Wednesday, August 30, 2006 

Menyiasati Usia Pendek

"Umur umatku berkisar antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu." (HR. At-Tirmidzi3550, Ibnu Hibban 7/246 dan Ibnu Majah 4236, shahih).

Menetapkan usia adalah hak prerogatif Allah. Adalah hak Allah menetapkan usia seseorang pendek atau panjang. Nabi Adam as, bapak segenap umat manusia berusia 1000 tahun. Nabi Nuh as berusia 950 tahun. Dan rata-rata kaum para nabi terdahulu itu juga memiliki usia yang panjang.

Berbeda dengan umat terdahulu, umat Nabi Muhammad SAW usianya singkat dan terbatas. Rata-rata di bawah usia 70 tahun. Panjang pendek usia tak bisa ditawar, meski sepersekian detik. Al-Qur'an menegaskan (yang artinya):

"Maka bila telah datang ajal, mereka tidak dapat menundanya barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya." (Al-A'raf: 34).

Dan yang pasti, tak mungkin ada lagi manusia yang mencapai usia 1000 tahun, seperti yang dimiliki umat terdahulu. Jika dikalkulasi, kurang lebih masa produktif umur manusia sekarang adalah 20 tahun. Bila umur seseorang 60 tahun, maka untuk tidur saja ia perlukan 20 tahun jika tiap harinya ia tidur delapan jam. Lalu, 15 tahun adalah masa kanak-kanak, puber dan penyesuaian. Untuk makan, buang hajat, transportasi, istirahat dan hal-hal privacy lainnya menghabiskan 2-3 jam perharinya. Jika ditotal memakan usia sekitar 5 tahun. Sepertiga sisa usianya (20 tahun) inilah yang harus ia pertaruhkan untuk bisa produktif. Produktif untuk kepentingan dunia dan akhiratnya. Yang kelak pada hari Kiamat, sama-sama dipertanggungjawabkan dengan mereka yang berusia 1000 tahun.

Mungkin di antaranya karena dikejar usia, manusia modern berusaha produktif, efisien dan efektif. Saking produktifnya, ada orang yang merasa kurang dengan rotasi waktu 24 jam. Dengan kemajuan teknologi, secara aktivitas duniawi manusia sekarang bisa jadi telah melampaui batas efisiensi usia hingga 1000 tahun. Segala sesuatu dibuat serba instan, praktis, cepat dan otomatis; makanan, minuman, barang-barang elektronik hingga produk ilmu pengetahuan. Hal yang jauh berbeda dengan saat nenek moyang kita dahulu. Di mana untuk keperluan domestik, seperti sandang, pangan, papan dan transportasi mereka harus berjuang keras menaklukkan ganasnya alam dan perlu waktu hingga bertahun-tahun. Kita bersyukur dengan anugerah kemenangan duniawi ini. Pertanyaannya adalah, bagaimana agar kemenangan kita sebagai manusia modern tidak saja sebatas dalam urusan dunia tapi juga dalam kehidupan akhirat?

Al-Qur'an sering menganalogkan kehidupan akhirat dengan perdagangan atau bisnis. (QS.2:16; 61:10-11). Artinya, diperlukan kecermatan untuk menangkap peluang-peluang yang mendatangkan pahala sebagai deposito akhirat. Oleh Al-Qur'an, sering pula kita disentil dengan ungkapan-ungkapan agar kita lebih produktif, efisien dan efektif dalam urusan akhirat. Misal, firman Allah SWT, yang artinya:

"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat pula balasannya." (QS. 99; 7-8)

Jika dicermati, karakter kualitas pahala yang melimpah ruah bagi umat Muhammad SAW adalah sangat relevan dengan karakter manusia modern. Yaitu serba ekonomis, instan, praktis dan penuh produktifitas. Meski dengan usia sangat pendek, umat Muhammad SAW -dengan rahmat Allah- sangat potensial memproduksi pahala berkali lipat dibanding umat terdahulu yang berusia hingga ribuan tahun. Umat ini banyak diberi keistimewaan pahala yang tidak diberikan kepada umat terdahulu.

Sebagaimana diinformasikan Nabi SAW, banyak proyek kebaikan yang mendatangkan pahala berlipat-lipat. Di antaranya adalah memperbanyak shalat di Masjidil Haram (MH) dan Masjid Nabawi (MN).

Dari Jabir ra. Rasulullah SAW bersabda: "Shalat di masjidku ini lebih baik seribu kali daripada shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih baik (daripada shalat di tempat lain) sebanyak seratus ribu kali." (HR: Ahmad, Shahih)

Di MH pahalanya dilipatkan 100.000 kali. Di MN dilipatkan 1000 kali. Kalkulasi perbandingannya begini. Orang yang setiap hari shalat rawatib 12 rakaat di selain MH satu tahun ia baru mendapatkan 4320 rakaat. Sedang dua rakaat di MH sama dengan 200.000 rakaat. Artinya, untuk mendapatkan pahala shalat 200.000 rakaat di selain MH -padahal di MH cukup dua rakaat- diperlukan waktu selama 40 tahun tiga bulan, dengan shalat rawatib tiap harinya 12 rakaat.

Bila seorang haji aktif shalat jamaah di MH selama 15 hari berikut shalat rawatib maka nilainya sama dengan shalat 43.500.000 rakaat di luar MH, belum lagi hitungan shalat jamaahnya. Artinya, sama dengan ia shalat di luar MH ( sebanyak 17 rakaat shalat wajib dan 12 rakaat rawatib) selama 4166 tahun lebih enam bulan. Soal jamaah shalat di masjid, Nabi SAW menyebutkan pahalanya lebih utama 27 derajat dari shalat sendirian. (HR. Bukhari Muslim). Artinya, bila ada dua orang yang satu biasa shalat sendirian dan lainnya selalu berjamaah sepanjang hidupnya maka seakan-akan umur yang selalu berjamaah lebih panjang 27 kali dari kawannya. Bila ia biasa berjamaah sejak usia 15 tahun dan usianya 60 tahun, itu artinya ia seperti berusia 1215 tahun, sedang temannya tetap berusia 60 tahun.

Dalam hal shalat, muslimah memiliki keutamaan yang sangat spesial. Sebab shalatnya di rumah lebih baik daripada shalat jamaah di masjid, sekalipun Masjid Nabawi. (HR. Ahmad, shahih).

Dari Istri Abu Sa'id al-Khudri, ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: Ya Rasulallah, saya lebih suka shalat bersamamu. Rasul SAW menjawab: " Saya tahu bahwa kamu shalat bersamaku, dan shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalat di hujrahmu, shalatmu di hujrahmu lebih baik dari shalat di daar mu, shalat di daarmu lebih baik daripada shalat di masjid kaummu, shalat di masjid kaummu lebih baik daripada shalat di masjidku…..(HR: Ahmad 27135).

Artinya, dengan menjaga shalat lima waktu saja, seorang muslimah seakan memiliki usia 27 kali lebih panjang dalam hal kebaikan. Proyek shalat lain yang sarat pahala adalah shalat sunnah di rumah. Shalat sunnah di rumah berpahala 25 kali lipat dibanding shalat di masjid atau jika dilihat orang lain. (HR. Abu Ya'la, shahih).

Hari Jum'at juga merupakan musim panen pahala yang melimpah ruah. Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa membasuh dan mandi pada hari Jum'at, lalu bergegas berangkat, berjalan dan tidak berkendaraan, dekat dengan imam, mendengarkan dan tidak berbicara (saat khutbah), maka dia mendapat pahala amal selama setahun dengan setiap langkah kaki yang diayunkannya dari rumah hingga ke masjid, yaitu pahala puasa dan shalat malamnya." (HR. Abu Daud, shahih). Jika sekali saja adab Jum'at yang mudah di atas kita laksanakan dan jarak rumah kita dengan masjid 1000 langkah kaki, maka Allah akan menetapkan bagi kita pahala puasa dan shalat malam selama 1000 tahun.

Dan bila hal itu kita lakukan sepanjang tahun berapa kali lipat pahala ditangguk? Subhanallah

Sumber : Ainul Haris, Lc., Buletin Jum'at Ar-Risalah Tahun III No. 30

 

Pentingnya Menjaga Sholat Lima Waktu

Wajib Sholat Lima Waktu

Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Ash-sholatu 'imaa dud-dini faman aqomaha faqod aqomad-dina waman tarokaha faqod hadamad-dina".

Artinya :

Bermula bahwasanya sholat lima waktu itu tiang agama, maka barang siapa mendirikan sholat maka sesungguhnya ia mendirikan agama, barang siapa yang meninggalkan sholat maka sesungguhnya ia telah merubuhkan agamanya.

Dan Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Man tarokash-sholata 'andan faqod kafaro jiharon".

Artinya :

Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja maka kafirlah ia dengan nyata.

Dan Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Awwalu maa yuhasabu bihil 'abdu yaumal kiyamati min 'amalihi sholatuhu fain sholuhat faqod aflaha wa anjaha wa in naqosot faqod khoba wakhosiro".

Artinya :

Mula-mula diperiksa akan amal-amal si hamba di hari qiyamat itu sholatnya, maka jika sholatnya itu sempurna maka telah beruntunglah ia dengan diterimanya lain-lain amalnya pula, jika sholatnya kurang maka sesungguhnya rugilah ia dan sia-sialah lain-lain amalnya adanya.

Dan Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Man hafadzo 'alash-sholati akromahullohu ta'ala bihomsati khisholin yarfa'u 'anhu dhoiqul ma'isyati wa'azabul qobri wayu'thihillahu ta'ala kitabuhu biyaminihi wayamurru 'alash-shiroti kalbarqi wayadkhulul jannata bighoiri hisab".

Artinya :

Barang siapa memelihara sholat lima waktu maka dimulyakan oleh Alloh Ta'ala dengan lima perkara : pertama dijauhkan daripada kesempitan rizkinya, kedua ia tiada kena siksa kubur, ketiga dihari qiyamat diberi kitab segala amalnya ditangan kanan, keempat jalan di atas shirhotol (jembatan) seperti kilat, kelima masuk syurga tiada dengan hisab.

Dan Sabda Nabi Sallollohu 'Alaihi Wasallam :

"Waman tahawana bish-sholati 'aqobahullohu ta'ala bikhomsa 'asyrota 'uqubatan khomsun fid-dun-ya wasalasatun 'indal mauti, wasalasatun fi qobrihi, wasalasatun 'inda khurujihi minal qobri".

Artinya :

Barang siapa meninggalkan sholat dengan tiada uzur maka akan dibalas akan dia dengan lima belas siksaan, bermula lima daripada itu didalam dunia dan yang tiga ketika ia lagi mati, dan yang tiga didalam kuburnya, dan yang tiga diwaktu bangkit dari kuburnya.

Makna hadist ini hingga akhir:

Adapun lima rupa siksa yang didalam dunia adalah:

1. Hilang berkah pada umurnya.
2. Dihilangkan tanda-tanda orang soleh dari mukanya.
3. Tiap-tiap amalnya yang soleh tiada keterima.
4. Tiada dikabulkan do'anya,
5. Tiada dapat bagian do'a orang yang soleh.

Adapun yang tiga dari siksa itu ketika ia hendak mati maka adalah:

1. Ia mati hina.
2. Mati dengan terlalu lapar.
3. Mati dengan terlalu dahaga sekalipun diberi minum sekalian air didunia ini maka tiada akan menghilangkan dahaganya.

Adapun siksa yang didalam kuburnya adalah:

1. Ia dijepit oleh kuburnya hingga bersalah-salahan tulang iganya.
2. Dinyalakan api didalam kuburnya sehingga ia berbalik-balik didalam kubur diatas barah api siang dan malam.
3. Ia disiksa pula oleh malaikat syaja'il aqro', dimana dua mata malaikat itu dari api dan segala kuku-kuku dari besi yang menyala, suaranya seperti halilintar, dan ia berkata : "aku diperintah akan memukul engkau, engkau hilangkan sholat shubuh sampai terbit matahari, engkau hilangkan sholat zhuhur sampai waktu ashar, engkau hilangkan sholat ashar sampai waktu maghrib, engkau hilangkan waktu maghrib sampai waktu isya, dan engkau hilangkan sholat isya sampai waktu fajar" lalu ia memukul, tiap-tiap sekali pukulan terpendamlah orang itu kedalam bumi tujuh puluh hasta dan disiksa ia sampai hari qiyamat.

Adapun siksa waktu bangkit kubur adalah:

1. Ia sangat mendapat hisab.
2. Mendapat murka Alloh.
3. Ia dimasukkan kedalam neraka.

Maka lihatlah dan dengarlah bagaimana halnya orang yang menta'khirkan sholat sampai luput waktunya, begitu keras siksanya. Apalagi jika meninggalkan sholat tanpa udzur. Marilah kita sama-sama memperhatikan sholat lima waktu kita.

Sunday, August 20, 2006 

Meraup Pahala Menjelang Shalat

Mempersiapkan diri untuk shalat artinya mempersiapkan sebuah pekerjaan yang sangat besar dan mulia. Maka persiapan shalat di dalam Islam memiliki keutamaan tak terhingga yang dengannya seorang muslim dapat menuai kebaikan dan pahala yang tak berbilang.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu kita perhatikan sebelum kita shalat, semoga kita dapat merealisasikannya sehingga berhak memperoleh berbagai keutamaan dan kebaikan yang amat banyak.

1. Berwudhu

Diantara keutamaan wudhu adalah sebagai berikut:

Kecintaan Allah, sebagaimana firman-Nya, artinya, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. 2:222)

Dosa Berguguran Bersama air wudhu

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, maka tatkala ia membasuh wajahnya keluarlah dari wajahnya seluruh dosa yang dilakukan matanya bersamaan dengan air itu atau dengan tetesan terakhirnya. Apabila dia membasuh dua tangannya maka akan keluar seluruh dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air itu atau tetesan air yang terakhir. Apabila dia membasuh dua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang telah dilangkahkan oleh kakinya bersama air atau tetesannya yang terakhir sehingga dia selesai wudhu dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (HR. Muslim)

Anggota Wudhu bercahaya di Hari Kiamat

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Sesungguhnya umatku dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjilin (wajahnya bercahaya dan badannya bersinar) karena bekas wudhu, maka barang siapa mampu untuk memanjangkan ghurrah hendaklah melakukannya." (HR al Bukhari dan Muslim).

Dosa Terhapus dan Derajat Terangkat

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat?" Para sahabat menjawab, Tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabada,
"Menyempurnakan wudhu' dalam keadaan tidak disukai (seperti cuaca sangat dingin -red), memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah shalat, dan itulah ribath.' (HR Muslim)

Yang dimaksud ar-ribath (ikatan) adalah karena amalan-amalan itu mengikat yang bersangkutan dari berbagai kemaksiatan dan dosa. Sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa selalu ingat tali yang melingkar dileher musuh, karena ingin mendapatkan syahid dan ampunan Allah. Wallahu a'lam.

Dosa Terampuni dan Masuk Surga

Utsman bin Affan ra, dia berwudhu lalu berkata, "Aku melihat Rasulullah saw berwudhu seperti wudhuku ini lalu bersabda, "Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini lalu shalat dua rakaat tanpa berbicara sesuatu terhadap diri sendiri dalam dua rakaat itu maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Muslim)

Uqbah bin 'Amir Radhiallaahu anhu berkata, Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah seseorang berwudhu lalu membaguskan wudhunya dan shalat dua rakaa'at, hati dan wajahnya khusyu' pada dua rakaat itu kecuali wajib baginya Surga." (HR al-Bukhari dan Muslim)

2. Dzikir Setelah Wudhu

Dzikir setelah wudhu juga memiliki keutamaan yang sangat besar, diantaranya adalah:

Bebas Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja.
Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu, Rasulullah saw bersabda, artinya,
"Tidakalah salah seorang diantara kalian berwudhu, lalu membaguskan wudhunya kemudian mengucapkan, 'Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh', kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan lalu dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia inginkan." (HR Muslim)

Ditulis dalam Lembaran Yang tidak rusak hingga hari Kiamat

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, "Barang siapa berwudhu lalu mengucapkan, "Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an la ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik, maka akan ditulis di dalam lembaran lalu di kunci dan tidak akan rusak hingga Hari Kiamat." (HR ath-Thabrani dalam al Ausath, sebagimana dikatakan al Mundziri dalam at-Targhib)

3. Bersiwak

Siwak adalah kebersihan bagi mulut dan mendatangkan keridhaan Allah, sebagaimana hadits yang bersumber dari Aisyah ra dia berkata bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Siwak adalah kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb."

4.Bersegera Menuju Shalat

Nabi saw bersabda, artinya, "Andaikan orang-orang mengetahui apa (kebaikan) yang ada pada adzan dan shaf awal lalu mereka tidak mendapati kecuali dengan mengundinya tentu mereka akan mengundi, dan andaikan mereka tahu apa yang diperoleh ketika bersegera menuju shalat maka tentu mereka akan berlomba menuju ke sana." (Muttafaq 'alaih)

Hal ini juga merupakan bukti ketergantungan hati kita dengan masjid yang dijanjikan oleh Rasulullah saw mendapatkan naungan dari Allah pada Hari Kiamat.

5.Meniru ucapan Muadzin

Menirukan muadzin memiliki keutamaan yang tidak ternilai, yaitu masuk surga.
Dalam hal ini bukan sekedar menirukan, akan tetapi dengan segenap hati, memahami dengan benar maknanya serta mengamalkan apa yang dia ucapkan itu. Diantara hadits yang menjelaskan hal itu adalah yang diriwayatkan Abu Hurairah ra dia berkata, "Kami bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lalu Bilal berdiri mengumandangkan adzan, ketika bilal diam beliau bersabda, "Barang siapa yang mengucapkan seperti yang diucapkan Bilal ini dengan yakin niscaya masuk surga." (HR Ahmad, an Nasai dan Ibnu Hibban)

6.Dzikir Setelah Adzan

Dzikir setelah adzan memiliki keutamaan sebagai berikut:

Dosa Terampuni
Dari Sa'ad bin Abi Waqash, Dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Barang siapa ketika mendengar adzan mengucapkan, "Wa ana asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluhu, radhitu billahi rabba, wabil islami diina, wa bimuhammadin rasula, maka Allah akan mengampuni dosanya." (HR Muslim)

Mendapatkan syafa'at Nabi saw
Jabir bin Abdillah meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda bahwa barang siapa ketika mendengar adzan mengucapkan, "Allahumma rabba hadzihid da'watit taammah... dan seterusnya maka berhak mendapatkan syafaat beliau.

7.Berjalan Menuju Masjid

Orang yang berjalan menuju masjid mendapatkan keutamaan sebagai berikut:

Peristirahatan di Surga
Hal ini ditunjukkan dalam sebuah hadits muttafaq alaih dari Abu Hurairah bahwa barang siapa yang berjalan menuju masjid maka Allah akan menyediakan untuknya tempat peristirahatan di dalam surga.

Terhapusnya dosa dan terangkatnya derajat
Dari Abu Hurairah, Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Barang siapa bersuci di rumahnya lalu beranjak menuju salah satu rumah Allah untuk melakukan kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang ditentukan Allah maka seluruh langkahnya yang satu akan menghapus kesalahannya dan yang lain akan mengangkat derajatnya." (HR Muslim)

Mendapatkan Pahala yang Sangat Besar
Dari Abu Musa Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Sesunguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh perjalanannya (ke masjid)." (Muttafaq alaih)

Mendapatkan Cahaya yang Sempurna di Hari Kiamat
Dari Buraidah Radhiallaahu anhu , dari nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,artinya,
"Orang yang berjalan menuju masjid dalam kegelapan mendapatkan kabar gembira dengan cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat."

Terampuninya dosa
Berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah yang menyebutkan ribath, dimana salah satunya adalah banyak melangkah menuju masjid, (lihat bab wudhu, sub bab terhapusnya dosa dan terangkatnya derajat)

Mendapat Pahala Shadaqah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Kalimat yang baik adalah shadaqah, dan setiap langkah yang diayunkan menuju shalat adalah shadaqah." (HR Muslim)

8.Bersegara Menuju Shaf Pertama

Mendapat Kebaikan yang Sangat Besar
Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa andaikan orang tahu apa yang diperoleh dalam shaf pertama maka mereka tentu akan berundi untuk mendapatkannya.

Meniru para Malaikat
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyebutkan bahwa shafnya para malaikat adalah, "Menyempurnakan shaf awal dan merapatkan shaf." (HR. Muslim)

Shaf Terbaik Bagi Laki-laki
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, "Sebaik-baik shaf laki-laki adalah shaf yang pertama, dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir." (HR Muslim).

Bebas dari Ancaman Nabi saw,
yang menyebutkan bahwa suatu kaum yang selalu terlambat menuju shalat maka Allah akan membuat mereka selalu berada paling belakang.

Shalawat Allah dan Malaikat untuk Shaf awal
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda, artinya,
"Sesungguhnya Allah dan malaikat Nya bershalawat kepada shaf-shaf yang pertama." (HR Abu Dawud dengan sanad hasan)

9.Sunnah Rawatib

Diantara keutamaan sunnah rawatib adalah:

Dijanjikan Rumah di dalam Surga.
Doa dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, kepada yang menjaga qabliyah Ashar, artinya,
"Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar."

10.Berdoa antara Adzan dan Iqamah.

Antara adzan dan iqamah adalah salah satu waktu mustajabah untuk dikabulkannya doa.

11.Menunggu Shalat

Menunggu shalat berdasarkan hadits-hadits Nabi saw memiliki keutamaan sebanding dengan shalat, dimintakan ampun oleh para malaikat, mengahapus dosa serta mengangkat derajat.

12.Memanfaatkan Waktu dengan Berdzikir dan Berdoa.

Orang yang datang ke masjid lebih awal dapat memanfaatkan waktu untuk bertaqarrub kepada Allah dengan berdoa, berdzikir ataupun membaca al Qur'an. Itu semua dapat menunjang kekhusyukan shalat yang akan dilakukan.