaha produktif, efisien dan efektif. Saking produktifnya, ada orang yang merasa kurang dengan rotasi waktu 24 jam. Dengan kemajuan teknologi, secara aktivitas duniawi manusia sekarang bisa jadi telah melampaui batas efisiensi usia hingga 1000 tahun. Segala sesuatu dibuat serba instan, praktis, cepat dan otomatis; makanan, minuman, barang-barang elektronik hingga produk ilmu pengetahuan. Hal yang jauh berbeda dengan saat nenek moyang kita dahulu. Di mana untuk keperluan domestik, seperti sandang, pangan, papan dan transportasi mereka harus berjuang keras menaklukkan ganasnya alam dan perlu waktu hingga bertahun-tahun. Kita bersyukur dengan anugerah kemenangan duniawi ini. Pertanyaannya adalah, bagaimana agar kemenangan kita sebagai manusia modern tidak saja sebatas dalam urusan dunia tapi juga dalam kehidupan akhirat?
Al-Qur'an sering menganalogkan kehidupan akhirat dengan perdagangan atau bisnis. (QS.2:16; 61:10-11). Artinya, diperlukan kecermatan untuk menangkap peluang-peluang yang mendatangkan pahala sebagai deposito akhirat. Oleh Al-Qur'an, sering pula kita disentil dengan ungkapan-ungkapan agar kita lebih produktif, efisien dan efektif dalam urusan akhirat. Misal, firman Allah SWT, yang artinya:
"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat pula balasannya." (QS. 99; 7-8)
Jika dicermati, karakter kualitas pahala yang melimpah ruah bagi umat Muhammad SAW adalah sangat relevan dengan karakter manusia modern. Yaitu serba ekonomis, instan, praktis dan penuh produktifitas. Meski dengan usia sangat pendek, umat Muhammad SAW -dengan rahmat Allah- sangat potensial memproduksi pahala berkali lipat dibanding umat terdahulu yang berusia hingga ribuan tahun. Umat ini banyak diberi keistimewaan pahala yang tidak diberikan kepada umat terdahulu.
Sebagaimana diinformasikan Nabi SAW, banyak proyek kebaikan yang mendatangkan pahala berlipat-lipat. Di antaranya adalah memperbanyak shalat di Masjidil Haram (MH) dan Masjid Nabawi (MN).
Dari Jabir ra. Rasulullah SAW bersabda: "Shalat di masjidku ini lebih baik seribu kali daripada shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih baik (daripada shalat di tempat lain) sebanyak seratus ribu kali." (HR: Ahmad, Shahih)
Di MH pahalanya dilipatkan 100.000 kali. Di MN dilipatkan 1000 kali. Kalkulasi perbandingannya begini. Orang yang setiap hari shalat rawatib 12 rakaat di selain MH satu tahun ia baru mendapatkan 4320 rakaat. Sedang dua rakaat di MH sama dengan 200.000 rakaat. Artinya, untuk mendapatkan pahala shalat 200.000 rakaat di selain MH -padahal di MH cukup dua rakaat- diperlukan waktu selama 40 tahun tiga bulan, dengan shalat rawatib tiap harinya 12 rakaat.
Bila seorang haji aktif shalat jamaah di MH selama 15 hari berikut shalat rawatib maka nilainya sama dengan shalat 43.500.000 rakaat di luar MH, belum lagi hitungan shalat jamaahnya. Artinya, sama dengan ia shalat di luar MH ( sebanyak 17 rakaat shalat wajib dan 12 rakaat rawatib) selama 4166 tahun lebih enam bulan. Soal jamaah shalat di masjid, Nabi SAW menyebutkan pahalanya lebih utama 27 derajat dari shalat sendirian. (HR. Bukhari Muslim). Artinya, bila ada dua orang yang satu biasa shalat sendirian dan lainnya selalu berjamaah sepanjang hidupnya maka seakan-akan umur yang selalu berjamaah lebih panjang 27 kali dari kawannya. Bila ia biasa berjamaah sejak usia 15 tahun dan usianya 60 tahun, itu artinya ia seperti berusia 1215 tahun, sedang temannya tetap berusia 60 tahun.
Dalam hal shalat, muslimah memiliki keutamaan yang sangat spesial. Sebab shalatnya di rumah lebih baik daripada shalat jamaah di masjid, sekalipun Masjid Nabawi. (HR. Ahmad, shahih).
Dari Istri Abu Sa'id al-Khudri, ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: Ya Rasulallah, saya lebih suka shalat bersamamu. Rasul SAW menjawab: " Saya tahu bahwa kamu shalat bersamaku, dan shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalat di hujrahmu, shalatmu di hujrahmu lebih baik dari shalat di daar mu, shalat di daarmu lebih baik daripada shalat di masjid kaummu, shalat di masjid kaummu lebih baik daripada shalat di masjidku…..(HR: Ahmad 27135).
Artinya, dengan menjaga shalat lima waktu saja, seorang muslimah seakan memiliki usia 27 kali lebih panjang dalam hal kebaikan. Proyek shalat lain yang sarat pahala adalah shalat sunnah di rumah. Shalat sunnah di rumah berpahala 25 kali lipat dibanding shalat di masjid atau jika dilihat orang lain. (HR. Abu Ya'la, shahih).
Hari Jum'at juga merupakan musim panen pahala yang melimpah ruah. Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa membasuh dan mandi pada hari Jum'at, lalu bergegas berangkat, berjalan dan tidak berkendaraan, dekat dengan imam, mendengarkan dan tidak berbicara (saat khutbah), maka dia mendapat pahala amal selama setahun dengan setiap langkah kaki yang diayunkannya dari rumah hingga ke masjid, yaitu pahala puasa dan shalat malamnya." (HR. Abu Daud, shahih). Jika sekali saja adab Jum'at yang mudah di atas kita laksanakan dan jarak rumah kita dengan masjid 1000 langkah kaki, maka Allah akan menetapkan bagi kita pahala puasa dan shalat malam selama 1000 tahun.
Dan bila hal itu kita lakukan sepanjang tahun berapa kali lipat pahala ditangguk? Subhanallah
Sumber : Ainul Haris, Lc., Buletin Jum'at Ar-Risalah Tahun III No. 30