Thursday, December 08, 2005 

Meraih Pertolongan Allah dengan 3T

Jumat, 09 Desember 2005

Meraih Pertolongan Allah dengan 3T

Tidak berarti amal kebaikan, bila jiwa kita kotor karena dosa. Dan pembersih dosa adalah tobat.

Ada satu berita yang hampir setiap hari muncul dimedia cetak atau elektronik. Yaitu berita tentang penderitaan, bencana, dan kesulitan hidup akibat krisis ekonomi. Ribuan bahkan jutaan orang jatuh miskin. Kenyataan tersebut sebenarnya terjadi di sekitar kita. Bahkan boleh jadi menimpa kita.

Apa yang harus dilakukan? Menjalani ikhtiar untuk memperbaiki hidup adalah satu kewajiban. Namun ada satu hal yang tak boleh kita lupakan, yaitu "kembali kepada Allah". Saudaraku, semua yang ada dan semua yang terjadi ada dalam genggaman Allah. Maka, di tengah kondisi yang kurang mengenakkan ini, sudah selayaknya kita kembali kepada-Nya. Menguatkan kembali kedekatan dan menggantungkan harapan hanya kepada-Nya. Selain Allah hanya sekadar jalan atau perantara saja.

Ada tiga hal yang wajib kita amalkan agar kita layak ditolong Allah. Saya menyingkatnya dalam rumus "3T". "T" pertama adalah tobat. Pertolongan Allah akan tercurah kepada orang-orang yang mau merendahkan diri dan mengakui kesalahannya di hadapan Allah. Tobat bisa diumpamakan dengan membersihkan mangkuk yang berlumur noda, sebelum mngkuk itu diisi dengan makanan. Tak berarti makanan selezat apapun, bila mangkuk yang menampungnya kotor penuh noda. Demikian pula jiwa kita. Tidak berarti amal kebaikan, bila jiwa kita kotor karena dosa. Dan pembersih dosa adalah tobat. Tobat adalah jalan meraih kebahagiaan dan cinta Allah. Difirmankan, Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai kaum Mukminin, supaya kamu semua berbahagia (QS An-Nur [24]: 31). Juga dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 222, Sesungguhnya Allah itu menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Maka pantas kalau Rasulullah SAW bertobat tak kurang dari 70 kali sehari.

Ada empat syarat tobat. Yaitu: (1) menyesal dengan sebenarnya, seperti menyesalnya seorang ibu yang membunuh anaknya; (2) eksplisit memohon ampun kepada Allah; (3) tidak mengulanginya lagi; dan (4) mengiringinya dengan amal saleh.

"T" kedua adalah taat. Siapa pun yang ingin ditolong oleh Allah, setelah taubatan nasuha, maka ia harus bersungguh-sungguh taat kepada Allah taat. Tingkatkan ibadah. Jangan sia-siakan shalat berjamaah di masjid, sempurnakan dengan tahajud, dhuha, dan rawatib. Perbanyak sedekah, santuni orang miskin. Biasakan shaum sunnat, khususnya Senin Kamis atau Daud. Pokoknya, laksanakan semua ibadah yang dicintai Allah Azza wa Jalla. Semakin dekat kita dengan Allah, insya Allah akan semakin dekat pula datangnya pertolongan dan kebahagiaan hidup.

"T" ketiga adalah tawakal. Saudaraku, baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Maka apapun yang kita lakukan, serahkan semuanya kepada Allah. Kita jangan terlalu yakin dengan kehebatan dan kepintaran kita. Tapi yakinlah seratus persen kepada-Nya.

Dalam QS Ath-Thalaq [65] ayat 2-3, Allah berjanji kepada ahli tawakal, Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Wallahu a'lam
( KH Abdullah Gymnastiar )

 

Membangun Masa Depan

Jumat, 02 Desember 2005

Membangun Masa Depan

Hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.

Orang paling rugi di dunia ini adalah orang yang diberikan modal, tapi modal itu ia hamburkan sia-sia. Dan, modal termahal dalam hidup adalah waktu. Dalam QS Al-'Asher [103] ayat 1-3, Allah SWT berfirman bahwa untung ruginya manusia dapat diukur dari sikapnya terhadap waktu. Kalau ia berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong orang yang menyia-nyiakan kehidupan. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Ada tiga jenis waktu. Pertama, masa lalu. Ia sudah lewat, sehingga ada di luar kontrol kita. Banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang memalukan. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita. Kedua, masa depan. Kita sering panik menghadapi masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit, dan lainnya. Walau demikian, masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Inilah bentuk waktu yang ketiga.

Seburuk apa pun masa lalu kita, kalau hari ini kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri, insya Allah semua keburukan itu akan terhapuskan. Demikian pula dengan masa datang. Maka sungguh mengherankan melihat orang yang bercita-cita tapi tidak melakukan apa pun untuk meraihnya. Padahal hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.

Belajar menghitung
Saudaraku, kita harus mulai menghitung semua yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah sebuah jaminan. Kita bisa terpuruk hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan dengan kata-kata. Uang yang kita dapatkan sekarang adalah tabungan masa depan. Bila kita dapatkan dengan cara tidak halal, niscaya aibnya akan segera kita rasakan.

Karena itu, terlalu bodoh andai kita melakukan hal yang sia-sia. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit yang buahnya akan kita petik di masa depan. Kalau kita terbiasa berhati-hati dalam berbicara, dalam bersikap, dalam mengambil keputusan, dalam menjaga pikiran dan hati, maka kapan pun malaikat maut menjemput, kita akan selalu siap. Tapi kalau kita bicara sepuasnya, berpikir sebebasnya, tak usah heran bila saat kematian menjadi saat paling menakutkan.

Menyongsong masa depan cerah
Ada tiga cara agar masa depan kita cerah. Pertama, pastikanlah hari-hari kita menjadi sarana penambah keyakinan pada Allah. Kita tidak akan pernah tenteram dalam hidup kecuali dengan keyakinan pada Allah SWT. Pupuk dari keyakinan adalah ilmu. Orang-orang yang tidak suka menuntut ilmu, maka imannya tidak akan bertambah. Bila iman tidak bertambah, maka hidup pun akan mudah goyah.

Kedua, tiada hari berlalu kecuali jadi amal. Di mana pun kita berada lakukan yang terbaik. Segala sesuatu harus menjadi amal. Dilihat atau tidak dilihat kita jalan terus.

Ketiga, terus melatih diri agar mampu menasihati orang lain dalam kebenaran dan kesabaran, dan terus melatih diri untuk mampu menerima nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Kita akan mampu memberi nasihat, kalau kita senang diberi nasihat. Wallahu a'lam

( KH Abdullah Gymnastiar )

 

Menuju Umat Bersatu

Jumat, 25 Nopember 2005

Menuju Umat Bersatu

Segala sesuatu itu ibda' binafsih, dimulai dari diri kita. Kalau kita hanya sibuk menuntut, maka itulah yang membuat kita tidak bisa berbuat banyak.

Nikmat bisa merasakan hidup bersama dengan sesama manusia itu indah. Karena ternyata banyak orang yang hidup dengan manusia bukannya indah tapi malah nestapa. Tentu bukan salah orang lain semata, tapi yang paling penting kita mulai berpikir mengapa kok bergaul dengan orang lain tidak seindah semestinya.

Guru kami, KH Khoer Affandi, pimpinan Pesantren Manonjaya, pernah bersyair, "Anu potong jang-jang jangkrik. Anu semplak suku jangkrik, anu ngajerit suku jangkrik, anu paeh jangkrik, anu surak nu ngadukennana. (Yang patah umat Islam, yang remuk umat Islam, yang sakit umat Islam, yang bersorak yang mengadukannya)".

Sama halnya dengan bangsa kita, sebagai negara yang umat Islamnya terbanyak di dunia, alamnya kaya, luas, maka kalau kita maju pasti ada orang yang tidak suka bagi yang hatinya kotor. Sebetulnya kita sengsara bukan karena hebatnya orang lain. Mereka memperlakukan kita, karena kita sendiri lemah. Maka dari pada sibuk memikirkan orang lain yang zhalim, lebih baik kita pikirkan bagaimana menjadi komponen yang bersatu. Beberapa kiat berikut mudah-mudahan dapat menjadi bahan renungan dalam mempersatukan umat.

Pertama, latihan berbeda pendapat. Kita lihat sebuah masjid yang begitu indah, kokoh dan megah. Penyebab pertama adalah karena bahan yang digunakan berbeda-beda. Ada semen, ada batu, bata, pasir, air, dan ada beton. Sayangnya, umat Islam belum terbiasa dengan beda-beda. Kita kalau berbeda pendapat itu dianggap musuh. Sahabatku, kita butuh pendapat yang berbeda supaya wawasan kita bertambah, serta bisa mengukur pendapat kita benar atau tidaknya. Kita pun butuh pendapat yang berbeda supaya kita makin kokoh dan makin kuat.

Wajar ketika anak berbeda pendapat dengan orang tua. Yang harus kita perhatikan adalah etikanya. Tidak mungkin orang tua sama dengan anak karena ukurannya beda. Sehingga orangtua harus siap berbeda pendapat dengan anak. Yang penting tujuannya sama. Kita jangan sampai terjebak. Berbeda pendapat bukan tanda permusuhan. Beda pendapat adalah wahana saling melengkapi.

Kedua, jangan suka menonjolkan diri. Wa'tashimu bihablillahi jami'a wala tafarraqu, untuk diakui jasa itu tidak usaha selalu kelihatan. Terkadang, kita ingin terlihat paling menonjol, paling hebat, dan paling penting. Kalau kita saling menonjolkan diri maka tidak akan bisa bersatu. Kita harus siap menerima kenyataan bahwa Islam itu begitu hebat dan begitu dahsyat. Diciptakan oleh Allah dari Nabi Adam sampai kiamat nanti, disempurnakan oleh risalah Rasulullah SAW. Itu mencakup peradaban dari zaman dulu, modern, hingga postmodern. Mana mungkin muat dalam kepala kita yang baru belajar Islam kemarin sore?

Maka, belajarlah untuk tidak harus menonjolkan diri. Kalau mau berjuang jadilah seperti besi beton dia tidak kelihatan tapi dia menguatkan, hasilnya semua orang mengakui. Orang ikhlas itu pandai menyembunyikan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan keburukannya. Imam Ali mengatakan, "Orang yang ikhlas maka sekecil apa pun kebaikannya, Allah yang membesar-besarkannya. Tapi orang yang riya dan pamer maka dia akan dihinakan oleh Allah dengan pamernya".

Ketiga, jangan meremehkan orang lain. Kita tidak bisa berbuat apa pun tanpa orang lain. Persatuan kita hanya akan teguh kalau budaya menghina itu sudah hilang pada diri kita. Daripada capek karena menghina orang lain lebih baik banyak berbuat memperbaiki orang lain, itu lebih menyelesaikan masalah. Karena kalau banyak omong maka omongan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Mulai sekarang berhentilah meremehkan orang lain. Karena pendek bikinan Allah, sipit bikinan Allah, makin tidak capek kita menghina makin gampang kita bersilaturahmi.

Keempat, mulai menuntut diri sendiri. Yang namanya ukhuwah tidak bisa didapat dengan menuntut orang lain. Persatuan itu syaratnya menuntut diri. Segala sesuatu itu ibda' binafsih, dimulai dari diri kita. Kalau kita hanya sibuk menuntut, maka itulah yang membuat kita tidak bisa berbuat banyak. Tuntutlah diri. Orang yang terlalu sibuk menuntut orang lain berbuat sesuatu, maka dialah yang binasa karena tuntutannya sendiri. Dalam situasi seperti sekarang, kita harus berbuat, berbuat dan berbuat karena itu yang akan kita dapatkan. Wallahu a'lam.

( KH Abdullah Gymnastiar )

 

Menuju Umat Bersatu

Jumat, 25 Nopember 2005

Menuju Umat Bersatu

Segala sesuatu itu ibda' binafsih, dimulai dari diri kita. Kalau kita hanya sibuk menuntut, maka itulah yang membuat kita tidak bisa berbuat banyak.

Nikmat bisa merasakan hidup bersama dengan sesama manusia itu indah. Karena ternyata banyak orang yang hidup dengan manusia bukannya indah tapi malah nestapa. Tentu bukan salah orang lain semata, tapi yang paling penting kita mulai berpikir mengapa kok bergaul dengan orang lain tidak seindah semestinya.

Guru kami, KH Khoer Affandi, pimpinan Pesantren Manonjaya, pernah bersyair, "Anu potong jang-jang jangkrik. Anu semplak suku jangkrik, anu ngajerit suku jangkrik, anu paeh jangkrik, anu surak nu ngadukennana. (Yang patah umat Islam, yang remuk umat Islam, yang sakit umat Islam, yang bersorak yang mengadukannya)".

Sama halnya dengan bangsa kita, sebagai negara yang umat Islamnya terbanyak di dunia, alamnya kaya, luas, maka kalau kita maju pasti ada orang yang tidak suka bagi yang hatinya kotor. Sebetulnya kita sengsara bukan karena hebatnya orang lain. Mereka memperlakukan kita, karena kita sendiri lemah. Maka dari pada sibuk memikirkan orang lain yang zhalim, lebih baik kita pikirkan bagaimana menjadi komponen yang bersatu. Beberapa kiat berikut mudah-mudahan dapat menjadi bahan renungan dalam mempersatukan umat.

Pertama, latihan berbeda pendapat. Kita lihat sebuah masjid yang begitu indah, kokoh dan megah. Penyebab pertama adalah karena bahan yang digunakan berbeda-beda. Ada semen, ada batu, bata, pasir, air, dan ada beton. Sayangnya, umat Islam belum terbiasa dengan beda-beda. Kita kalau berbeda pendapat itu dianggap musuh. Sahabatku, kita butuh pendapat yang berbeda supaya wawasan kita bertambah, serta bisa mengukur pendapat kita benar atau tidaknya. Kita pun butuh pendapat yang berbeda supaya kita makin kokoh dan makin kuat.

Wajar ketika anak berbeda pendapat dengan orang tua. Yang harus kita perhatikan adalah etikanya. Tidak mungkin orang tua sama dengan anak karena ukurannya beda. Sehingga orangtua harus siap berbeda pendapat dengan anak. Yang penting tujuannya sama. Kita jangan sampai terjebak. Berbeda pendapat bukan tanda permusuhan. Beda pendapat adalah wahana saling melengkapi.

Kedua, jangan suka menonjolkan diri. Wa'tashimu bihablillahi jami'a wala tafarraqu, untuk diakui jasa itu tidak usaha selalu kelihatan. Terkadang, kita ingin terlihat paling menonjol, paling hebat, dan paling penting. Kalau kita saling menonjolkan diri maka tidak akan bisa bersatu. Kita harus siap menerima kenyataan bahwa Islam itu begitu hebat dan begitu dahsyat. Diciptakan oleh Allah dari Nabi Adam sampai kiamat nanti, disempurnakan oleh risalah Rasulullah SAW. Itu mencakup peradaban dari zaman dulu, modern, hingga postmodern. Mana mungkin muat dalam kepala kita yang baru belajar Islam kemarin sore?

Maka, belajarlah untuk tidak harus menonjolkan diri. Kalau mau berjuang jadilah seperti besi beton dia tidak kelihatan tapi dia menguatkan, hasilnya semua orang mengakui. Orang ikhlas itu pandai menyembunyikan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan keburukannya. Imam Ali mengatakan, "Orang yang ikhlas maka sekecil apa pun kebaikannya, Allah yang membesar-besarkannya. Tapi orang yang riya dan pamer maka dia akan dihinakan oleh Allah dengan pamernya".

Ketiga, jangan meremehkan orang lain. Kita tidak bisa berbuat apa pun tanpa orang lain. Persatuan kita hanya akan teguh kalau budaya menghina itu sudah hilang pada diri kita. Daripada capek karena menghina orang lain lebih baik banyak berbuat memperbaiki orang lain, itu lebih menyelesaikan masalah. Karena kalau banyak omong maka omongan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Mulai sekarang berhentilah meremehkan orang lain. Karena pendek bikinan Allah, sipit bikinan Allah, makin tidak capek kita menghina makin gampang kita bersilaturahmi.

Keempat, mulai menuntut diri sendiri. Yang namanya ukhuwah tidak bisa didapat dengan menuntut orang lain. Persatuan itu syaratnya menuntut diri. Segala sesuatu itu ibda' binafsih, dimulai dari diri kita. Kalau kita hanya sibuk menuntut, maka itulah yang membuat kita tidak bisa berbuat banyak. Tuntutlah diri. Orang yang terlalu sibuk menuntut orang lain berbuat sesuatu, maka dialah yang binasa karena tuntutannya sendiri. Dalam situasi seperti sekarang, kita harus berbuat, berbuat dan berbuat karena itu yang akan kita dapatkan. Wallahu a'lam.

( KH Abdullah Gymnastiar )