Wednesday, January 03, 2007 

Friday, December 22, 2006 

Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat

Artikel Islami
05 Agustus 2005 - 10:09
Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat
Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)

Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

  1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

  2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

  3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

  4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

  5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

  6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

  7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

  8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

  9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

  10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

  11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

  12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji' :
Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

 

Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya

Tanda-tanda Lemah Iman

  1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
  2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur'an
  3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
  4. Meninggalkan sunnah
  5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
  6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur'an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
  7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
  8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari'ah
  9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
  10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
  11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
  12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
  13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
  14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
  15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
  16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
  17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
  18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
  19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
  20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

  1. Tilawah Al-Qur'an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
  2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
  3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
  4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
  5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
  6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
  7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
  8. Berdo'a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
  9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan
    senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang
    hari itu.
  10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan
    perbuatan buruk.
  11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.
from dudung.net

Saturday, December 02, 2006 

Berbuat Lebih untuk Mendapat Lebih

Jumat, 06 Oktober 2006

Berbuat Lebih untuk Mendapat Lebih


Untuk menjadi anggota pasukan khusus, seorang prajurit harus melewati gemblengan dan serangkaian ujian sangat berat. Latihan-latihan yang mereka laksanakan cenderung keras, menakutkan dan berisiko. Tidak hanya risiko terluka, cacat, bahkan risiko kematian harus mereka hadapi. Sulit sekali prajurit "biasa-biasa" yang latihannya biasa-biasa dapat menjadi anggota pasukan khusus.

Saudaraku, untuk menjadi manusia hebat, kita harus mau melakukan hal lebih dari biasanya. Untuk menjadi anggota Kopasus saja, latihannya demikian serius, apalagi kalau kita ingin menjadi hamba pilihan di hadapan Allah. Kita harus mau berbuat lebih dari sekadar biasa-biasa saja. Kalau shalat, lakukanlah shalat terbaik, awali dengan wudhu terbaik, tepat waktu, di masjid, berjamaah, shaf terdepan (khususnya untuk laki-laki), khusyuk, menggunakan pakaian yang baik dan bersih, wangi-wangian. Lengkapi pula shalat fardhu kita dengan shalat rawwatib. Sangat wajar kita melakukan yang terbaik, bukankah kita akan menghadap Dzat Yang Mahasempurna?

Kalau berzikir, lakukanlah zikir terbaik, jangan asal-asalan. Libatkan hati dan perasaan, jangan sekadar lisan saja. Kalau membaca Alquran, lakukan dengan cara terbaik, tartil dan penuh penghormatan, walau kita tidak paham artinya. Kalau bersedekah, lakukanlah sedekah terbaik, penuh keikhlasan, tidak menyakiti yang diberi. Kalau bekerja, lakukanlah dengan cara terbaik, tidak asal-asalan dan menunda-nunda. Jadilah kita seorang profesional atau seorang expert (ahli).

Demikian pula shaum Ramadhan yang tengah kita jalani, lakukanlah sebaik mungkin. Jangan mau shaum kita tergolong shaum biasa-biasa saja. Jangan sekadar shaum menahan lapar, haus dan kantuk saja. Namun kendalikan pula pancaindra, pikiran dan hati kita dari hal-hal yang dilarang agama. Raih pula semua keutamaan Ramadhan, jangan disia-siakan. Lakukan amal-amal utama Ramadhan sebaik mungkin. Jangan takut melakukan sesuatu yang lebih dari yang orang lain lakukan. Intinya, berbuatlah lebih dari sekadar biasa. Insya Allah, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih pula.

Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak beramal atau sekadar melakukan yang biasa-bisa saja. Sebab Allah SWT telah menganugerahi kita beragam kelebihan dan potensi diri yang luar biasa. Bukankah kita diciptakan sebagai makhluk terbaik? Sebagaimana difirmankan dalam Alquran, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS At Tiin [95]: 4).

Bahkan seorang saleh, Abu Tammam namanya, menyebut ketidaksungguhan sebagai aib yang sulit dimaafkan. Ia berkata, "Tidak ada aib yang kutemukan dalam diri manusia, melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi sempurna, namun tidak mau menjadi sempurna".

Saudaraku, mengapa Rasulullah SAW dan para sahabat menjadi manusia-manusia unggul--yang disegani manusia dan disayangi Allah? Salah satu sebabnya, mereka mau berbuat lebih dan selalu berusaha melakukan amal terbaik. Akhirnya, mereka pun mendapat karunia lebih. Semoga kita bisa meneladani mereka. Amin

( )

 

Manusia Tertipu

Jumat, 20 Oktober 2006

Manusia Tertipu


Salah satu asma Allah adalah Al 'Alim atau Allah Yang Mahatahu. Dia mengetahui segala-galanya. Walau ada semut hitang berjalan di batu hitam di tengah gulitanya malam, sungguh Allah tetap mengetahuinya dengan teramat detail. Demikian pula, Allah Mahatahu segala yang kita lakukan, sekecil apa pun, entah itu lirikan mata, lintasan niat dalam hati, harta yang dinafkahkan, dsb. Allah Mahatahu segalanya. Maka keyakinan kita akan kemampuan Allah dalam mengetahui akan membuat kita terjaga.

Dalam QS Al An'am [6] ayat 59, Allah SWT berfirman, Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).

Saudaraku, ketika kesadaran akan kemahatahuan Allah lemah, maka kita akan terjebat pada ketertipuan dalam amal. Agama menyebutnya ghurur. Penyakit ini bisa menyerang semua segi amaliyah sehingga tidak lagi berarti di hadapan Allah. Dalam bab ilmu misalnya. Ada empat jenis orang yang tertipu berkaitan dengan ilmu yang dimilikinya.

[1] Ada yang berilmu, namun ia tapi tidak melaksanakan ilmunya. Ia merasa terhormat dengan jabatan dan gelar-gelar keilmuannya. Ia yakin akan selamat dunia akhirat. Padahal, ilmu itu pemandu amal. Tidak berguna ilmu tanpa diamalkan.

[2] Ada orang berilmu dan ia mengamalkan ilmunya, namun ia tidak pernah menjaga niatnya. Padahal amal itu tidak hanya harus sah (rukunnya dilakukan) tapi juga harus diterima. Nah, diterima ini urusan niat.

[3] Ada pula yang tahu ilmu dan mau mengajarkannya kepada orang lain, namun ia sendiri tidak mampu mengamalkannya. Misal, ceramah mengajak orang lain berbuat kebaikan, namun ia tidak melaksanakannya. Dakwah yang baik itu bukan memperbaiki orang lain, tapi memperbaiki diri. Orang semacam ini sungguh tertipu. Ia bagaikan lilin, menerangi yang lain namun dirinya terbakar.

[4] Ada yang memiliki ilmu. Namun sayang, ia mengklaim diri dan kelompoknya paling shalih. Sehingga surga diklaim miliknya. Sungguh orang ini tertipu. Bukankah dimensi agama itu luas, sehingga tidak mungkin diborong sendiri?

Ada pula ghurur dalam bab ibadah. Ghurur ini ada yang dari niat. Ia berulang-ulang takbir. Ada pula yang shalatnya disibukkan dengan urusan tajwid dan makhraj, tapi mengabaikan makna. Shalat khusyuk tidak sekadar benar bacaannya, tapi juga derajat thuma'ninah dan penghayatan bacaan. Ada juga yang tertipu waktu shalat, terlalu cepat bacaannya. Tangisan dalam shalat juga bisa menipu. Ada yang nangis betulan karena Allah, tapi ada kegembiraan ketika diketahui orang lain. Ada shalat yang lama, tapi ingin menyaingi orang di sebelahnya. Mahasuci Allah yang mengetahui isi hati.

Ada juga ghurur dalam ceramah. Ada yang mengutip kitab-kitab, karena ingin disangka pandai. Termasuk pula rendah hati. Dalam Hikam disebutkan, "Siapa yang merasa rendah hati, dan ia merasa mulia dengan rendah hati, hakikatnya ia telah sombong". Saat orang merasa mulia ketika melakukan sesuatu, maka sebenarnya ia menganggap tidak layak melakukan hal tersebut.

Kenapa sampai tertipu? Sebab orientasi kita makhluk, bukan Al-Khaliq. Semakin kita ingin dinilai makhluk, maka semakin tertipu diri kita. Menyuruh orang lain sabar, belum tentu kita sabar. Sebelum kita berlatih mengamalkannya. Dengan berkata, belum tentu kita mendapatkan apa yang kita katakan.

Saudaraku, semua amalan berpeluang tertipu, kalau belum Allah yang menjadi tujuannya. Maka kita harus berjuang keras agar kita masuk ketitik yakin, bahwa Allah Mahatahu segalanya dan akan memperhitungkan semua yang kita lakukan. Orientasi kita diterima Allah. Apapun kita lakukan asal diterima Allah. Walau menurut pandangan manusia itu hina. Rasa jengkel adalah buah dari pengharapan kita kepada makhluk. Allah Mahatahu isi hati kita. Jaga niat, cukup hanya Allah Yang Mahatahu.

( KH Abdullah Gymnastiar )

 

Mementingkan Diri

Jumat, 10 Nopember 2006

Mementingkan Diri


Saudaraku, hidup akan terasa nikmat, ringan, dan bahagia tatkala kita memahami tiga prinsip utama dalam hidup. Prinsip pertama, kita hidup di dunia hanya sementara tidak untuk selamanya. Dunia hanya sarana, bukan tujuan utama. Akhiratlah tujuan utama kita. Prinsip kedua, kita terlahir ke dunia tidak membawa apa-apa, dan saat kembali pun kita tidak membawa apa-apa (selain amal). Semua yang kita miliki hanya sekadar titipan, yang sewaktu-waktu bisa diambil pemiliknya.

Prinsip ketiga, setiap perbuatan akan kembali pada pembuatnya. Tidak akan pernah tertukar. Inilah yang akan kita bahas. Kita tidak akan mempertanggungjawabkan perbuatan orang lain. Kita hanya akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita sendiri.

Saudaraku, ketika kita mampu menghayati prinsip ini, maka kita akan lebih mudah mengetahui nasib kita di kemudian hari. Saat melakukan keburukan, maka keburukan pula yang akan kita peroleh. Saat melakukan kebaikan, maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan. Imam Ibnu Atha'ilah menuliskan dalam kitab Hikam, "Tidak berguna bagi Allah taatmu dan tidak mudharat pada Allah maksiat (dosa)mu, dan sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiat (dosa), sebab semuanya adalah untuk kepentinganmu sendiri".

Kemahamuliaan Allah pun tidak akan berubah sedikit pun dengan ketaatan atau pun kemaksiatan yang kita lakukan. Kita sendiri yang akan merasakan akibatnya. Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman, "Wahai hamba-Ku, andaikan orang yang pertama hingga terakhir dari kamu, para jin dan manusia semua bertakwa, maka yang demikian itu tidak menambah kekayaan-Ku sedikit pun. Dan sebaliknya jika kamu melakukan sejahat-jahat perbuatan, maka yang demikian itu tidak mengurangi kekuasaan kerajaan-Ku sedikit pun, kecuali sebagai kurangnya air laut jika diambil dengan jarum…".

Maka, yang terpenting dalam hidup adalah diri kita sendiri. Semuanya harus diawali dari diri sendiri. Sebelum memikirkan orang lain, pikirkan diri kita terlebih dulu. Sebelum mengubah orang lain, ubahlah diri kita terlebih dulu. Sebelum mencerdaskan orang lain, cerdaskanlah diri kita terlebih dulu. Saat kita lebih fokus kepada orang lain, dan mengabaikan diri sendiri, maka semua yang kita lakukan tidak akan maksimal, bahkan bisa mencelakakan.

Dalam konteks ini, mengutamakan bukan berarti egois. Justeru untuk mengikis sikap egois diri. Egois adalah berbuat sesuatu untuk kepentingan diri, walau harus merugikan atau mengorbankan orang lain. Kita memperbaiki diri, memperhatikan diri, mencerdaskan diri kita tujukan untuk kemanfaatan orang lain. Kita mencari sebanyak mungkin harta, bukan untuk memuaskan nafsu, tapi untuk mendistribusikannya bagi banyak orang. Kita belajar mati-matian, bukan untuk membodohi diri, tapi untuk mengajar orang lain agar bisa pintar. Pun juga, kita memperbaiki diri, bukan untuk kebanggaan, tapi agar bisa mengubah orang lain jadi lebih baik.

Saudaraku, inilah kesuksesan yang hakiki. Sukses kita bukan sukses sendiri, tapi bisa menyukseskan orang lain. Bukankah, khairunnaas anfa'uhhum linnaas; sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain? Semoga kita termasuk jenis manusia ini. Amin.

( KH Abdullah Gymnastiar )

 

Ketika Allah Menjadi Tujuan

Jumat, 01 Desember 2006Ketika Allah Menjadi Tujuan
Ada kejadian menarik ketika saya melakukan umroh beberapa waktu lalu. Di depan Multazam sempat terjadi keributan antara dua orang. Seorang dari mereka ngotot ingin terus berdoa, sedangkan seorang lagi ingin segera kebagian jatah berdoa.
"Hai cepat berdoanya, sekarang jatahnya orang lain!," bentaknya. Semakin diminta berhenti, orang yang dibentak tersebut malah terlihat semakin khusyuk dan terus merapat ke dinding. Orang itu bertambah kesal. Ditariknya orang yang tengah berdoa itu hingga hampir terjatuh. Adu mulut pun tak terelakkan. Tampaknya orang yang ditarik tidak terima dengan perlakukan tersebut.
"Kenapa kamu berbuat kasar kepada saya?," ujarnya.
"Kamu tidak tahu diri. Yang ingin berdoa di sini bukan cuma kamu, saya juga!," balas yang satu lagi.
"Saya jauh-jauh datang ke sini untuk berdoa, saya rindu kepada Allah, tapi mengapa tega-teganya engkau berbuat kasar kepadaku?"
"Yang rindu dan butuh kepada Allah bukan hanya kamu, aku pun sama. Aku pun jauh-jauh datang ke sini untuk memenuhi panggilan Allah."
Sejenak keduanya terdiam, termenung dan saling pandang.
"Eh, kalau Allah tujuan kita, kenapa ya kita sampai bertengkar!"
"Iya ya, betul juga, kenapa kita saling menyakiti."
Menarik sekali, sesudah bicara seperti itu kedua orang tersebut berpelukan dan saling meminta maaf. Indah sekali. Kejadian ini terjadi persis di depan saya. Ketika itu saya tidak bisa bicara apa-apa, selain mengucapkan tasbih dan takbir. Terpesona akan kekuasaan Allah dalam membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya yang beriman. Awalnya saling benci, tak lama kemudian saling menyayangi.
Hikmah terbesar dari kejadian langka ini adalah, apapun yang dilakukan karena Allah, pasti akan berbuah kebaikan. Setiap masalah yang dikembalikan kepada Allah, pasti akan terselesaikan dengan baik, tidak akan berlarut-larut. Lihatlah masa Rasulullah SAW dan para sahabat. Hampir tidak ada masalah yang berlarut-larut dan tak terpecahkan, karena semuanya dikembalikan kepada Allah.
Logikanya jelas, kita adalah ciptaan Allah, yang menguasai segenap masalah adalah Allah, yang paling tahu kebutuhan kita adalah Allah, yang layak menjadi tujuan hidup kita adalah Allah, semua kejadian ada dalam genggaman Allah. Maka, apa yang diputuskan Allah pasti yang terbaik bagi kita. Allah tidak mungkin mendzalimi hamba-hamba-Nya.
Saudaraku, yang membuat hidup kita ruwet, penuh konflik yang tak terselesaikan, adalah ketika kita lebih mengedepankan hawa nafsu serta kepentingan diri daripada aturan dan kehendak Allah. Sebab, di mana pun dan kapan pun, selama kita lebih memperturutkan nafsu, selama itu pula hidup akan sengsara. Sayangnya, kita lebih mempercayai kemampuan diri yang tidak ada apa-apanya ini, dibanding dahsyatnya pertolongan Allah. Maka tak heran andai masalah senantiasa membelenggu dan menenggelamkan kita.
Ingin bahagia dalam hidup? Jadikanlah Allah sebagai tujuan dan cita-cita hidup kita. Ingin keluarga harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah? Jadikanlah aturan Allah dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup berkeluarga. Wallaahu a'lam. ( KH Abdullah Gymnastiar )

Wednesday, August 30, 2006 

Menyiasati Usia Pendek

"Umur umatku berkisar antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu." (HR. At-Tirmidzi3550, Ibnu Hibban 7/246 dan Ibnu Majah 4236, shahih).

Menetapkan usia adalah hak prerogatif Allah. Adalah hak Allah menetapkan usia seseorang pendek atau panjang. Nabi Adam as, bapak segenap umat manusia berusia 1000 tahun. Nabi Nuh as berusia 950 tahun. Dan rata-rata kaum para nabi terdahulu itu juga memiliki usia yang panjang.

Berbeda dengan umat terdahulu, umat Nabi Muhammad SAW usianya singkat dan terbatas. Rata-rata di bawah usia 70 tahun. Panjang pendek usia tak bisa ditawar, meski sepersekian detik. Al-Qur'an menegaskan (yang artinya):

"Maka bila telah datang ajal, mereka tidak dapat menundanya barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya." (Al-A'raf: 34).

Dan yang pasti, tak mungkin ada lagi manusia yang mencapai usia 1000 tahun, seperti yang dimiliki umat terdahulu. Jika dikalkulasi, kurang lebih masa produktif umur manusia sekarang adalah 20 tahun. Bila umur seseorang 60 tahun, maka untuk tidur saja ia perlukan 20 tahun jika tiap harinya ia tidur delapan jam. Lalu, 15 tahun adalah masa kanak-kanak, puber dan penyesuaian. Untuk makan, buang hajat, transportasi, istirahat dan hal-hal privacy lainnya menghabiskan 2-3 jam perharinya. Jika ditotal memakan usia sekitar 5 tahun. Sepertiga sisa usianya (20 tahun) inilah yang harus ia pertaruhkan untuk bisa produktif. Produktif untuk kepentingan dunia dan akhiratnya. Yang kelak pada hari Kiamat, sama-sama dipertanggungjawabkan dengan mereka yang berusia 1000 tahun.

Mungkin di antaranya karena dikejar usia, manusia modern berusaha produktif, efisien dan efektif. Saking produktifnya, ada orang yang merasa kurang dengan rotasi waktu 24 jam. Dengan kemajuan teknologi, secara aktivitas duniawi manusia sekarang bisa jadi telah melampaui batas efisiensi usia hingga 1000 tahun. Segala sesuatu dibuat serba instan, praktis, cepat dan otomatis; makanan, minuman, barang-barang elektronik hingga produk ilmu pengetahuan. Hal yang jauh berbeda dengan saat nenek moyang kita dahulu. Di mana untuk keperluan domestik, seperti sandang, pangan, papan dan transportasi mereka harus berjuang keras menaklukkan ganasnya alam dan perlu waktu hingga bertahun-tahun. Kita bersyukur dengan anugerah kemenangan duniawi ini. Pertanyaannya adalah, bagaimana agar kemenangan kita sebagai manusia modern tidak saja sebatas dalam urusan dunia tapi juga dalam kehidupan akhirat?

Al-Qur'an sering menganalogkan kehidupan akhirat dengan perdagangan atau bisnis. (QS.2:16; 61:10-11). Artinya, diperlukan kecermatan untuk menangkap peluang-peluang yang mendatangkan pahala sebagai deposito akhirat. Oleh Al-Qur'an, sering pula kita disentil dengan ungkapan-ungkapan agar kita lebih produktif, efisien dan efektif dalam urusan akhirat. Misal, firman Allah SWT, yang artinya:

"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat pula balasannya." (QS. 99; 7-8)

Jika dicermati, karakter kualitas pahala yang melimpah ruah bagi umat Muhammad SAW adalah sangat relevan dengan karakter manusia modern. Yaitu serba ekonomis, instan, praktis dan penuh produktifitas. Meski dengan usia sangat pendek, umat Muhammad SAW -dengan rahmat Allah- sangat potensial memproduksi pahala berkali lipat dibanding umat terdahulu yang berusia hingga ribuan tahun. Umat ini banyak diberi keistimewaan pahala yang tidak diberikan kepada umat terdahulu.

Sebagaimana diinformasikan Nabi SAW, banyak proyek kebaikan yang mendatangkan pahala berlipat-lipat. Di antaranya adalah memperbanyak shalat di Masjidil Haram (MH) dan Masjid Nabawi (MN).

Dari Jabir ra. Rasulullah SAW bersabda: "Shalat di masjidku ini lebih baik seribu kali daripada shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih baik (daripada shalat di tempat lain) sebanyak seratus ribu kali." (HR: Ahmad, Shahih)

Di MH pahalanya dilipatkan 100.000 kali. Di MN dilipatkan 1000 kali. Kalkulasi perbandingannya begini. Orang yang setiap hari shalat rawatib 12 rakaat di selain MH satu tahun ia baru mendapatkan 4320 rakaat. Sedang dua rakaat di MH sama dengan 200.000 rakaat. Artinya, untuk mendapatkan pahala shalat 200.000 rakaat di selain MH -padahal di MH cukup dua rakaat- diperlukan waktu selama 40 tahun tiga bulan, dengan shalat rawatib tiap harinya 12 rakaat.

Bila seorang haji aktif shalat jamaah di MH selama 15 hari berikut shalat rawatib maka nilainya sama dengan shalat 43.500.000 rakaat di luar MH, belum lagi hitungan shalat jamaahnya. Artinya, sama dengan ia shalat di luar MH ( sebanyak 17 rakaat shalat wajib dan 12 rakaat rawatib) selama 4166 tahun lebih enam bulan. Soal jamaah shalat di masjid, Nabi SAW menyebutkan pahalanya lebih utama 27 derajat dari shalat sendirian. (HR. Bukhari Muslim). Artinya, bila ada dua orang yang satu biasa shalat sendirian dan lainnya selalu berjamaah sepanjang hidupnya maka seakan-akan umur yang selalu berjamaah lebih panjang 27 kali dari kawannya. Bila ia biasa berjamaah sejak usia 15 tahun dan usianya 60 tahun, itu artinya ia seperti berusia 1215 tahun, sedang temannya tetap berusia 60 tahun.

Dalam hal shalat, muslimah memiliki keutamaan yang sangat spesial. Sebab shalatnya di rumah lebih baik daripada shalat jamaah di masjid, sekalipun Masjid Nabawi. (HR. Ahmad, shahih).

Dari Istri Abu Sa'id al-Khudri, ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: Ya Rasulallah, saya lebih suka shalat bersamamu. Rasul SAW menjawab: " Saya tahu bahwa kamu shalat bersamaku, dan shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalat di hujrahmu, shalatmu di hujrahmu lebih baik dari shalat di daar mu, shalat di daarmu lebih baik daripada shalat di masjid kaummu, shalat di masjid kaummu lebih baik daripada shalat di masjidku…..(HR: Ahmad 27135).

Artinya, dengan menjaga shalat lima waktu saja, seorang muslimah seakan memiliki usia 27 kali lebih panjang dalam hal kebaikan. Proyek shalat lain yang sarat pahala adalah shalat sunnah di rumah. Shalat sunnah di rumah berpahala 25 kali lipat dibanding shalat di masjid atau jika dilihat orang lain. (HR. Abu Ya'la, shahih).

Hari Jum'at juga merupakan musim panen pahala yang melimpah ruah. Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa membasuh dan mandi pada hari Jum'at, lalu bergegas berangkat, berjalan dan tidak berkendaraan, dekat dengan imam, mendengarkan dan tidak berbicara (saat khutbah), maka dia mendapat pahala amal selama setahun dengan setiap langkah kaki yang diayunkannya dari rumah hingga ke masjid, yaitu pahala puasa dan shalat malamnya." (HR. Abu Daud, shahih). Jika sekali saja adab Jum'at yang mudah di atas kita laksanakan dan jarak rumah kita dengan masjid 1000 langkah kaki, maka Allah akan menetapkan bagi kita pahala puasa dan shalat malam selama 1000 tahun.

Dan bila hal itu kita lakukan sepanjang tahun berapa kali lipat pahala ditangguk? Subhanallah

Sumber : Ainul Haris, Lc., Buletin Jum'at Ar-Risalah Tahun III No. 30

 

Pentingnya Menjaga Sholat Lima Waktu

Wajib Sholat Lima Waktu

Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Ash-sholatu 'imaa dud-dini faman aqomaha faqod aqomad-dina waman tarokaha faqod hadamad-dina".

Artinya :

Bermula bahwasanya sholat lima waktu itu tiang agama, maka barang siapa mendirikan sholat maka sesungguhnya ia mendirikan agama, barang siapa yang meninggalkan sholat maka sesungguhnya ia telah merubuhkan agamanya.

Dan Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Man tarokash-sholata 'andan faqod kafaro jiharon".

Artinya :

Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja maka kafirlah ia dengan nyata.

Dan Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Awwalu maa yuhasabu bihil 'abdu yaumal kiyamati min 'amalihi sholatuhu fain sholuhat faqod aflaha wa anjaha wa in naqosot faqod khoba wakhosiro".

Artinya :

Mula-mula diperiksa akan amal-amal si hamba di hari qiyamat itu sholatnya, maka jika sholatnya itu sempurna maka telah beruntunglah ia dengan diterimanya lain-lain amalnya pula, jika sholatnya kurang maka sesungguhnya rugilah ia dan sia-sialah lain-lain amalnya adanya.

Dan Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Man hafadzo 'alash-sholati akromahullohu ta'ala bihomsati khisholin yarfa'u 'anhu dhoiqul ma'isyati wa'azabul qobri wayu'thihillahu ta'ala kitabuhu biyaminihi wayamurru 'alash-shiroti kalbarqi wayadkhulul jannata bighoiri hisab".

Artinya :

Barang siapa memelihara sholat lima waktu maka dimulyakan oleh Alloh Ta'ala dengan lima perkara : pertama dijauhkan daripada kesempitan rizkinya, kedua ia tiada kena siksa kubur, ketiga dihari qiyamat diberi kitab segala amalnya ditangan kanan, keempat jalan di atas shirhotol (jembatan) seperti kilat, kelima masuk syurga tiada dengan hisab.

Dan Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Waman tahawana bish-sholati 'aqobahullohu ta'ala bikhomsa 'asyrota 'uqubatan khomsun fid-dun-ya wasalasatun 'indal mauti, wasalasatun fi qobrihi, wasalasatun 'inda khurujihi minal qobri".

Artinya :

Barang siapa meninggalkan sholat dengan tiada uzur maka akan dibalas akan dia dengan lima belas siksaan, bermula lima daripada itu didalam dunia dan yang tiga ketika ia lagi mati, dan yang tiga didalam kuburnya, dan yang tiga diwaktu bangkit dari kuburnya.

Makna hadist ini hingga akhir:

Adapun lima rupa siksa yang didalam dunia adalah:

1. Hilang berkah pada umurnya.
2. Dihilangkan tanda-tanda orang soleh dari mukanya.
3. Tiap-tiap amalnya yang soleh tiada keterima.
4. Tiada dikabulkan do'anya,
5. Tiada dapat bagian do'a orang yang soleh.

Adapun yang tiga dari siksa itu ketika ia hendak mati maka adalah:

1. Ia mati hina.
2. Mati dengan terlalu lapar.
3. Mati dengan terlalu dahaga sekalipun diberi minum sekalian air didunia ini maka tiada akan menghilangkan dahaganya.

Adapun siksa yang didalam kuburnya adalah:

1. Ia dijepit oleh kuburnya hingga bersalah-salahan tulang iganya.
2. Dinyalakan api didalam kuburnya sehingga ia berbalik-balik didalam kubur diatas barah api siang dan malam.
3. Ia disiksa pula oleh malaikat syaja'il aqro', dimana dua mata malaikat itu dari api dan segala kuku-kuku dari besi yang menyala, suaranya seperti halilintar, dan ia berkata : "aku diperintah akan memukul engkau, engkau hilangkan sholat shubuh sampai terbit matahari, engkau hilangkan sholat zhuhur sampai waktu ashar, engkau hilangkan sholat ashar sampai waktu maghrib, engkau hilangkan waktu maghrib sampai waktu isya, dan engkau hilangkan sholat isya sampai waktu fajar" lalu ia memukul, tiap-tiap sekali pukulan terpendamlah orang itu kedalam bumi tujuh puluh hasta dan disiksa ia sampai hari qiyamat.

Adapun siksa waktu bangkit kubur adalah:

1. Ia sangat mendapat hisab.
2. Mendapat murka Alloh.
3. Ia dimasukkan kedalam neraka.

Maka lihatlah dan dengarlah bagaimana halnya orang yang menta'khirkan sholat sampai luput waktunya, begitu keras siksanya. Apalagi jika meninggalkan sholat tanpa udzur. Marilah kita sama-sama memperhatikan sholat lima waktu kita.

Sunday, August 20, 2006 

Meraup Pahala Menjelang Shalat

Mempersiapkan diri untuk shalat artinya mempersiapkan sebuah pekerjaan yang sangat besar dan mulia. Maka persiapan shalat di dalam Islam memiliki keutamaan tak terhingga yang dengannya seorang muslim dapat menuai kebaikan dan pahala yang tak berbilang.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu kita perhatikan sebelum kita shalat, semoga kita dapat merealisasikannya sehingga berhak memperoleh berbagai keutamaan dan kebaikan yang amat banyak.

1. Berwudhu

Diantara keutamaan wudhu adalah sebagai berikut:

Kecintaan Allah, sebagaimana firman-Nya, artinya, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. 2:222)

Dosa Berguguran Bersama air wudhu

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, maka tatkala ia membasuh wajahnya keluarlah dari wajahnya seluruh dosa yang dilakukan matanya bersamaan dengan air itu atau dengan tetesan terakhirnya. Apabila dia membasuh dua tangannya maka akan keluar seluruh dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air itu atau tetesan air yang terakhir. Apabila dia membasuh dua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang telah dilangkahkan oleh kakinya bersama air atau tetesannya yang terakhir sehingga dia selesai wudhu dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (HR. Muslim)

Anggota Wudhu bercahaya di Hari Kiamat

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Sesungguhnya umatku dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjilin (wajahnya bercahaya dan badannya bersinar) karena bekas wudhu, maka barang siapa mampu untuk memanjangkan ghurrah hendaklah melakukannya." (HR al Bukhari dan Muslim).

Dosa Terhapus dan Derajat Terangkat

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat?" Para sahabat menjawab, Tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabada,
"Menyempurnakan wudhu' dalam keadaan tidak disukai (seperti cuaca sangat dingin -red), memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah shalat, dan itulah ribath.' (HR Muslim)

Yang dimaksud ar-ribath (ikatan) adalah karena amalan-amalan itu mengikat yang bersangkutan dari berbagai kemaksiatan dan dosa. Sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa selalu ingat tali yang melingkar dileher musuh, karena ingin mendapatkan syahid dan ampunan Allah. Wallahu a'lam.

Dosa Terampuni dan Masuk Surga

Utsman bin Affan ra, dia berwudhu lalu berkata, "Aku melihat Rasulullah saw berwudhu seperti wudhuku ini lalu bersabda, "Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini lalu shalat dua rakaat tanpa berbicara sesuatu terhadap diri sendiri dalam dua rakaat itu maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Muslim)

Uqbah bin 'Amir Radhiallaahu anhu berkata, Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah seseorang berwudhu lalu membaguskan wudhunya dan shalat dua rakaa'at, hati dan wajahnya khusyu' pada dua rakaat itu kecuali wajib baginya Surga." (HR al-Bukhari dan Muslim)

2. Dzikir Setelah Wudhu

Dzikir setelah wudhu juga memiliki keutamaan yang sangat besar, diantaranya adalah:

Bebas Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja.
Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu, Rasulullah saw bersabda, artinya,
"Tidakalah salah seorang diantara kalian berwudhu, lalu membaguskan wudhunya kemudian mengucapkan, 'Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh', kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan lalu dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia inginkan." (HR Muslim)

Ditulis dalam Lembaran Yang tidak rusak hingga hari Kiamat

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, "Barang siapa berwudhu lalu mengucapkan, "Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an la ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik, maka akan ditulis di dalam lembaran lalu di kunci dan tidak akan rusak hingga Hari Kiamat." (HR ath-Thabrani dalam al Ausath, sebagimana dikatakan al Mundziri dalam at-Targhib)

3. Bersiwak

Siwak adalah kebersihan bagi mulut dan mendatangkan keridhaan Allah, sebagaimana hadits yang bersumber dari Aisyah ra dia berkata bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Siwak adalah kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb."

4.Bersegera Menuju Shalat

Nabi saw bersabda, artinya, "Andaikan orang-orang mengetahui apa (kebaikan) yang ada pada adzan dan shaf awal lalu mereka tidak mendapati kecuali dengan mengundinya tentu mereka akan mengundi, dan andaikan mereka tahu apa yang diperoleh ketika bersegera menuju shalat maka tentu mereka akan berlomba menuju ke sana." (Muttafaq 'alaih)

Hal ini juga merupakan bukti ketergantungan hati kita dengan masjid yang dijanjikan oleh Rasulullah saw mendapatkan naungan dari Allah pada Hari Kiamat.

5.Meniru ucapan Muadzin

Menirukan muadzin memiliki keutamaan yang tidak ternilai, yaitu masuk surga.
Dalam hal ini bukan sekedar menirukan, akan tetapi dengan segenap hati, memahami dengan benar maknanya serta mengamalkan apa yang dia ucapkan itu. Diantara hadits yang menjelaskan hal itu adalah yang diriwayatkan Abu Hurairah ra dia berkata, "Kami bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lalu Bilal berdiri mengumandangkan adzan, ketika bilal diam beliau bersabda, "Barang siapa yang mengucapkan seperti yang diucapkan Bilal ini dengan yakin niscaya masuk surga." (HR Ahmad, an Nasai dan Ibnu Hibban)

6.Dzikir Setelah Adzan

Dzikir setelah adzan memiliki keutamaan sebagai berikut:

Dosa Terampuni
Dari Sa'ad bin Abi Waqash, Dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Barang siapa ketika mendengar adzan mengucapkan, "Wa ana asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluhu, radhitu billahi rabba, wabil islami diina, wa bimuhammadin rasula, maka Allah akan mengampuni dosanya." (HR Muslim)

Mendapatkan syafa'at Nabi saw
Jabir bin Abdillah meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda bahwa barang siapa ketika mendengar adzan mengucapkan, "Allahumma rabba hadzihid da'watit taammah... dan seterusnya maka berhak mendapatkan syafaat beliau.

7.Berjalan Menuju Masjid

Orang yang berjalan menuju masjid mendapatkan keutamaan sebagai berikut:

Peristirahatan di Surga
Hal ini ditunjukkan dalam sebuah hadits muttafaq alaih dari Abu Hurairah bahwa barang siapa yang berjalan menuju masjid maka Allah akan menyediakan untuknya tempat peristirahatan di dalam surga.

Terhapusnya dosa dan terangkatnya derajat
Dari Abu Hurairah, Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Barang siapa bersuci di rumahnya lalu beranjak menuju salah satu rumah Allah untuk melakukan kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang ditentukan Allah maka seluruh langkahnya yang satu akan menghapus kesalahannya dan yang lain akan mengangkat derajatnya." (HR Muslim)

Mendapatkan Pahala yang Sangat Besar
Dari Abu Musa Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Sesunguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh perjalanannya (ke masjid)." (Muttafaq alaih)

Mendapatkan Cahaya yang Sempurna di Hari Kiamat
Dari Buraidah Radhiallaahu anhu , dari nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,artinya,
"Orang yang berjalan menuju masjid dalam kegelapan mendapatkan kabar gembira dengan cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat."

Terampuninya dosa
Berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah yang menyebutkan ribath, dimana salah satunya adalah banyak melangkah menuju masjid, (lihat bab wudhu, sub bab terhapusnya dosa dan terangkatnya derajat)

Mendapat Pahala Shadaqah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Kalimat yang baik adalah shadaqah, dan setiap langkah yang diayunkan menuju shalat adalah shadaqah." (HR Muslim)

8.Bersegara Menuju Shaf Pertama

Mendapat Kebaikan yang Sangat Besar
Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa andaikan orang tahu apa yang diperoleh dalam shaf pertama maka mereka tentu akan berundi untuk mendapatkannya.

Meniru para Malaikat
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyebutkan bahwa shafnya para malaikat adalah, "Menyempurnakan shaf awal dan merapatkan shaf." (HR. Muslim)

Shaf Terbaik Bagi Laki-laki
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, "Sebaik-baik shaf laki-laki adalah shaf yang pertama, dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir." (HR Muslim).

Bebas dari Ancaman Nabi saw,
yang menyebutkan bahwa suatu kaum yang selalu terlambat menuju shalat maka Allah akan membuat mereka selalu berada paling belakang.

Shalawat Allah dan Malaikat untuk Shaf awal
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda, artinya,
"Sesungguhnya Allah dan malaikat Nya bershalawat kepada shaf-shaf yang pertama." (HR Abu Dawud dengan sanad hasan)

9.Sunnah Rawatib

Diantara keutamaan sunnah rawatib adalah:

Dijanjikan Rumah di dalam Surga.
Doa dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, kepada yang menjaga qabliyah Ashar, artinya,
"Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar."

10.Berdoa antara Adzan dan Iqamah.

Antara adzan dan iqamah adalah salah satu waktu mustajabah untuk dikabulkannya doa.

11.Menunggu Shalat

Menunggu shalat berdasarkan hadits-hadits Nabi saw memiliki keutamaan sebanding dengan shalat, dimintakan ampun oleh para malaikat, mengahapus dosa serta mengangkat derajat.

12.Memanfaatkan Waktu dengan Berdzikir dan Berdoa.

Orang yang datang ke masjid lebih awal dapat memanfaatkan waktu untuk bertaqarrub kepada Allah dengan berdoa, berdzikir ataupun membaca al Qur'an. Itu semua dapat menunjang kekhusyukan shalat yang akan dilakukan.

Wednesday, July 19, 2006 

PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN

Artikel Islami
10 Juli 2006 - 08:21
PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN
Oleh Dr.H. Achmad Satori


Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati.

Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia.

Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenrnya sangat banyak, Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:

1. Marah

Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.

2. Hasad

Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dar orang lain maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda:” Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli” Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.

3. Perut kenyang

Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dan gantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya. Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini? Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam.Yahya bertanya: Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ? Syetan menjawab: Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanya lagi: Apa lainnya? Tidak ada! Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata:
Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya.
Iblis berkata. Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslim selamanya.
Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:
・ Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.
・ Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.
・ Mengganggu ketaatan kepada Allah
・ Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan
・ Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.
・ Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani

4. Cinta perhiasan dan perabotan rumah tangga

Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotan rumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terus berusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasi temboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah.

5. Tergesa-gesa dan tidak melakukan receck

Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan hati-hati adalah dari Allah SWT. Allah berfirman: ”Manusia diciptakan tergesa-gesa” dalam ayat lain dditegaskan: “Sesungguhnya manusia itu sangat tergesa-gesa. Mengapa kita edilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan. Sedangkan tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.

6. Mencintai harta

Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagi syetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akan kosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akan muncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satu juta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkan tambahan lebih banyak lagi.

7. Ta’assub bermadzhab dan meremehkan kelompok lain.

Orang yang ta’assub dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangat berbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain.
Meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas. Bila syetan menghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik dan hak dalam diri orang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain dan menjelekkannya.

8. Kikir dan takut miskin.

Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalah janji orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: Sesungguhnya syaitan berkata: Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalama tiga hal perintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dar hak kewajibannya (zakat).

Sufyan berkata: Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnya manusia dari kemiskinan. Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambil harta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya.

9. Memikirkan Dzat Allah

Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.

10. Suudzon terhadap orang Islam ghibah.

Allah berfirman dalam Surat Al Hujuroot 12 sbb.:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Rasulullah pernah bersabda: Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkan prasangka buruk.

Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lain maka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasa mencari maaf dan ampunan atetpi orang munafik selalu mencari cela orang lain.

Itulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya.
Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mempu menghitus semua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusia

Sekarang bagiamana solusi dari hal ini? Apakah cukup dengan zikrullah dan mengucapkan “Laa haula wa laa quwwata illa billah”? ketahuilah bahwa upaya untuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutup semua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan di atas. Bila kita bisa memutuskan akar semua sifat tercela maka syetan mendapatkan berbagai halangan untuk memasukinya ia tidak bisa menembus ke dalam karena zikrullah. Namun perlu diketahui bahwa zikir tidak akan kokh di hati selagi hati belum dipenuhi dengan ketakwaan dan dijauhkan dari sifat-sifat tercela. Bila orang yang hatinya mamsih diliputi oleh akhlak tercela maka zikrullah hanyalah omongan jiwa yang tidak menguasai hati dan tidak akan mampu menolak kehadiran syetan. Oleh sebab itu Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. ( Al A’raaf 201)

Perumpamaan syetan adalah bagaikan anjing lapar yang mendekati anda. Bila anda tidak memiliki roti atau daging pasti ia akan meninggalkanmu walaupun Cuma menghardiknya dengan ucapan kaita. Tapi bila di tangan kita ada daging maka ia tidak akan pergi dari kita walaupun kita sudah berteriak ia ingin merebut daging dari kita. Demikian juga hati bila tidak memiliki makanan syetan akan pergi hanya dengan dzikrullah. Syahwat bila menguasi hati maka ia akan mengusir dzikrullah dari hati ke pinggirnya saja dan tidak bisa merasuk dalam relung hati. Sedangkan orang-orang muttaqin yang terlepas dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela maka ia akan dimasuki syetan bukan karena syahwat tapi karena kelalaian daari dzikrullah apabila ia kembali berdzikir maka syetan langsusng. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayat sebelumnya:

Artinya: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Al A’roof ayat 200)

Dalam ayat lain disebutkan:

Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 98-100)

Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bila Umar ra. Melewati suatu lereng maka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar.”? Karena Umar memiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidak bisa mendekat. Kendatipun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengan dzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belum membersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu syahwat, seperti orang yang meminum obat sebelum melindungi dir dari penyakit dan perut masih disibukkan dengan makanan yang kerasa dicerna. Taqwa adalah perlindungan hati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosong dari zikir maka syetan mendesak mamsuk seperti masuknya penyakit bersamaan dengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.
Allab SWT berfirman :

Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qoof 37)

WAllahu a’lamu bis showab.

-----------

 

Meneladani Allah Asy Syahiid

Jumat, 14 Juli 2006

Meneladani Allah Asy Syahiid

Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS At Taubah [9]: 105)

Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk bersikap ihsan (merasa melihat dan dilihat Allah).

Salah satu sifat Allah yang terdapat dalam Asma'ul Husna adalah Asy Syahiid atau Allah Yang Maha Menyaksikan dan Maha Disaksikan. Menurut Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya Menyingkap Tabir Illahi, kata Asy Syahiid terambil dari akar kata yang tersusun dari huruf-huruf syin, ha', dan dal. Makna dasarnya berkisar pada ;kehadiran ;pengetahuan informasi dan kesaksian".

Orang yang gugur dalam peperangan membela agama Allah dinamai syahid karena para malaikat menghadiri kematiannya. Dapat pula disebutkan bahwa bumi dinamai syahidah, sehingga yang gugur di bumi disebut syahid. Syahid berarti pula yang disaksikan atau yang menyaksikan . Syahiid disaksikan oleh pihak lain, serta dijadikan saksi dalam arti teladan . Pada saat yang sama ia pun menyaksikan kebenaran.

Allah sebagai Asy-Syahiid dapat dipahami bahwa Allah hadir, tidak gaib dari segala sesuatu, serta "menyaksikan segala sesuatu". Dalam QS Saba' [34] ayat 47 difirmankan, Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu. Allah pun "dapat disaksikan oleh segala sesuatu" melalui bukti-bukti kehadiran-Nya di dunia. Apakah ada keraguan terhadap keberadaan Allah, Dzat Pencipta langit dan bumi?" (QS Ibrahim [14]: 10).

Asy Syahid-Nya Allah; sifat Menyaksikan-Nya Allah berbeda dengan menyaksikannya manusia. Perbuatan menyaksikan Allah meliputi segala sesuatu, tidak terbatas ruang dan waktu, hingga detail yang tak mungkin dilakukan makhluk. Sebagai ilustrasi, tatkala kita menyaksikan pertandingan sepakbola, kita terikat pada satu objek, satu waktu tertentu, dan satu kondisi tertentu pula.

Apa hikmah yang dapat kita ambil dari Asy Syahiid ini? Pertama, kita dituntut berlaku ihsan dalam hidup. Termasuk melakukan segala sesuatu dengan cara terbaik. Allah SWT melihat apa yang kita lakukan, dan kelak akan memintai tanggung jawab kita terhadap semua yang kita lakukan tersebut. Karena itu, melakukan sebuah pekerjaan atau 'amal dengan kualitas terbaik, adalah sebuah keniscayaan. Rasulullah SAW mengungkapkan makna ihsan--tatkala beliau ditanyai Malaikat Jibril, "Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu".

Kedua, kita dituntut untuk menjadi saksi kebenaran atau pembela kebenaran. Allah Swt berfirman dalam QS Ath Thalaaq [65] ayat 2, Hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.

Ketiga, kita dituntut menjadi teladan kebaikan. Salah satu kunci perubahan adalah teladan. Dengan menjadi teladan, amal ibadah kita "disaksikan" orang-orang di sekitar kita. Difirmankan dalam QS At Taubah [9] ayat 105, Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". Jika kita mampu menjadi teladan kebaikan, sebagaimana diperankan Rasulullah SAW, maka ketika itu kita telah meneladani Allah dalam sifat-Nya sesuai kemampuan kita sebagai makhluk. Wallaahu a'lam.

( KH Abdullah Gymnastiar )

 

Dzikrul Maut

Jumat, 07 Juli 2006

Dzikrul Maut
KH Abdullah Gymnastiar

Ingatlah kematian. Demi Dzat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.(Rasulullah SAW)

Ada seorang teman yang rajin beribadah. Shalatnya tak lepas dari linang air mata, tahajud tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya pun diajak pula berjamaah di masjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Di antara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan doa-doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, alhamdulillah Allah berkenan melunasi utang teman tersebut.

Sayangnya begitu utang terlunasi, doanya mulai jarang serta hilang pula motivasi ibadahnya. Awalnya, kalau kehilangan shalat tahajud ia sedih bukan main. Lama-kelamaan ia malah senang karena jadwal tidur menjadi cukup. Sebelum adzan biasanya sudah ke masjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika adzan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika adzan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah.

Saudaraku sahalus-halus kehinaan di sisi Allah adalah tercerabutnya kedekatan kita dengan-Nya. Awalnya terlihat dari menurunnya kualitas ibadah. Ilmu yang dapat membuatnya takut kepada Allah tidak bertambah. Maksiat pun mulai dilakukan. bila Imam Ibnu Athaillah berkata, Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tanpa tersisa.

Kalau ibadah sudah tercerabut satu persatu, maka inilah tanda mulai tercerabutnya hidayah dari Allah. Selanjutnya mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya tak lagi terjaga, mata jelalatan tidak terkendali, emosi pun mudah membara. Apalagi tatkala shalat, yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar, mulai lambat dilakukan atau bahkan mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada Allah. Inilah yang disebut su'ul khatimah (jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau berakhir tragis seperti ini.

Kita bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut. Mengingat mati sangat efektif dalam mengerem perbuatan maksiat kita. Bagaimana kalau tiba-tiba kita mati, padahal kita sedang maksiat? Tidak takutkah kita mati su'ul khatimah? Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar dalam memelihara iman di hati.

Rasulullah SAW mengingatkan para sahabat untuk mengingat kematian. Suatu hari beliau mendapati sekumpulan orang yang sedang tertawa-tawa. Beliau bersabda, Ingatlah kematian. Demi Dzat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.

Mengingat mati akan membuat kita lebih terkendali. Ada semacam rem untuk tidak melakukan maksiat. Kita pun akan lebih terarahkan untuk melakukan hanya yang bermanfaat saja. Kalau kita lihat para 'arifin dan salafus shalih, mengingat mati bagi mereka, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Di mana seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Menjelang kematiannya, Sahabat Hudzaifah berkata lirih, "Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu.

Semoga kita digolongkan Allah SWT sebagai orang yang akan memperoleh khusnul khaatimah sebagai Pengendali

( )

Tuesday, April 11, 2006 

Proposal Nikah

KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !

Latar Belakang

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".

Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).

Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.

Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.

Dasar Pemikiran

Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :

  1. "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
  2. "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
  3. ¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
  4. Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
  5. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
  6. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
  7. Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
  8. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
  9. ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3).
  10. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
  11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
  12. Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
  13. Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).
  14. Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
  15. "Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."
  16. "Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
  17. Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
  18. Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
  19. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
  20. Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).
  21. Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).
  22. Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
  23. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).

Tujuan Pernikahan

  1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
  2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
  3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
  4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
  5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
  6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
  7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)

Kesiapan Pribadi

  1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ¡§Man Jadda Wa Jadda¡¨ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
  2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
  3. Termasuk tathhir (mensucikan diri).
  4. Secara materi, Insya Allah siap. ¡§Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¡¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7)

Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan

  • Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
  • Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
  • Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
  • Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
  • Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik

Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :

  • Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
  • Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
  • Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
  • Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.

Memperbaiki Niat :

Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.

Niat Ketika Memilih Pendamping

Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).

"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).

Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).

Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ¡§Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan

Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).

Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..

Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.

Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),

Meraih Pernikahan Ruhani

Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.

Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)

Penutup

"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"

 

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT

Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga: Keluarga, Hartanya, Dan Amalnya.

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu Tinggal Bersamanya; Keluarga Dan Hartanya Akan Kembali Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Ketika Roh Meninggalkan Jasad...
Terdengar Suara Dari Langit Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia,
Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat
Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih
Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar
Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara

Ketika Mayat Siap Dikafan...
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha Allah
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu
Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."

Ketika Mayat Diusung....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

Ketika Mayat Siap Dishalatkan.... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat....
Terdengar Suara Memekik Dari Langit,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia
Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini
Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Dahulu Kau Tertawa Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian....
Allah Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku..... Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap.. Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku Hari Ini,.... Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya. Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, "Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku

Anda Ingin Beramal Shaleh...?
Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal...