Thursday, March 16, 2006 

Membangun Kewibawaan cara Rasulullah

Jumat, 24 Februari 2006

Membangun Kewibawaan cara Rasulullah

Tidak ada manusia yang demikian besar pengaruhnya selain Rasulullah SAW. Pengaruhnya tidak hanya dirasakan para sahabat dan orang-orang yang hidup sezaman, tapi juga dirasakan oleh orang-orang yang terpaut ribuan tahun dengan beliau. Hal ini menggambarkan betapa luar biasanya sosok Muhammad Rasulullah SAW.

Mengapa Rasulullah SAW memiliki pengaruh luar biasa? Sebabnya, Rasulullah SAW sangat efektif dalam berdakwah. Dan efektifitas ini sangat dipengaruhi oleh besarnya wibawa yang beliau miliki. Ya, Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat berwibawa. Kata-katanya didengar, perilakunya diteladani, dan perintahnya diikuti.

Dengan wibawanya, beliau pun bisa mengubah orang tanpa menyakiti. Luar biasa.

Pertanyaannya, mengapa beliau berwibawa? Ada lima penyebab. Pertama, sesuainya antara ucapan dengan perbuatan. Rasulullah SAW adalah sosok yang memiliki integritas tinggi. Tidak ada satu riwayat pun, yang shahih, yang menyebutkan bahwa beliau pernah berdusta, ingkar janji, atau menyia-nyiakan amanah.

Saat Rasul memerintahkan sesuatu kepada para sahabat, maka beliaulah orang pertama yang melakukan perbuatan tersebut. Bagaimana pun sulitnya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah menunggu seseorang hingga tiga hari, karena beliau telah berjanji dengan orang tersebut.

Kedua, tidak melakukan banyak kesalahan. Rasulullah SAW adalah pemimpin sempurna sehingga jarang sekali melakukan kesalahan. Orang pun menjadi kagum dan percaya kepada beliau. Walau demikian, tatkala melakukan kekeliruan, Rasul berbesar hati mengakuinya. Beliau pun tidak segan-segan menuruti nasihat para sahabatnya bila memang pendapatnya dianggap lebih baik.

Satu pelajaran penting dari poin dua ini bahwa kita pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang meminta maaf, segera mengevaluasi diri, segera memperbaiki diri, dan bertanggung jawab serta rela menanggung semua akibat yang ditimbulkan. Yang tak kalah penting, kita jangan mengulangi kesalah tersebut berulang-ulang. Sekali dua kali orang masih percaya. Namun tiga, empat, atau lima kali kita melakukan kesalahan yang sama, orang pun tak akan lagi melihat kita.

Ketiga, tidak emosional. Rasulullah SAW adalah sosok yang terkenal sangat tenang, santun dan tegas. Dalam kondisi apapun beliau tetap tenang, sehingga setiap keputusannya selalu tepat. Walaupun harus marah, maka marah beliau proporsional, tepat sasaran dan tidak merugikan.

Sebenarnya, berbeda antara marah dan tegas. Kalau marah itu berdasarkan nafsu, sedangkan tegas berdasarkan adil. Seorang pemimpin yang emosional dan pemarah akan jatuh wibawa di hadapan orang yang dipimpinnya. Ia tidak akan dicintai, tapi ditakuti. Kata-katanya mungkin didengar, tapi tidak akan diikuti. Sikap seperti ini jauh dari pribadi Rasulullah SAW.

Keempat, tidak banyak bicara dan humor. Ucapan Rasulullah SAW bagaikan butiran intan permata. Tidak ada yang sia-sia. Semua ucapannya berkualitas tinggi hingga diabadikan dalam kitab-kitab hadis. Kalau pun harus humor atau bercanda, maka humornya tersebut berkualitas dan tidak dibumbui dusta. Mengapa demikian? Beliau mengajarkan bahwa setiap yang kita ucapkan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Kelima, konsisten, teguh pendirian dan tidak plinplan. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan kebenaran. Beliau teguh pendirian dalam menyebarkan cahaya Islam, walau nyawa taruhannya. Ada ungkapan beliau yang sangat terkenal, "Walau matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tak akan mundur dari jalan dakwah ini". Luar biasa. Rasulullah SAW mengucapkannya ketika orang-orang kafir Quraisy meminta agar beliau menghentikan dakwahnya. Demikianlah, tanpa keteguhan sikap, mustahil Islam bisa sampai kepada kita.

Semoga kita bisa meneladani Rasulullah SAW dengan menjadi manusia berwibawa, sehingga kita bisa mengubah orang lain secara efektif. Amin.

( KH Abdullah Gymnastiar )

 

Cinta Akhirat & Produktivitas Hidup

Jumat, 10 Maret 2006

Cinta Akhirat & Produktivitas Hidup

Andaikan nur keyakinan itu telah menerangi hatimu, niscaya engkau dapat melihat akhirat itu lebih dekat kepadamu sebelum engkau melangkahkan kaki kepadanya. Engkau pun akan melihat semua kecantikan dunia telah diliputi kesuraman yang akan menghinggapinya. (Imam Ibnu Atha'ilah)

Suatu ketika Rasulullah SAW berjumpa seorang pemuda dari kalangan Anshar, Haritsah namanya. "Bagaimanakah keadaanmu hari ini, wahai Haritsah?" tanya Rasul.
"Saya kini menjadi seorang Mukmin yang sungguh-sungguh," jawab Haritsah. "Wahai Haritsah, hati-hati dengan perkataanmu. Sebab setiap ucapan harus ada bukti hakikinya".
"Ya Rasulullah jiwaku jemu dari dunia, sehingga saya bangun malam dan puasa di siang hari. Kini, seolah-olah saya berhadapan dengan Arasy, dan melihat ahli syurga sedang saling menziarahi, sebagaimana aku melihat ahli neraka sedang menjerit-jerit di dalamnya".
Rasul kemudian bersabda, "Engkau telah melihat, maka tetapkanlah (jangan berubah). Engkau seorang hamba yang telah diberi cahaya iman dalam hati". Haritsah berkata, "Ya Rasulullah, doakan aku agar mati syahid". Rasul pun berdoa seperti diminta Haritsah. Di kemudian hari, Allah SWT mengabulkan doa Rasulullah SAW. Haritsah gugur sebagai syuhada.

Saudaraku, bila cahaya keyakinan telah bersemayam di hati, maka akhirat akan terasa dekat, seperti dekatnya sebuah benda di depan mata. Itulah yang dialami Haritsah saat berdialog dengan Rasulullah SAW. Akibatnya, dunia tidak lagi berarti di hadapannya. Walaupun harus mencari dunia, maka dunia tersebut akan ia ditujukan sebesar-besarnya untuk meraih kebahagiaan di akhirat.

Orang-orang yang memiliki keyakinan seperti itu, akan selalu berhitung tentang akhirat. Baginya, dunia hanya menarik sebagai bekal untuk akhirat. Saat melihat uang, yang terpikir di benaknya bukan bagaimana memuaskan nafsu dengan uang tersebut. Ia justru berpikir bagaimana uang tersebut bisa menyelamatkannya di akhirat kelak.

Uang tidak membuatnya tertarik membuat rumah di dunia, ia tertarik untuk membuat bangunan di syurga. Uang menjadikannya lebih bersemangat untuk dekat dengan Rasulullah SAW di akhirat. Rasul bersabda bahwa orang-orang yang peduli kepada anak yatim kedudukannya dengan Rasul bagaikan dekatnya dua jari tangan. Maka, para pecinta akhirat akan menjadi penyantun anak yatim yang ikhlas. Intinya, siapa pun yang mencinta kehidupan akhirat, maka ia akan ringan beramal.

Tidak ada amal yang berat baginya. Sebab, semakin berat amal, maka akan semakin dekat ia dengan akhirat yang didambakannya. Cinta akhirat tidak harus menjadikan seseorang menjauhi hiruk pikuk dunia, hidup menyendiri dan tidak peduli dengan dunia luar. Cinta akhirat harus menjadikan seseorang lebih produktif berkarya.

Pecinta akhirat hidupnya tidak tergantung kepada apapun selain kepada janji Allah. Ia tidak bergantung pada gaji. Ia tidak terlalu yakin dengan harta, pangkat, jabatan, ketenaran dan segala aksesoris dunia. Ia hanya yakin akan janji Allah yang pasti dan kekal sifatnya. Karena itu, kita harus mati-matian mencari sesuatu yang kekal jaminannya. Maka bertanyalah selalu, apa sebetulnya yang kita cari di dunia ini: uang, jabatan, atau apa. Kalau itu yang kita cari, betapa kecilnya cita-cita kita.

Harusnya yang kita kejar adalah cinta dan ridha Allah. Fokuskan semua energi diri hanya untuk meraih cinta dan ridha Allah. Bila Allah sudah ridha, insya Allah dunia akan kita dapatkan. Allah akan menjaga, menjamin, mencukupi semua kebutuhan hamba-hamba yang dicintai-Nya.

Maka, pastikan tidak ada satu amal pun yang dicintai Allah kecuali kita menjalankannya. Ada satu rumus yang harus selalu kita camkan: kalau Allah mencintai sebuah amal, maka yakinlah amal tersebut pasti terbaik dan bermanfaat bagi hamba-Nya. Harusnya kita sedih dan gelisah tatkala kehilangan sebuah amal yang dicintai Allah. Pastikan pula amal-amal kita seratus persen untuk Allah. Niat yang salah pasti akan mendatangkan kekecewaan. Wallaahu a'lam.

( )