Jumat, 20 Oktober 2006
Manusia Tertipu
Salah satu asma Allah adalah Al 'Alim atau Allah Yang Mahatahu. Dia mengetahui segala-galanya. Walau ada semut hitang berjalan di batu hitam di tengah gulitanya malam, sungguh Allah tetap mengetahuinya dengan teramat detail. Demikian pula, Allah Mahatahu segala yang kita lakukan, sekecil apa pun, entah itu lirikan mata, lintasan niat dalam hati, harta yang dinafkahkan, dsb. Allah Mahatahu segalanya. Maka keyakinan kita akan kemampuan Allah dalam mengetahui akan membuat kita terjaga.
Dalam QS Al An'am [6] ayat 59, Allah SWT berfirman, Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).
Saudaraku, ketika kesadaran akan kemahatahuan Allah lemah, maka kita akan terjebat pada ketertipuan dalam amal. Agama menyebutnya ghurur. Penyakit ini bisa menyerang semua segi amaliyah sehingga tidak lagi berarti di hadapan Allah. Dalam bab ilmu misalnya. Ada empat jenis orang yang tertipu berkaitan dengan ilmu yang dimilikinya.
[1] Ada yang berilmu, namun ia tapi tidak melaksanakan ilmunya. Ia merasa terhormat dengan jabatan dan gelar-gelar keilmuannya. Ia yakin akan selamat dunia akhirat. Padahal, ilmu itu pemandu amal. Tidak berguna ilmu tanpa diamalkan.
[2] Ada orang berilmu dan ia mengamalkan ilmunya, namun ia tidak pernah menjaga niatnya. Padahal amal itu tidak hanya harus sah (rukunnya dilakukan) tapi juga harus diterima. Nah, diterima ini urusan niat.
[3] Ada pula yang tahu ilmu dan mau mengajarkannya kepada orang lain, namun ia sendiri tidak mampu mengamalkannya. Misal, ceramah mengajak orang lain berbuat kebaikan, namun ia tidak melaksanakannya. Dakwah yang baik itu bukan memperbaiki orang lain, tapi memperbaiki diri. Orang semacam ini sungguh tertipu. Ia bagaikan lilin, menerangi yang lain namun dirinya terbakar.
[4] Ada yang memiliki ilmu. Namun sayang, ia mengklaim diri dan kelompoknya paling shalih. Sehingga surga diklaim miliknya. Sungguh orang ini tertipu. Bukankah dimensi agama itu luas, sehingga tidak mungkin diborong sendiri?
Ada pula ghurur dalam bab ibadah. Ghurur ini ada yang dari niat. Ia berulang-ulang takbir. Ada pula yang shalatnya disibukkan dengan urusan tajwid dan makhraj, tapi mengabaikan makna. Shalat khusyuk tidak sekadar benar bacaannya, tapi juga derajat thuma'ninah dan penghayatan bacaan. Ada juga yang tertipu waktu shalat, terlalu cepat bacaannya. Tangisan dalam shalat juga bisa menipu. Ada yang nangis betulan karena Allah, tapi ada kegembiraan ketika diketahui orang lain. Ada shalat yang lama, tapi ingin menyaingi orang di sebelahnya. Mahasuci Allah yang mengetahui isi hati.
Ada juga ghurur dalam ceramah. Ada yang mengutip kitab-kitab, karena ingin disangka pandai. Termasuk pula rendah hati. Dalam Hikam disebutkan, "Siapa yang merasa rendah hati, dan ia merasa mulia dengan rendah hati, hakikatnya ia telah sombong". Saat orang merasa mulia ketika melakukan sesuatu, maka sebenarnya ia menganggap tidak layak melakukan hal tersebut.
Kenapa sampai tertipu? Sebab orientasi kita makhluk, bukan Al-Khaliq. Semakin kita ingin dinilai makhluk, maka semakin tertipu diri kita. Menyuruh orang lain sabar, belum tentu kita sabar. Sebelum kita berlatih mengamalkannya. Dengan berkata, belum tentu kita mendapatkan apa yang kita katakan.
Saudaraku, semua amalan berpeluang tertipu, kalau belum Allah yang menjadi tujuannya. Maka kita harus berjuang keras agar kita masuk ketitik yakin, bahwa Allah Mahatahu segalanya dan akan memperhitungkan semua yang kita lakukan. Orientasi kita diterima Allah. Apapun kita lakukan asal diterima Allah. Walau menurut pandangan manusia itu hina. Rasa jengkel adalah buah dari pengharapan kita kepada makhluk. Allah Mahatahu isi hati kita. Jaga niat, cukup hanya Allah Yang Mahatahu.
( KH Abdullah Gymnastiar )